Poldasu Cium Illegal Logging di Padangsdimpuan

Illegal Logging

Sabtu, 06 Pebruari 2010 – www.metrosiantar.com

MEDAN-METRO; Musibah banjir bandang yang melanda Desa Labuhan Rasoki dan Manjunjang Jae di Kota Padangsidimpuan (Psp), membuat Poldasu menurunkan tim untuk melakukan penyelidikan penyebab banjir tersebut. Hasil penyelidikan, Poldasu mencium ada illegal logging (perambahan liar) di wilayah itu.

Demikian disampaikan Kapoldasu Irjen Pol Badrodin Haiti, Jumat (5/2) saat menjawab pertanyaan wartawan usai salat Jumat di Mapoldasu. Badrodin menyebutkan, tim yang diturunkan nantinya akan menyelidiki penyebab banjir bandang yang telah memporak-porandakan puluhan rumah dan merendam ratusan rumah lainnya.

“Tim sudah diturunkan untuk melakukan penyelidikan banjir di sana,” ujarnya.

Lebih lanjut disampaikannya, selain banjir banding di Psp, pihaknya juga akan menyelidik banjir bandang di Kabupaten Mandailing Natal beberapa waktu lalu.

“Ada dua banjir di Sumatera Utara, Padangsidimpuan dan termasuk di Madina juga. Nanti bersamaan itu dilakukan penyelidikannya,” tegasnya.

Sekadar informasi, di lokasi bencana sangat banyak terdapat kayu gelondongan di sepanjang aliran Sungai Kalimati dan perbukitan Tor Simincat. Di kawasan itulah ditemukan berbagai jenis kayu glondongan dan ada potensi wilayah itu longsor.

Menjawab hal ini, jenderal bintang dua itu belum dapat memastikan banjir bandang ini akibat adanya illegal logging. “Kalau persoalan ini, belum dapat kita pastikan, sebab masih diselidiki,” ucapnya.

Disebutkannya, untuk melakukan penyelidikan saat ini belum bisa dilakukan, pasalnya kondisi cuaca masih sangat buruk. Namun, tugas untuk melakukan penyelidikan tetap dilaksanakan.

Baca Juga :  Kadishutbun Mandailing Natal Dicopot

“Penyelidikan ini akan dilakukan setelah cuaca tidak lagi hujan, untuk melihat kerusakan akibat banjir,” ucapnya.

Sementara itu, pengamat lingkungan Ir Jaya Arjuna menyampaikan, untuk persoalan banjir bandang, biasanya tak terlepas akibat menurunnya lapisan penahan tanah, sehingga sering terjadi erosi.

Terjadinya ini, bebernya, bila semula masih banyak pepohonan, kini telah tiada lagi. Juga banjir bandang cenderung terjadi di wilayah yang dekat pegunungan dan hutannya telah rusak.
“Makanya kalau banjir bandang ditemukan kayu balok besar, bukti adanya perambahan hutan,” terangnya. (ril)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 12 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

1 Komentar

  1. saya ikut langsung di lakosi tersebut, yang terdiri dari 5 desa yang terkena dampak banjir bandang, adapun hal tsb terjadi dimata saya dikarenakan ulah manusia juga, yang tidak mengetahui, mulai dari penebangan liar, dan bermukim di DAS yang bisa potensi banjir Bandang .tapi masih ada cerita klenik, adanya perseteruan antara ketua adat/kuncen karena satu sama lain tidak menghargai, dengan adanya siluman harimau yang pastinya 11 jiwa sdh melayang dikarenakan banjir bandang tsb, tips buat pemerintah buatlah lakosi permukiman dengan SP3Lnya jangan lah pula bermukim di sana selain susah transportasinya, kamipun kesulitan dalam evakuasi korban pada saat itu (thanks buat Kantor Sar Medan,Tagana,dan TNI AD Pak Bur, yg pada saat itu disana) dari Komunitas Siaga Bencana (KOGANA) SUMUT.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*