Politik Rabun Ayam

Oleh: Komaruddin Hidayat *)

%name Politik Rabun Ayam Saya yakin suasana batin perjuangan pemuda tahun 1928 dan 1945 pasti digerakkan oleh sebuah cita-cita besar dan visi yang jauh ke depan, lahirnya sebuah negara bernama Indonesia yang merdeka, berdaulat dan makmur serta penuh suasana kekeluargaan. Saat ini saya agak ragu, apakah para politisi yang memeriahkan wacana publik hari-hari ini masih memiliki kesetiaan pada cita-cita di atas?

Perubahan besar dalam sejarah selalu digerakkan oleh mereka yang berjiwa besar, yang berpikir out of the box. Yang mau dan mampu membuat terobosan. Kalau saja Columbus zaman itu tidak berlayar ke lautan lepas, tak akan ada seorang pun yang menyalahkan. Namun, pasti nama Columbus tidak akan tercatat dalam sejarah, dan jalannya sejarah dunia akan berbeda.

Begitu pun Thomas Edison, andaikan kala itu dia tidak berbuat seperti orang gila melakukan penelitian dan percobaan ratusan kali sampai lampu pijar listrik menyala, tak ada pihak yang menyalahkan dan membawanya ke penjara. Tapi, kita tak akan mengenal nama Thomas Edison yang begitu harum yang telah menciptakan lompatan besar dalam sejarah peradaban.

Beberapa abad silam, gagasan tentang pesawat terbang dan berkunjung ke bulan tentu saja dianggap mitos. Tetapi kini jadi kenyataan. Dan masih banyak lagi contoh-contoh lainnya bahwa perubahan besar mesti dimulai dan digerakkan oleh pikiran besar. Indonesia jika ingin menjadi bangsa besar juga harus melakukan  loncatan-loncatan sejarah (historical leaps). Dan ini mesti dimotori oleh para elitenya yang berada di puncak piramida sosial.

Mitos Sosial dan Perjuangan Bangsa

Pada mulanya istilah mitos selalu dikaitkan dengan faham keagamaan. Ketika manusia merasa kagum dan sekaligus juga takut terhadap kebesaran dan misteri alam semesta, maka muncullah mitos tentang kekuatan Yang Maha Gaib dan Perkasa yang menguasai jagad raya ini. Pikiran mitis ini lalu mendorong munculnya ritual, puji-pujian dan berbagai bentuk sesajen atau pengurbanan agar Penguasa alam semesta ini tidak marah dan tidak mengirimkan bencana.

Demikianlah, dalam wacana ilmu sosial mitos lalu diturunkan ke dalam ranah historis-sosiologis yang dimaknai sebagai sebuah mimpi besar dan pandangan visioner yang melewati zamannya. Bangsa yang tidak memiliki mitos ataupun mimpi besar tentang masa depannya pasti tidak akan menjadi bangsa besar. Tak akan muncul tradisi kerja keras untuk mewujudkan mimpi besarnya. Kita pantas berbangga, putra-putri terbaik bangsa ini telah mewariskan contoh sebagaimana terukir dalam sejarah Sumpah Pemuda 1928 dan Proklamasi Kemerdekaan 1945. Dua peristiwa sejarah ini merekam dan meninggalkan pesan yang amat visioner, mulia dan tulus yang harus kita kawal secara total, bahkan dengan jiwa dan nyawa sekalipun.

Baca Juga :  RESTORASI PERADABAN MELALUI ZAKAT, INFAK DAN SEDEKAH

Secara moral, dua peristiwa itu merupakan prestasi terbesar bangsa Indonesia yang tercatat dengan tinta emas, yang mestinya selalu menjadi sumber inspirasi, motivasi dan benchmark bagi para politisi dan birokrat yang saat ini tengah sibuk melaksanakan ritual pemilu. Kebesaran para pejuang 1928 an 1945 bukan terletak pada titel kesarjanaannya, bukan pula pada kemegahan kendaraan dan kantornya, dan tidak juga pada besarnya gaji seperti anggota DPR saat ini, melainkan pada ketulusan dan semangat mereka untuk membela rakyat yang tertindas, dengan berpikir cerdas, berkerja keras dan berhati ikhlas. Tolong disurvei, masihkan ketiga kualitas ini dimiliki oleh para politisi kita?

Bangsa China pernah menghabiskan 300 tahun untuk membangun tembok besar dan panjang yang sangat terkenal itu. Artinya, mereka memiliki visi dan mimpi besar, sehingga sekian generasi bekerja sambung-menyambung untuk membangun masa depan bangsanya.

Anak-anak keturunan Israel mendominasi hadiah Nobel serta menguasai jaringan ekonomi dan media masa dunia karena memiliki mitos eksodus dan tradisi kerja keras untuk mewujudkan mimpinya sebagai bangsa pilihan Tuhan yang ditakdirkan tersebar di seluruh penjuru dunia. Bangsa India memiliki mitos sebagai keturunan Arya yang menjadi sumber pencerahan dunia. Bangsa Jepang memelihara mitos sebagai keturunan dewa matahari yang berhak menjadi pemain dalam panggung politik dunia.

Masih dalam kerangka pikir di atas, apakah yang menjadi mimpi besar bangsa Indonesia yang menjadi sumber motivasi dan pemandu perjalanan sejarahnya? Lagi-lagi, tolong disurvei, apakah mereka yang sangat bersemangat untuk menjadi caleg, menteri, wapres dan presiden juga memiliki agenda besar yang jelas? Kita punya ideologi Pancasila yang merupakan sacred canopy bagi peristiwa sejarah 1928 dan 1945, yang mestinya selalu menjadi pijakan dan semangat untuk menterjemahkannya ke dalam tindakan praksis-filosofis dan ideologis, sehingga nilai-nilai Pancasila berakar dan tumbuh dalam kehidupan nyata, baik dalam ranah politik maupun sosial.

Menunggu Ratu Adil?

Baca Juga :  Selamat Jalan Mbah Maridjan!

Messianisme atau faham akan datangnya Ratu Adil masih cukup kuat diyakini oleh sebagian masyarakat kita. Dalam keadaan krisis rakyat yakin akan datangnya Ratu Adil, sosok utusan Tuhan untuk menyelamatkan bangsa ketika rakyatnya sudah merasa tidak mampu lagi menolong dirinya. Dinamika sejarah Yahudi, Nasrani dan Islam selalu bernuansa messianistik. Tetapi memasuki abad modern keyakinan messianistik tidak akan mampu memenangkan persaingan yang semakin ketat dengan dukungan kekuatan ilmiah, iptek modern, serta tata pemerintahan yang rasional dengan dukungan modal yang besar.

Dalam konteks di atas, maka kita menyaksikan bahwa negara dengan ideologi  sekuler ada kalanya lebih berhasil mengembangkan tata pemerintahan yang bersih dan rasional serta iptek modern ketimbang masyarakat yang selalu berpikir dan menunggu datangnya juru selamat berupa figur kharismatik. Secara antropologis masyarakat Indonesia secara perlahan telah meninggalkan pandangan messianistik ini, namun belum mampu mengembangkan mitos sosial yang didukung oleh penalaran filosofis-ilmiah yang menjadi panduan dan acuan proses dan dinamika politik nasional. Orientasi dan visi politik kita masih fragmented dan berjangka pendek. Jangankan mitos sosial yang merupakan imagined society, sedangkan garis besar dan strategi pembangunan jangka panjang saja tidak punya.

Panggung dunia tak ubahnya sebuah panggung festival dan kompetisi. Mereka yang kurang gaul, tidak berdaya dan tergusur ke pinggir sebagai penonton atau deretan orang yang kalah. Ketika politisi kita kalah dalam kompetisi global, maka mereka membuat kompensasi, meramaikan kompetisi lokal dalam pilkada dan perebutan caleg. Maka riuh-rendahlah tepuk tangan, kritik dan intrik dengan sesama teman sebangsa. Kita menjadi politisi rabun ayam, hanya mampu melihat jarak pendek dan bertengkar dengan teman sendiri. (metrotvnews.com)

*) Komaruddin Hidayat
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*