PKS..!, Segeralah Ber-OPOSISI

Oleh: Shohibul Anshor Siregar *)

“Kita hrs memiliki alqiyam tastahiqqun najah (winning value), almanhaju yastashiqqun najah (winning concept), annizham yastahiqqun najah (winning system), al-jama’atu yastahiqqun najah (winning team), alghoyatu tastahiqquna najah (winning goal)”

KH Hilmi Aminuddin, Ketua Majlis Syuro PKS - Februari 2008

Pemilu 2009 memang membuktikan secara empiris bahwa hanya PKS partai yang lolos dari “pitingan” kekuasaan SBY. Bandingkan sesama partai papan tengah, apa lagi papan bawah seperti PBB yang gugur sebagai parpol peserta pemilu meski sempat mengirim 3 menteri pada Kabinet Jilid I.

Hari ini ‘nBASIS rekomendasikan PKS segera saja keluar dari koalisi dan mengambil peran sebagai oposisi.

Dalam kondisi yang diperkirakan akan semakin buruk mendekati momentum pemilu 2014, maka semakin cepat menjadi Oposisi akan semakin baik pula bagi PKS. PKS tidak usah ikut menjadi bagian terpenting yang akan bertanggungjawab terhadap seluruh ketidak-beresan yang bersifat sistemik dalam penyelenggaraan negara.

Mungkin sebagian orang dalam internal PKS akan merasa kehilangan sesuatu termasuk karena keterancaman reshuffle kabinet. Itu tak seberapa dibanding dengan peluang Pemilu 2009 yang masih amat mungkin dioptimalkan. Hari ini malah PKS bisa semakin buruk jika kementerian yang diisi oleh kadernya sama sekali tidak bisa menjawab permasalahan yang dikeluhkan oleh masyarakat. Ambillah contoh Menkominfo Tifatul Sembiring. Sampai sejauh ini dia sama sekali tampak hanya lebih sibuk berwacana menangkis serangan yang memojokkannya sebagai tak memiliki rapor bagus dan karena itu terancam reshuffle.

Jika kita ingin segera berhenti berdebat dan tidak suka menuduh Tifatul Sembiring telah “berdamai komersil” dengan kekuatan dahsyat order kapitalisme media yang amat merusak terhadap tatatan nilai masyarakat Indonesia, maka PKS harus mengakui Tifatul gagal dan delet saja dari memory. Itu konsekuensi dari winning value dan winning goal yang lebih besar dari siapa pun. Jangan lupa, bahwa dalam kedudukannya sebagai Presiden partai yang diberhentikan karena diinfaqkan oleh partai kepada pemerintahan, sifat kegagalan Tifatul itu akan menjadi sangat istimewa bagi lawan-lawan politik PKS di level atas maupun level grass root.

Baca Juga :  Modus Operandi Pencalegan

Media Sebagai Aktor Politik

Gila jika tidak bersahabat dengan media. Tetapi lebih gila lagi jika menggantungkan kemenangan hanya kepada media. Orang memang bisa amat termakan oleh asupan informasi media massa meski itu bisa sebuah penyesatan by design. PKS harus sadar bahwa media itu tidak Cuma harus dibanggakan sebagai pilar demokrasi keempat, tetapi sekaligus wajib diwaspadai sebagai aktor politik yang memiliki agenda sendiri. Tidak ada media yang netral, dan subjektifisme media telah membuktikan perubahan dunia hingga hari ini justru semakin buruk. Media menjadi ajang bisnis besar yang memiliki kepentingan yang memaksakan agenda kemenangannya sendiri di atas segala apa pun.

Dalam sejarah pergerakan dunia, setiap kelompok menegaskan pentingnya media. Bahkan penguasaan media tidak saja ditunjukkan pada alokasi pembiayaan untuk ”berdamai” dengan media, melainkan kepar harus ditunjukkan dengan alokasi pembiayaan amat besar dengan mendirikan media sendiri.  Gerakan non politik seperti Muhammadiyah saja memiliki Majalah Suara  Muhammadiyah yang usianya sudah hampir satu Abad.

Faktor dan kenyataan melek media pada jajaran PKS merupakan fakta yang amat variatif. Para aktivis yang berbasis kelompok-kelompok pengajian selama tak mengupgrade pemahamannya akan selalu memandang pola pembinaan jama’ah konvensionalnya dan door to door campaign sebagai pilihan final.  Tetapi bukan kejenuhannya yang akan segera tiba itu yang harus dikhawatirkan, melainkan keniscayaan global yang tak mungkin berdamai dengan masa lalulah yang menjadi keniscayaan.

*) Penulis: dosen sosiologi politik FISIP UMSU, Koordinator Umum nBASIS
sohibul PKS..!, Segeralah Ber OPOSISIn’BASIS adalah sebuah Yayasan yang didirikan tahun 1999 oleh sejumlah akademisi dan praktisi dalam berbagai disiplin (ilmu dan keahlian). ‘nBASIS adalah singkatan dari Pengembangan Basis Sosial Inisiatif dan Swadaya dan memusatkan perhatiannya pada gerakan intelektual dengan strategi pemberdayaan masyarakat, pendidikan, perkuatan basis ekonomi dan kemandirian individu serta kelompok.
CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  Korupsi? Kenapa Tidak?

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*