POLITIK BUDAYA PILKADA di TAPANULI SELATAN

Ditulis Oleh:  Azharul Fazri Siagian

AZHARUL FAZRI SIAGIAN - Putra Sipirok - Alumni IMATAPSEL Propinsi LAMPUNG, pemerhati Politik Tabagsel saat ini aktif sebagai Ketua Umum PC IMM Tanggamus, Sekretaris Majlis Kader PDM Kabupaten Pringsewu dan Wakil Sekretaris GAPEKSINDO Kab. Pringsewu

Setiap Kepala Daerah yang ingin mencalonkan kembali (incumbent) untuk memperebutkan jabatan politik tak jarang menjadi sorotan para pesaing politiknya, hal ini terjadi karena diangggap sebagai pesaing yang sulit dikalahkan dan peluang menangnya cukup besar. Biasanya pandangan terhadap incumbent cendrung negative, karena terbangun opini incumbent bisa memanfatkan mesin birokrasi untuk melakukan mobilisasi massa, punya dukungan dana yang berlimpah, memanfaatkan fasilitas pemerintahan untuk kepentingan kampanyenya, dll. Sehingga, incumbent diuntungkan karena dalam menjalankan tugasnya selaku kepala daerah tentu memiliki sumber daya yang besar untuk dikenal rakyat. Dari segi ini popularitas incumbent sudah memiliki modal awal dalam menentukan target kampanye pilkada. Kesempatan paling awal dan terbanyak dimiliki incumbent untuk menyapa rakyat sambil menunjukkan kinerjanya. Dengan modal politik tersebut, tentu incumbent memiliki start point untuk tebar pesona yang tidak dimiliki para pesaingnya dalam Pilkada. Prinsipnya, incumbent memiliki sarana kampanye terselubung selama dia menjabat sebagai kepala daerah atau wakil kepala daerah sebelum ikut pilkada pada periode berikutnya.

Para pesaing incumbent harus ekstra keras berjuang untuk merebut hati pemilih. Tim sukses para pesaing incumbent dituntut untuk jitu dalam merumuskan strategi pemenangan pilkada. Diantara pilihan strategi pemenangan Pilkada itu antara mempublikasikan kelemahan incumbent selama menjabat kepala daerah atau wakil kepala daerah.

Pada umumnya, tim sukses lawan pasti mencari cela berupa daftar kegagalan incumbent dalam memimpin daerahnya. Biasanya daftar kegagalan ini merupakan satu paket dengan tudingan dugaan penyelewengan yang dilakukan incumbent. Ranah politik yang sering digunakan adalah memanfaatkan isu dugaan melakukan tindakan pidana korupsi, pelanggaran UU, nepotisme dan kolusi.
Untuk menyaingi incumbent , para pesaing politiknya juga melakukan pencitaran yang negative terhadap publik, misalnya, incumbent bukan putera daerah, tidak berhasil membangun, memumpuk akar nepotisme atau kolusi, tidak membawa kemajuan pembangunan yang berarti, melanggar UU dsb.

Namun kalau memang sang incumbent memang nyata-nyata melakukan hal tersebut tentunya harus didukung dengan fakta yang objektif. Dan kampanye hitam bukanlah cara yang efektif dilakukan oleh para pesaing politiknya. Para pesaing politik incumbent harus rajin meyakinkan para pemilih, menyampaikan program yang jelas (sosialisasi), melakukan pendampingan kelompok tani, nelayan, buruh, pedagang dan memberikan pemaparan visi dan misi jelas dan konkrit, membentuk tim khusus untuk meyakinkan pemilih pemula (karena incumbent jarang sekali menggarap ini). Dan menghindari janji-janji yang mustahil untuk dilaksanakan. Satu hal yang menjadi kebiasaan buruk para pejuang-pejuang politik. Kelompok-kelompok pengajian sering kali menjadi sasaran para calon. Mengunjungi dan memberikan bantuan berupa alat-alat penunjang kegiatan pengajian, pemberian santunan bagi anggota yang membutuhkan dan sbg. Tentunya hal itu bukan berarti gratis namun harus ada komitemen agar nanti pada saat pemilihan agar memilih calon tersebut. Namun ketika pemilihan selesai kelompok-kelompok tersebut ditinggalkan. Lain hal lagi, setiap kelompok pengajian bisa dikunjungi oleh dua atau tiga kali calon yang berbeda. Ini juga sebuah kebiasaan kurang baik dalam etika politik.

Incumbent yang gagal dalam membangun suatu daerah mudah saja untuk dikalahkan. Penyampaian hasil pembangunan yang gagal bukanlah bentuk kampaye hitam asalkan ditunjukkan fakta dan data yang meyakinkan. Apalagi ada indikasi seorang incumbent mencoba untuk mengindahkan amanat UU.

Fakta keberhasilan calon incumbent selama memimpin menjadi ukuran tingkat keberhasilannya. Namun kegagalan incumbent juga akan menjadi batu sandungan dalam upayanya untuk memperpanjang masa jabatannya. Ketika ia memang jelas-jelas gagal membangun tentunya masyarakat akan antipasti untuk memilih dia kembali.

Pada tahun 2010 ini, hampir sebagian besar para kepala daerah di beberapa kabupaten/kota yang sudak berakhir masa jabatannya mencalonkan diri sebagai calon kepala daerah untuk masa jabatan kedua kalinya. Motif pencalonan tersebut tentu bisa bermacam-macam, seperti keinginan untuk merealisasikan keberlangsungan visi kepemimpinannya, masih memiliki dukungan yang kuat, atau karena prestasi yang dicapainya. Tentunya keberhasilan itu bukan hanya sebagai bentuk justifikasi saja tapi memang nyata harus dibuktikan dan mampu dirasakan oleh rakyatnya. Oleh karena itu, keberadaan incumbent (gagal) dalam persaingan politik pilkada sangatlah mudah. Asalkan para pesaing politiknya mampu meyakinkan para calon pemilih dengan visi misi yang jelas.

Baca Juga :  Si Loak

Peta Politik TAP-SEL
Tidak hanya fakta objektif kegagalan kepemimpinan yang memberikan tingkat kekecewaan masyarakat terhadap incumbent, tetapi juga didukung oleh moralitas yang kurang baik. Jika selama lima tahun calon incumbent bermasalah seperti diduga melakukan tindak pidana korupsi, maka hampir bisa dipastikan tingkat kepercayaan akan terus merosot.

Incumbent TAPSEL sekarang bukan berarti hanya memiliki trackrecord negative tentunya diikuti dengan hal-hal yang positif. Dan kita semua tidak boleh mengingkari hal tersebut. Namun adapun upaya untuk menjadikan lawan politik incumbent adalah dengan melakukan berbagai analisis sejauh mana pergerakan kemajuan yang dilakukan oleh incumbent.

Untuk PILKADA di Kabupaten Tapanuli Selatan ini, bupati OPH mencalonkan diri kembali menjadi Bupati periode 2010-2015, sementara wakilnya H.Aldinz Rapolo Siregar, juga mencalonkan diri kembali menjadi wakil bupati, tentunya bukan dengan pendamping lama. Kedua-duanya merupakan incumbent yang maju dalam pertarungan pilkada kali ini. OPH menggandeng sekda TAPSEL H Affan Siregar SE (SEKDA TAPSEL), sementara H.Aldinz Rapolo Siregar digandeng oleh H.Syahrul M Pasaribu yang merupakan Anggota DPRD Sumatera Utara. Walaupun sama-sama incumbent ada beberapa hal yang menjadi pembeda bagi mereka :

  1. OPH sebagai bupati lagi-lagi untuk memperkuat tim terutama birokrasi menggandeng sekda TAPSEL.OPH hanya berkeyakinan bahwa dengan memanfaatkan birokrasi dan beberapa basis massa yang dimilikinya bersama Affan mampu memenagkan pertarungan.
  2. H. Aldinz Rapolo Siregar juga dengan ikhlas duduk sebagai wakil bupati namun dengan optimis digandeng oleh H. Syahrul Pasaribu (Anggota DPRD). Keyakinan atas keoptimisan Rapolo tersebut setelah melihat kualitas, pengalaman, dan visi pembangunan yang jelas dari H. Syahrul Pasaribu.
  3. OPH sebagai incumbent Top Leader lebih memiliki pengaruh kuat di birokrasi, sementara H. Aldinz Rapolo Siregar lebih yakin untuk terjun sendiri ke masyarakat, bersosialisasi dsb.

Keduanya sama-sama incumbent namun yang membedakan adalah bahwa pengambil kebijakan teratas tetap pada jabatan bupati, sementara wakilnya hanya menggantikan fungsi bupati. Kegagalan selama memimpin daerah itu lebih ditujukan pada siapa yang menjadi pucuk pimpinan tertinggi di daerah tersebut. Walaupun terkadang wakil bupati juga seakan-akan terlarut dalam kegalan masa kepemimpinan tersebut. Namun masih banyak cara yang dilakukan agar wakil bupati menyampaikan posisi tanggungjawabnya sebagai wakil selama 5 tahun, tentunya hal itu dilakukan untuk mencegah adanya black campaing kepada wakil incumbent yang datang dari lawan politiknya.

Sementara itu selain dua calon incumbent yang maju dalam perebutan kursi Bupati dan wakil Bupati TAPSEL periode 2010-2015, terdapat pula 4 pasangan calon lainnya. Hal inilah yang mungkin menjadi kekhawatiran diantara dua calon incumbent. Dengan jumlah 6 pasangan calon bupati dan wakil bupati akan sedikit mempengaruhi jumlah pemilih yang beberapa tahun terakhir ini dibina oleh masing-masing incumbent. Selain itu pula pertarungan sengit antara incumbent ini juga akan banyak menguntungkan pasangan lain yang bukan incumbent.

Ada satu hal yang perlu diketahui oleh para incumbent, persaingan antar incumbent ini tak jarang akan dimanfaatkan bagi para calon-calon lain. Karena dalam setiap tahapn PILKADA ketika ada dua incumbent yang bertarung biasanya sangat ketat. Hal inilah yang sering dimanfaatkan oleh para kandidat lain untuk mengambil kesempatan mempengaruyi pemilih di lapangan.

Baca Juga :  Menjelang 100 Hari Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) Jilid II

Untuk itu, ada beberapa hot isu yang akan diangkat dalam bahan kampanye para calon nanti. Namaun isu terpenting yang harus jalankan oleh beberapa calon untuk memenangkan pertarungan PILKADA TAPSEL 2010-2015 :

  1. Isu tentang pemindahan ibu kota ke Sipirok adalah isu hangat. Isu ini jangan ditinggalkan karena merupakan amanat UU, namun isu itu juga dilanjutkan dengan pemerataan pembangunan di seluruh kecamatan yang ada sehingga nantinya tidak ada kehawatiran bagi pemilih yang berdomisili di Sipirok dan sekitarnya. Isu ini juga akan mempengaruhi suara untuk kecamatan Sipirok, Arse, Saipar Dolok Hole dst.
  2. Isu pembenahan infrastruktur terutama jalan. Kali ini walaupun ada jastifikasi dari incumbent bahwa pembangunan di jalan sudah berlangsung namun nyatanya didaerah-daerah ataupun di beberapa kecamatan masih ada yang terisolir. Bahkan pembangunan jalan di Ibu Kota kabupatenpun tak kunjung usai.
  3. Isu peningkatan APBD dan peningkatan PAD baik dari segi perekonomian, industry, tambang bahkan sector pariwisata di masing-masing kecamatan yang memiliki potensi luar biasa jika dikelola dengan baik.
  4. Isu illegal loging. Perlu kita ingat kembali bahwa TAP-SEL sangat kaya dengan hutan. Hal ini menyebabkan para oknum yang takbertanggungjawab memanfaatkan jabatannya untuk memberikan izin merambah hutan. Harus ada komitmen dari para calon untuk bersama-sama menjaga kelestarian hutan. Bukan justru mengorbankan hutan lindung untuk dijadikan kawasan kantor PEMKAB hanya dengan alasan irit anggaran.
  5. Isu pendidikan, dimana-mana isu pendidikan dalam setiap hajat demokrasi selalu dibawa-bawa. Harus ada perbaikan pendidikan kualitas di bidang pendidikan. Kita lihat hasil pendidikan tempoe doeloe telah banyak menghasilkan putra bangsa baik nasional maupun daerah, namun sekarang hal itu sudah jarang sekali. Harus ada komitmen bagi para calon bahwa untuk wilayah pendidikan nantinya diserahkan kepada orang yang professional dalam pendidikan dan bukan karena jasa saat kampanye.
  6. Bupati adalah pembantu rakyat. Perlu diketahui bahwa selama ini ada jarak antara pemimpin dan rakyatnya. Buatlah hari tersendiri untuk terjun ke desa-desa (bukan acara formal) dan buat jadwal khusus untuk bertamu dengan rakyat. Hal semacam ini sangat dinanti-natikan rakyat, dan hindari sifat elitisme walaupun kepala daerah memang jabatan elit.

Dalam konteks pemikiran ini, pilkada bisa menciptakan kultur politik yang lebih beradab, jika persaingan politik yang dilakukan dengan cara memberikan pembelajaran politik kepada masyarakat secara sehat yaitu bersaing dengan cara yang wajar, seperti meyakinkan pemilih dengan kualitas program, pendekatan langsung ke bawah (calon pemilih), diskusi, dan lainnya.

Akhirnya, harapan kita adalah yang menjadi perebut tahta kursi Bupati dan Wakil Bupati TAPSEL yakni pemimpin yang benar-benar peduli dengan semua komponen rakyat dan berani berjanji untuk memperjuangkan kepentingan rakyat. Dan mudah-mudahan pesta demokrasi lokal TAPSEL ini berjalan dengan baik tanpa ada pelanggaran aturan yang berarti.

Sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=345576813740&id=100000038594404&ref=mf

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 12 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

13 Komentar

  1. Luar biasa sekali tanggapan dari saudara pargarutan City ini, mungkin balasan komentar saya perlu dicermati lagi. saya tidak mengatakan kalau pernah mengadakan pendidikan politik di TAPSEL.. tapi saya selalu membuat tim (namanya saya tidak sebut) untuk melakukan pendidikan politik di setiap pemilihan kepala daerah di Lampung bukan di Tapsel. dan tulisan saya itulah cerminan yang seharusnya dilakukan oleh halak-halak TAPSEL. dengan saudara membaca tulisan ini otomatis anda juga bertanggungjawab tuk melakukannya di TAPSEL. bukan hanya memberikan komentar2 yang tak ada arahnya. saya sebearnya mempunyai keinginan pulang ke TAPSEL pada saat proses PILKADA mulai dari awal dan akhir. namun apa daya saya juga punya tugas di Lampung yang tidak bisa ditinggalkan. apalagi di Lampung juga sedang ada proses PILKADA di 4 kabupaten dan 2 kota. saya hanya bisa mendoakan mudah2 kecurangan yang anda maksud oleh calon pemeng baik itu money politik atau yang lainnya silahkan dilanjutkan, kita tinggal tunggu hasilnya di sidang MK. apapun hasilnya kita harus menghormatinya. kalah dan menng itu biasa, namun tugas untuk membangun TAPSEL dan kesejahteraan rakyatnya harus didukung oleh seluruh komponen warga TAPSEL itu sendiri, termasuk anda. selamat berjuang

  2. To Fazri,. datang dan berikan pendidikan politik diTAP-SEL, jangan hanya di luar sana aja, jadikanlah TAP-SEL seperti politik didaerah BALI yang bersih dari money politic. kalau anda memang ingin TAP-SEL selalu adil dan jujur. Jangan-jangan karena anda orang GAPEKSINDO, anda ingin jadi kontraktor juga di TAP-SEL kami ini……?

  3. TO Fazri, sebelum PILKADA TAP-SEL, anda dimana…..?, yang jelas tidak ada sama sekali penyuluhan atau pendidikan politik, jadi sebenarnya maksud anda apa dengan tugas kalian tersebut. berarti betul anda berbohong dan tidak konsisten terhadap tulisan diatas, kalau memang kalian ataun anda memberikan pendidikan politik pada RAKYAT, yang jelas money politic tidak akan ber laku diTAPANULI SELATAN yang saya cintai ini..

  4. TO Fazri, sebelum PILKADA TAP-SEL, anda dimana…..?, yang jelas tidak ada sama sekali penyuluhan atau pendidikan politik, jadi sebenarnya maksud anda apa dengan tugas kalian tersebut. berarti betul anda berbohong dan tidak konsisten terhadap tulisan diatas, kalau memang kalian ataun anda memberikan pendidikan politik pada RAKYAT, yang jelas money politic tidak akan ber laku diTAPANULI SELATAN yang saya cintai ini. PARGABUS DO SUDE..

  5. Terimkasih Buat Sdr. AZHARUL FAZRI SIAGIAN yang telah memberikan tanggapan atas Comment diatas secara langsung sehingga semua CLEAR…..

    salam sukses buat anda….

  6. To Fadel : Sepanjang bulan november dan desember 2009 saya pulang ke Tapsel, tepatnya di Sipirok. dua bulan itu saya gunakan untuk sharing pendapat dengan tokoh dan masyarakat di desa2 (khusus sipirok) sementara daerah kecamatan lain saya dapat info mulai dari media (cetak dan Surat kabar online). jadi apa yang saya tulis itu merupakan gambaran dari pola pandangan saya terhadap TAPSEL, terlepas ada yang setuju dan tidak. Yang pasti tulisan ini merupakan bentuk kegusaran anak TAPSEL terhadap lambatnya pembangunan di tapsel.
    To Efrillia : Insya Allah saya orang netral dan independent. kalau saya TS tentu saya sudah berada berada menyibukkan diri di TAPSEL, namun saya terima kasih banyak atas praduganya yang salah. tentang pendidikan politik, insya Allah kami di Lampung pada PILKADA bupati/ walikota tahun 2005,2006,2007 dan pemilihan gubernur tahun 2008, selalu memberikan pendidikan politik pada masyarakat. dan itulah tugas kami termasuk anda di TAPSEL

  7. Dalam tulisan diatas, Saudara AZHARUL FAZRI SIAGIAN selaku PENGAMAT POLITIK atau selaku TEAM SUKSES salah satu kandidat, Dilihat isi tulisan diatas, saya curiga jangan2 saudara Team Sukses pasangan serasi (mudah2an dugaan saya salah) Tapi kalau saudara selaku PENGAMAT POLITIK, berikanlah pendidikan Politik yang baik kepada masyarakat Tapsel, kasihan rakyat, jangan diadu domba hanya untuk kepentingan 5 tahunan. Tanamkan pemahaman kepada calon pemilih bahwa menang-kalah bukan suatu tujuan utama, sehingga Menang dan kalah sama-sama menerima. Lebih baik kalah tapi elegan daripada menang tapi Curang. wassalam.

  8. bahat na angkat telor, ro jolo amu tu tapsel, tangihon hamu hata ni OPH mula kampanye, jawab dohot jujur, timbang idia bahatan napeto sanga gabus, sapai batin di kepala SKPD bahagia sanga menjerit. baru mangecet hamu. tapi jujur doba

  9. kalau incumbent ingin mencalonkan diri kembali
    itu mak hal yang sangat wajar
    tapi kalaulah incumbent tersebut pantas untuk menduduki jabatannya kembali
    sah – sah saja
    tapi sebagai masyarakat biasa, kita harus jeli dalam memilih
    mari kita pilih kandidat yang betul2 mapan dalam hal birokrasi, dan politisi, bukan orang yang hanya haus akan jabatan,
    sehingga arogansi dan egoisasi dihalalkan
    onse again
    masyarakat harus pintar dalam memilih pemimpin 5 tahun kedepan
    jangan hanya karena uang dsb.

  10. so, incumbent telah mempolitisir jajaran pemerintahan.
    setiap jajaran peperintah harus’a lebih menentukan sikp’a.

    tesy doank..

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*