Polsek Hamparan Perak, Deli Serdang Diserang – Hj Rosma: Apa Salah Suamiku

Hj Nur Rosma istri almarhum Aipda Deto Sutejo menangis tersedu di RS Bhayangkara.

Hampir tujuh jam Hj Nur Rosma terpaku duduk di sebuah bangku tak jauh dari kamar mayat RS Bhayangkara di Jl KH Wahid Hasyim. Di dalam kamar tersebut jenazah suaminya Aipda Deto Sutejo terbujur kaku setelah ditembak belasan orang bersenjata saat bertugas bersama dua rekannya Aiptu Baik Sinulingga dan Bripka Riswandi di Mapolsek Hamparan Perak, Rabu (22/9) dinihari.

Riuhnya suara orang yang silih berganti berdatangan ke tempat itu, tak dihiraukannya. Pandangannya kosong menerawang ke lantai rumah sakit. Matanya sembab dan kelopaknya membengkak. Di antara ujung matanya masih terlihat basah oleh air mata. Sementara mulutnya terus komat-kamit dengan suara yang nyaris tak terdengar membacakan ayat berbahasa Arab. Raut wajahnya terlihat menahan sesak. Sesekali dia menarik nafas panjang dan membuangnya kuat-kuat.

Di sebelah kiri tempatnya duduk, Bima Sutejo (13) putra pertama dari hasil perkawinan mereka juga duduk termenung. Di sebelah kanan wanita berjilbab itu Sanjaya Gusti Sutejo (10) putra keduanya tidur uring-uringan. Sedangkan Rara Sutejo (3) putri semata wayangnya menangis digendongan seorang kerabatnya.

Sejumlah orang yang datang menyalam dan mengucapkan belas sungkawa hanya diladeninya dengan lemas, bahkan dia tak melihat wajah-wajah orang yang bersimpati kepadanya itu. Pertanyaan wartawan pun dijawabnya dengan patah-patah.
“Saya mengetahui berita itu pukul 3.00 WIB, waktu itu Kapolsek Hamparan Perak menelpon saya, katanya bapak meninggal. Saat itu saya sedang berada di rumah di Komplek Pemda Stabat, lalu saya ke mari,” katanya kepada Tribun.

Baca Juga :  Puluhan Massa APKM Unjuk Rasa di Kantor Bupati Tapsel

Dia tak pernah memiliki pirasat apapun, apalagi sampai berpikir suaminya itu bakal jadi korban penembakan. “Apa salah suami ku, dia itu baik,” katanya dengan nada lemah.
Namun katanya, malam itu memang ada gejala aneh, sekitar pukul 21.00 WIB, adiknya datang ke rumah mereka. Saat itu entah kenapa dia kepigin melihat foto-foto perkawinan mereka. “Saya sempat bilang sama adik saya, kok tiba-tiba pingin lihat foto lama,” katanya sambil terisak.
Malam itu kata dia, Deto masih sempat menelepon dan menanyakan keadaan mereka di rumah. “Waktu itu belum terjadi apa-apa, Bapak menelepon saya,” katanya.
Kepergian Deto membuatnya takut melihat ponsel Nokia N 70 miliknya, sebab di ponsel itu banyak rekaman foto-foto almarhum. “Banyak kali fotonya tengoklah,” katanya sambil menunjukkan ponselnya itu.

Dia mengaku, sejak kasus penggerebekan teroris di Hamparan Perak oleh Densus 88, suaminya itu sudah lebih hati-hati. Sejak saat itu Deto tak mau mengenakan seragam dinasnya karena takut. “Dia bilang takut dengan banyaknya teroris makanya dia nggak pakai dinas,” katanya.

Sepeninggalan suaminya, kini dia harus berjuang sendiri untuk menghidupi tiga anaknya. “Ya Allah kenapa bisa begini, kuatkan aku Ya Allah,” katanya sambil menangis.

Kesedihan serupa menyelimuti Gusti putra kedua almarhum Deto. Setipa mendengar tangisan ibunya, Rizky pun ikut menangis. “Aduh… Bapak, mana Bapak,” teriak Gusti.
Kepada Tribun bocah kelas lima SD itu mengaku sangat dekat dengan sang ayah.

Baca Juga :  Usut Tuntas Kasus PS Sidimpuan!

“Bapak itu baik dan sayang sama anak,” katanya.

Akibat peristiwa itu, Gusti merasa takut jadi polisi. “Nggak bang, aku takut,” katanya.
Paeran Z, (71), ayah kandung Deto pun tak luput dari kesedihan. Sambil menahan isaknya, dia berusaha menenangkan kesedihan menantu dan tiga cucunya. “Anak saya itu sangat baik, dia baru saja umroh Ramadan kemarin. Kok teroris itu tega kali,” katanya.

Dia mengatakan, usai dibersihkan, pihaknya akan membawa jenazah Deto ke Kabupaten Langkat untuk dimakamkan di sana. “Di Langkat tanah kelahirannya, dia rencana dimakamkan di sana,” katanya.

Sumber:

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*