Polres Tapsel Sumut Masih Tahan Warga Batang Kumu Rohul

Pasca bentrok di perbatasan Riau-Sumut, seorang warga Batang Kumu Rohul masih ditahan Polres Tapsel.

Riauterkini-PASIRPANGARAIAN- Pasca pecahnya bentrok fisik di perbatasan Provinsi Riau-Sumatera Utara (Sumut), 2 Februari 2012 lalu, pihak Kepolisian Resort (Polres) Tapanuli Selatan (Tapsel) masih menahan Sukardi (57), warga Desa Batang Kumu, Kecamatan Tambusai, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul).

Sebelumnya, setelah peristiwa bentrokan warga Batang Kumu dengan puluhan sekuriti PT Mazuma Agro Indonesia (MAI) dibantu puluhan oknum Brimob Polda Sumut, Sukardi diamankan Brimob dan dibawa ke Mapolsek Sosa. Namun dengan penahanan pria setengah abad tersebut masih dipertanyakan dasar hukumnya.

“Awalnya kepolisian hanya beralasan akan mengobati Sukardi karena kena pukul saat bentrok, namun faktanya dia sekarang resmi ditahan. Ini baru saya ketahui dua hari lalu dari warga yang sudah melihatnya ke Mapolres Tapsel,” terang Muhammad Nasir Sihotang, Kuasa Hukum warga Batang Kumu, kepada riauterkini.com di Pasirpangaraian, Rabu (22/2/12).

Diakui sejumlah warga yang menjenguk Sukardi di Mapolres Tapsel, kini kondisinya memprihatinkan, sebab tulang hasta lengan kirinya patah dan tidak diberi izin untuk ke dukun patah.

Kepada sejumlah warga yang menjenguknya di tahanan, Sukardi mengaku tulang hasta tangan kirinya patah karena sengaja dianiaya sejumlah oknum Brimob Polda Sumut yang sedang kalap melihat rekannya juga terluka. “Menurut Sukardi kepada warga yang menjenguknya, lengannya sengaja dipatahkan oknum Brimob dari Polda Sumatera Utara,” ungkapnya.

Saat perjalanan ke Polsek Sosa, dalam mobil yang membawanya, Sukardi mengaku dihajar habis-habisan tak bisa mengelak sedikit pun. Usai tulang hastanya patah, dia juga tidak diberi kesempatan mengobati lukanya ke dukun patah. Sehingga sampai sekarang dia masih menggendong tangannya menggunakan sehelai kain.

“Warga yang akan menjenguknya di tahanan juga dipersulit. Apalagi ketika mau mengambil foto mereka dilarang, tapi ada warga yang berhasil mengambil fotonya. Saat ini Sukardi seperti tahanan khusus, seperti teroris!,” kesalnya.

Sukardi, ungkap Nasir, diamankan paksa Brimob Polda Sumut dari Tempat Kejadian Peristiwa (TKP) bersama dua perempuan lainnya, pasca bentrok hebat antara warga Batang Kumu dengan security PT MAI.

Baca Juga :  Tak Digaji, Kepala SMA Plus Madina Mundur

“Dua orang perempuan Batang Kumu yang sempat ditahan kini telah dibebaskan oleh Polres Tapsel, namun Sukardi resmi ditahan dengan tudingan membawa senjata tajam,” katanya.

M Nasir menduga kuat, Sukardi sengaja dianiaya oknum Brimob Polda Sumut. Pasalnya, sejumlah perempuan, sebelumnya juga mengaku menjadi korban kebringasan oknum aparat penegak hukum saat bentrok pecah awal Februari lalu.

Seperti pengakuan Saudur boru Pakpahan (39) kepada Kapolda Sumut Irjen Misjnu Amat Sastro, saat kunjungannya ke RSUD Pasirpangaraian, 3 Februari lalu, Ibu tiga anak itu minta pertanggung-jawaban Polri atas luka di dagu dan dadanya karena sengaja dipukul popor laras panjang oleh oknum Brimob saat bentrok pecah.

“Saat bentrok, mamak-mamak (perempuan.red) saja dihantam pakai popor senjata oleh oknum Brimob. Ini aparat apa preman, sebab disini Polri tidak netralitas, mereka terkesan membela perusahaan yang telah membayar mahal kepada mereka,” tanyanya.

Kepada wartawan, saat kunjungannya ke RSUD Pasirpangaraian, Kapolda Sumut hanya beralasan penahanan Sukardi dan dua perempuan kala itu hanya sebatas dimintai keterangan dan diobatkan. Tapi berdasarkan SPK nomor SP-Kap/12/II/2012/Reskrim, tertanggal 2 Februari 2012, dikuatkan lagi dengan Surat Perintah Penahanan bernomor SP-Kap/12/II/2012/Reskrim, tertanggal 3 Februari 2012, Nasir baru mengetahui jika Sukardi resmi menjadi tahanan Polres Tapsel.

“Alasan Polri sering mengada-ngada. Sukardi dituding memiliki senjata tajam. Padahal saat itu dia dari ladang, tapi melihat warga berkumpul dia kesana. Kasihannya lagi, tulang tangannya sengaja dipatahkan lagi,” ujarnya.

Atas sikap tidak netralitasnya Polri menanggapi konflik perbatasan Provinsi Riau-Sumut, Nasir mengaku akan mengambil langkah hukum, tapi masih menunggu hasil kesimpulan mediasi lanjutan yang dijadwalkan akan digelar Senin (27/2/12) depan. “Kita lihat dulu bagaimana kesimpulan mediasi Senin depan. Jika tidak ada kesimpulan, kita akan menindaklanjuti ke pusat,” tandasnya.

Polri Belum Miliki Peta Perbatasan

Sejauh ini, ungkap Nasir, pihak Polri sama sekali belum memiliki peta perbatasan Provinsi Riau-Sumut. Hal itu dikuatkan dengan tidak netralitasnya Polri masalah konflik perbatasan provinsi hingga pecahnya bentrok fisik antara warga Batang Kumu dengan sekuriti PT MAI dibantu puluhan oknum Brimob Polda Sumut.

Baca Juga :  Selama 2010, Kasus Penganiayaan 213 Berkas

“Jika Polri memiliki peta perbatasan, tidak mungkin mereka disewa jasanya oleh PT MAI. Sebab dibayar mahal, mereka sesuka hatinya tembaki warga seperti hewan buruan,” kesal Nasir lagi.

Sesuai peta milik Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) dan Topografi milik Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD), diketahuinya sekitar 3 kilometer areal dan PKS milik PT MAI masih masuk dalam wilayah Provinsi Riau.

“Sebenarnya batas sesungguhnya perbatasan Provinsi Riau-Sumut itu adalah Sungai Batang Kumu, yakni antara Dusun Marubi Batang Kumu dengan Trans Aliaga, Kecamatan Huta Raja Tinggi, Padang Lawas,” katanya lagi.

Menurut Nasir, Polri juga tidak konsisten dalam penerapan hukum, seperti peristiwa 6 Juni 2009 lampau, saat ditangkapnya enam warga Batang Kumu, keenamnya dituding sebagai pelaku merambah hutan register empat puluh. Sementara saat bentrok kemarin, Sukardi dikenakan pasal lain, yakni membawa senjata tajam.

“Ini jelas, dalam hal ini Polri lebih membela perusahaan, pasalnya setiap pasal hukum yang dikenakan kepada warga asal buat,” katanya dengan nada heran.***(zal)

Sumber: riauterkini.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*