Polda Sumut Diminta Konfrehensip Tangani Kasus Bentrok Palas

MEDAN – Koordinator Kontras Sumut, Herdensi Adnin mengatakan, bentrok yang berujung maut antara Masyarakat dan anggota kepolisian di Polsek Barumun Tengah, Padang Lawas belum lama ini dilatarbelakangi konflik tanah.

Warga adat Aek Buaton hendak mengambil alih kembali lahan yang sebelumnya dipinjam pakai oleh warga Sayur Matua dan Sayur Malicat. Hal itu sesuai investigasi yang dilakukan Kontras pasca bentrok tersebut, yang disampaikan Herdensi di Sekretariat Kontras Sumut Gg Bunga Jl Birgdjen Katamso Medan, Selasa (16/4/2013).

Tanah yang dipinjam warga Sayur Matua dan Sayur Malica dibuktikan dengan surat perjanjian peminjaman lahan. Dengan syarat tidak bisa dijual, dimiliki secara pribadi, bahkan dipindah tangankan. Pada tahun 1996, justru dii jual atas prakarsa Amir Husein yang saat itu anggota DPRD Palas.

Dari 3000 ha lahan sudah sekitar 1000 ha di pindah tangankan, baik keperusahaan, maupun pribadi-pribadi. Masyarakat Aek Buaton sudah mencoba mengadukan persoalan ini ke pihak-pihak terkait. Saat itu, Tapanuli Selatan belum mekar, sehingga diadukan ke bupati, namun tidak ada respon positif.

“Justru melegalkan penjualan oleh Amir Husein, dengan mengeluarkan Ijin plasma Sayur Malicat,” ujarnya.

Bahkan, saat terjadi pemekaran, masyarakat kembali mengadukan kepada Palas, supaya masalah ini dipasilitasi. Masyarakat kembali pulang dengan tangan kosong, tidak ada respon.

Karena tidak kunjung ada kejelasan, pada Januari 2013, warga Aek Buaton sepakat memasuki lahan itu kembali, dengan memegang surat pengakuan dari Hindia Belanda tahun 900 an, dan perjanjian dengan Sayur Matua dan Sayur Mahica.

Baca Juga :  Terbesar di Sumatera - PLTA 510 MW Dibangun di Tapsel

Yang ada, justru respon negatif dari Amir Husein, dan sebelumnya telah ada tiga kali bentrok antara masyarakat. Dan orang suruhan Ahmad Husein, melakukan pengaduan penganiayaan ke Polsek, dan direspon cepat. Pihak polsek langsung menangkap 3 orang masyarakat Aek Buaton saat subuh.

“Tanpa ada surat penagkapan. Sehingga masyarakat berusaha klarifikasi, dan mengeluarkan tiga rekannya yang ditahan di Polsek,” ujarnya. Hanya saja, sebelum tiba dan hanya beberapa meter dari kantor Polsek, ada provokasi dari arah polsek.

Lemparan baru ke arah masyarakat pun mendarat. Menurut masyarakat ada lempatan itu, dan kemudian masyarakat membalas lemparan ke Polsek Barumun Tengah. Kerusuhan pun terjadi, kepolisian melakukan penembakan secara membabi buta. Hingga 12 orang luka tembak, diantaranya dua kena tembak adalah perempuan.

“Seharusnya, kepolisian memiliki SOP pengamanan massa, bahkan ada anggota kepolisian yang ternyata bukan anggota Polsek setempat justru melakukan penembakan terhadap massa,” ujarnya. Sikap penembakan sangat disayangkan, terutama terhadap para perempuan yang sesungguhnya tidak punya alasan kekuatan untuk melakukan perlawanan.

Sayangnya lagi, katanya, polisi pada posisi ini tidak melihat persoalan secara konprehensif, sedangkan inti permasalahan tidak dilihat. Bahkan Polsek dan polres Tapsel menentukan yang tertembak sebagai tersangka,

Ada sekitar 42 unit Sepedamotor tertinggal di lokasi kejadian, dan pemilik sepedamotor justru dijadikan saksi. “Bagaimana bagi mereka yang sepedamotornya dipinjam orang lain, apa dia harus menjadi saksi?” ujarnya. Kita sagat berharap,Polda sumut agar profesional dan proporsional. Selain komprehensif, juga harus profesional.

Baca Juga :  Penggundulan Hutan Palas Masih Berlanjut - Masyarakat Khawatirkan Banjir Bandang

Menurutnya, jika kemudian ditemukan ada kesewenangan, harusnya ada tindakan. Untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada polisi.

Polda Sumut belum melakukan pemeriksaan yang transparan kepada anggota kepolisian yang melakukan penembakan, bahkan ada anggota polisi yang tidak berasal dari polsek itu melakukan penembakan. (afr/tribun-medan.com)

Source : Tribun Medan

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 7 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

1 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*