PKL: Jangan Kambing Hitamkan Kami

Kota Padangsidimpuan

SIDIMPUAN – Pedagang Kaki Lima (PKL) yang tergabung dalam Ikatan Pedagang Kaki Lima Salumpat Saindege (IPKLSS) dan Ikatan Pedagang Kaki Lima Saroha (IPKLS), menilai mahasiswa yang berunjuk rasa di kantor Satpol PP, Rabu (29/10) lalu, tidak memiliki bukti akurat soal pungutan liar. Hal itu membuat unjuk rasa terkesan mengambinghitamkan PKL.

“Jangan kambing hitamkan kami kepada Satpol PP. Tidak pernah kami merasakan pungutan liar. Dari mana datangnya pungutan liar itu! Di mana tugas mereka (GMPBS) sebagai mahasiswa, seharusnya ada dulu pembuktian baru melakukan aksi unjukrasa,” tegas para pengurus IPKLSS dan IPKLS saat memberikan tanggapan terkait dengan aksi unjuk rasa yang dilakukan Gerakan Mahasiswa Padangsidimpuan Bersatu (GMPBS), yang menuntut Kakan Satpol PP, Samadi, turun dari jabatannya.

Kordinator Anggota IPKLSS Lamria Dalimunte melalui Sekretaris Kamelia br Harahap, yang mewakili para PKL, menyampaikan rasa kecewanya dengan aksi unjuk rasa mahasiswa yang menyudutkan pedagang kaki lima Jalan Thamrin, Jalan Mangga dan Jalan P Lumumba.

Sebab para PKL yang didampingi Jaringan Advokasi Masyarakat Marjinal (JAMM) itu telah bersusah payah memperjuangkan agar tidak ada relokasi terhadap pedagang. Namun seolah-olah mahasiswa tersebut membuat persoalan yang dapat menyudutkan pedagang. Karena menurutnya, selama organisasi terbentuk, belum pernah ada istilah uang pamong yang dikutip kepada para pedagang kaki lima.

“Kami sudah punya hubungan baik dengan Pemko, supaya kami para PKL tetap bisa berjualan dengan aturan-aturan yang telah ditentukan. Tapi kenapa kami masih dibuat seperti ini? Kenapa baru sekarang mereka muncul untuk menjadi pahlawan kesiangan yang bisa membuat PKL tersudutkan.

Baca Juga :  Permohonan Izin Pemeriksaan Bupati Dan Ketua DPRD Palas Segera Dikirim

Makanya, kami dari PKL Jalan Thamrin, Jalan P Lumumba, Jalan Mangga, merasa kecewa dan menyatakan tidak ada kutipan yang mengatasnamakan uang pamong. Yang ada hanya uang iuran yang harus dikeluarkan anggota organisasi,” terangnya.

Sekretaris IPKLS Susi Karmila mengatakan, ia sangat miris dengan perilaku mahasiswa yang melakukan aksi unjuk rasa tersebut. Sebab, para mahasiswa itu tidak hadir untuk memberikan pembelaan terhadap PKL ketika terjadi persoalan yang berkaitan dengan para pedagang.

“Di saat genting-gentingnya, mereka (GMPBS) tidak ada dating. Ke mana mereka? Kenapa sekarang muncul seolah-olah ingin menjadi pahlawan? Padahal kami (PKL) telah diberikan Pemko kelonggaran untuk tetap bisa berjualan di situ. Kalau waktu itu kami digusur, ke mana lagi kami mencari nafkah,” terangnya.

Selanjutnya, ia bersama rekan-rekannya yang berprofesi sebagai PKL sangat berharap agar tidak ada lagi oknum-oknum yang mencoba menyudutkan pedagang. Karena, nantinya akan berimbas terhadap tempat usaha para pedagang itu sendiri.

“Kami sangat keberatan, jadi was-was kami yang berjualan di sekitaran Jalan Thamrin, Jalan P Lumumba dan Jalan Mangga serta Jalan Mangonsidi. Lagian, kami tidak pernah mengadu kepada mahasiswa itu ketika kami ada persoalan dan mereka juga tidak pernah ikut memberikan pembelaan terhadap kami.

Kami juga menyarankan agar jangan menyudutkan pedagang, karena tidak ada oknum Satpol PP yang melakukan pengutipan kepada pedagang, serta uang yang dikutip kepada kami itu adalah iuran organisasi untuk kepentingan bersama,” terangnya. (bsl)

Baca Juga :  JALAN DI PADANGSIDIMPUAN GANTI NAMA...

/METROSIANTAR.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 5 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*