Polisi Bentrok Dengan Warga di P.Sidimpuan, Jamaluddin Pane Terkena Peluru Nyasar, Mobil Polisi Dirusak Massa

DIRAWAT: Korban peluru nyasar petugas Polresta Padangsidimpuan Jamaluddin Pane saat mendapat perawatan di RSUD Padangsidimpuan. (harian SINDO)

Polisi dengan warga bentrok di Desa Manegen, Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara, Kota Padangsidimpuan, Sabtu (13/11) sekira pukul 20:30 WIB, mengakibatkan Jamaluddin Pane, terkena peluru nyasar menembus bagian atas lutut kaki kanan. Korban kini dirawat di RSUD P.Sidimpuan. Selain itu mobil Rocky milik polisi dirusak massa. Lalu lintas di Jalinsum perbatasan Kota Padangsidimpuan dengan Tapsel itu macat total hampir 5 jam, (dari pukul 20:30 – 1:30 dini hari), karena ribuan warga menutup jalan dengan batu, kayu, dan pas bunga yang ada di pinggir jalan. Setiap orang yang datang dicurigai dan diinterogasi.

Beberapa warga yang ditemui SIB malam itu menceritakan, pada malam kejadian itu personil Polres Padangsidimpuan datang hendak menangkap seorang warga Desa Manegen, atas pengaduan pegawai Dinas PU Pengairan Sumatera Utara, Kahar Harahap, yang beberapa waktu lalu dikeroyok warga terkait rencana pembangunan bendungan di hulu sungai sumber air sawah penduduk.

“Sebelumnya warga 5 desa dan kelurahan yang bertetangga dan memiliki kepentingan dengan sumber air itu telah membuat kesepakatan sama-sama menolak apabila terjadi penangkapan terhadap siapapun atas kejadian itu. Sebab pemukulan terhadap Kahar Harahap terjadi, menurut warga, demi memperjuangkan sumber air sawah mereka. Warga menilai Kahar Harahap arogan, karena mematok lahan yang akan dijadikan alur pipa PDAM Tirta Ayumi dari rencana pembangunan bendungan tanpa permisi kepada pemilik lahan,” kata warga yang menolak disebut identitasnya.

Baca Juga :  1.110 Anggota TKBM SPSI Tapsel dan Sidimpuan Daftar Jamsostek

Menurut mereka, pada malam kejadian, tiba-tiba personil Polres Padangsidimpuan datang hendak menjemput seorang warga Desa Manegen. Tapi mendapat penolakan dari warga, mengakibatkan terjadi keributan. Warga mengepung polisi yang akan melakukan penangkapan. Kemudian terjadi pertengkaran. Tiba-tiba terdengar letusan senjata api, membuat warga semakin bringas .

Personil kepolisian yang hendak dikeroyok massa lari, dan berhasil lolos dari kejaran warga. Kemudian terdengar 6 kali letusan senjata api,” kata warga. Emosi warga semakin meninggi, akhirnya warga melampiaskan amarahnya ke mobil milik polisi yang diparkir di pinggir jalan. Situasi baru kembali normal sekitar pukul 02:30 WIB. (T-8/y) (hariansib.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

2 Komentar

  1. sebaiknya pihak PDAM, POLISI, Tokoh masyarakat duduk bersama membicarakannya, dan tempat membicarakannya TIDAK BOLEH DITEMPAT / KANTOR POLISI atau di Kanto PDAM, tapi buatlah tempat duduk bersama untuk mencari solusinya di tempat dimana Masyarakat itu berada, bila perlu pasang Tenda di Lapangan terbuka di ruang pedesan yang ada, tujuannya agar masyarakat bisa bebas mengeluarkan pendapatnya demi mencari solusi yang terbaik.

    Pengaduan penganiayaan yang dilakukan seseorang, sebaiknya tidak semerta-merta polisi bertindak seperti Jaman dahulu, jaman sudah berubah pak polisi, yang anda mau tangkap bukan Maling, bukan pula pencuri, dan bukan pula orang NARKOBA atau teroris. Tapi masyarakat yang membela haknya dari turun temurun, bahkan bisa saja sebelum PDAM ada di Negeri ini.
    Kesalahan Pendekatan dan komunikasi diantara ke 3 pihak, akan menimbulkan sering terjadi bentrokan2 dimasa yang akan datang. Apalagi bagi masyarakat yang dari tahun ketahun sudah menggunakan pengairan ini, akan merasa terinjak hak dan martabatnya dan merasa teraniaya akibat perlakuan sepihak. Sebaiknya polisi jangan hanya melihat permasalahan penganiayaan tapi lihat juga kepentingan masyarakat setempat yang sudah mungkin lebih dahulu di aniya secara tidak langsung.
    Sekali lagi duduklah bersama untuk mencari solusi yang terbaik.

  2. Saya salah satu warga desa Manegen sangat kaget mendengar berita ini. ternyata masalah perairan sungai Aek Aloban Manegen masih berlanjut, waktu kemarin masalah ini dah dirapat kan oleh semua warga 3 desa. semuanya sudah jelas dan sudah diselesaikan dengan pihak PDAM. bahwa warga tidak setuju dengan pemabangunan ini.. saya juga sebagai warga desa Manegen sangat tidak setuju dengan pembangunan PAM disungai AEK ALOBAN ini. karena pembangunan ini sangat merugikan kehidupan warga 3 Desa yakni Desa: Goti,Manegen,HutaTonga. Sungai ini lah satu” sarana untuk mengairi lahan pertanian di 3 desa ini. kalau sungai ini dijadikan PAM. bagaimana lahan pertanian masyarakat bisa terairi. karena sumber kehidupan warga disana dari Pertanian. bagaimana nasib warga kalau PAM ini tetap dibangun. ini sangat membuat warga masyarakat menderita.. Tolong buat pihak PDAM untuk jangan melanjutkan pembangunan ini.
    Intinya tak ada 1pun warga yang setuju untuk pembangunan ini. thx

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*