Potensi Sumatera Utara

Oleh: M. Ridwan Lubis *)

Dari WASPADA – 30 April 2012

Pertanyaan pertama yang muncul kepermukaan adalah kenapa mereka pada masa dahulu berhasil mengguratkan kemajuan di berbagai sektor?

Menguak sedikit sejarah perkembangan Provinsi Sumatera Utara terasa betapa besarnya potensi daerah ini baik dalam bidang perkebunan, pendidikan, pariwisata dan lain sebagainya. Kawasan seputar kota Medan pada sekitar abad 20 telah tumbuh menjadi sebuah kota yang dikelilingi oleh perkebunan tembakau yang terkenal itu.

Demikian juga perkebunan karet, kakao, teh dan kelapa sawit menjadi andalan yang cukup penting sebelum daerah lain mengembangkan model perkebunan serupa. Beberapa perusahaan perkebunan negara maupun swasta telah tumbuh menjadi aset daerah yang cukup menonjol.

Potensi obyek wisata yang cukup bervariasi mulai dari Parapat, Bukit Lawang, Pantai Cermin baru merupakan sebagian dari tempat wisata.

Daerah lain masih menyimpan sejumlah potensi yang dapat digali dan dikembangkan. Kekayaan budaya daerah dengan keragaman sukunya menjadi kekayaan daerah yang menunggu untuk diperkenalkan kepada masyarakat luar. Setiap kelompok etnis memiliki khazanah budayanya sendiri.

Masyarakat Melayu, Batak, Karo, Simalungun, Pakpak Dairi, Pesisir, Nias, Mandailing, Padanglawas, Angkola memiliki potensi budaya yang berakar dari tradisi yang berkembang selama ratusan tahun. Lembaga pendidikan memiliki bentuk variasi yang umumnya berakar dari tradisi keagamaan.

Apabila daerah lain hanya memiliki dua model pondok pesantren yaitu tradisional dan modern sebagai lembaga pendidikan keagamaan sementara Sumatera Utara memiliki pesantren kitab Arab, pesantren kitab Jawi, pesantren yang mengajarkan tarekat. Selain itu ada pondok dalam yang santrinya terdiri mereka yang sudah berkeluarga dan ada pondok biasa yang dihuni anak-anak remaja. Daerah ini menjadi model pengembangan pendidikan agama termasuk jaringan pengajian Islam antara Sumatera Utara dengan Kedah dan Patani.

Baca Juga :  SBY Galau Berat, Yusril Memberi Solusi Jitu, Jokowi akan Kembalikan Pilkada Langsung kepada Rakyat

Di kalangan umat kristiani juga terdapat seminari. Kemudian lembaga pendidikan itu dikembangkan menjadi berbagai universitas dan isntitut. Candi yang dalam balas lokal disebut biara, juga terdapat di daerah ini yaitu di Portibi sebagai warisan tradisi keagamaan Hindu dan Buddha masa lalu sekalipun umatnya sudah sulit ditemukan lagi sekarang ini.

Di bidang olahraga, masih melekat dalam ingatan masyarakat betapa terkenalnya Sumatera Utara dengan debutnya di bidang persepakbolaan era 1960 sampai 1970-an melalui PSMS dan Pardedetex. Mengungkapkan hal tersebut di atas bukan sekedar bernostalgia, tetapi masyarakat merindukan kapan suasana kemajuan tersebut dapat berulang, tentunya dengan polanya yang baru.

Pertanyaan pertama yang muncul kepermukaan adalah kenapa mereka pada masa dahulu berhasil mengguratkan kemajuan di berbagai sektor seperti ekonomi, pendidikan, kebudayaan dan keolahragaan.

Jawabannya adalah kemajemukan masyarakat yang dapat dilihat dari latar suku, budaya maupun agama menjadi pemicu yang kuat munculnya etos kerja sehingga keragaman itu justru menjadi pendorong yang kuat untuk memberikan kontribusi bagi pembangunan daerah.

Adanya faktor pembeda justru menguatkan kesadaran mereka sebagai masyarakat multikultural untuk bersama membangun daerah. Sekalipun di antara sebagian masyarakat ada yang berasal dari luar Sumatera Utara tetapi karena diikat oleh kesamaan visi dan misi membangun daerah mereka secara bersama menggerakkan pembangunan.

Pertanyaan kedua, kenapa masyarakat yang multikultural tersebut dapat bergerak bersama-sama dalam semangat pembangunan maka jawabannya dapat ditelusuri pada model kepemimpinan di daerah ini.

Pada umumnya, pemimpin yang tampil sebagai kepala daerah di provinsi ini adalah mereka yang memiliki pemahaman serta menjiwai akar budaya daerah sehingga mereka dengan mudah membangun solidaritas sosial.

Baca Juga :  e-KTP (Tak) Selesai

Sebagai contoh model kepemimpinan di Sumatera Utara dapat direnungkan kembali pola kebijakan almarhum Raja Inal Siregar sebagai motivator perekayasaan sosial. Ia berani memperkenalkan konsep yang sedikit agak aneh dan cenderung eksklusif yaitu Marsipature Hutana Be.

Tetapi, semua orang di Sumatera Utara dapat menerima konsep rekayasa pembangunan yang diperkenalkan di Desa Tanjungibus itu dan masing-masing juga menyesuaikannya dengan konsep budaya setiap suku. Demikian juga almarhum T.Rizal Nurdin seorang yang santun dan menempatkan dirinya sebagai titik temu dari semua keragaman etnis, budaya dan agama di Sumatera Utara.

Karena itu, hal ini menjadi bagian dari bahan refleksi mereka yang akan menyediakan diri tampil menyumbangkan pikiran dan tenaga membangun Sumatera Utara. Oleh karena itu apabila akan menjadi pemimpin, persoalannya bukan cuma merasa bisa tetapi yang terpenting bisa merasa. *****

*) ( M Ridwan Lubis : Penulis adalah Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. )

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 7 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*