Presiden: Jangan Sampai Tarakan Jadi Seperti Sampit

google.com

Ketegangan hingga kemarin masih menyelimuti Kota Tarakan, Kalimantan Timur. Wali Kota Tarakan Udin Hianggio mengatakan, aparat gabungan tentara dan polisi terus berupaya memisahkan dua kelompok warga yang bertikai.

Sekitar 4.000 warga kota yang khawatir terjebak konflik mengungsi ke tangsi tentara, kantor polisi, dan rumah sakit. “TNI dan Polri masih melokalisasi dua kelompok massa. Kami upayakan agar bisa segera cooling-down,” kata Udin melalui telepon, Rabu (29/9).
Dinihari kemarin Kota Tarakan kembali dilanda kerusuhan yang melibatkan dua kelompok warga. Kepala Divisi Humas Kepolisian Daerah Kalimantan Timur Komisaris Besar Antonius Wisnu Sutirta mengatakan, kerusuhan lanjutan itu kembali menelan korban jiwa. “Ya benar, ada yang tewas, tapi jumlah dan identitas korban masih belum diketahui,” kata Antonius.

Bentrokan pertama di antara dua kelompok warga terjadi Senin lalu di kawasan Perum Korpri Juata Permai, bagian timur Pulau Tarakan. Kerusuhan itu dipicu perselisihan dua remaja yang membawa-bawa keluarga mereka, sehingga menewaskan satu orang. “Karena ada provokator, jadi meluas. Sekarang jadi seluruh kota,” kata Wali Kota Udin.

Agar kerusuhan tidak meluas, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memerintahkan Kepala Kepolisian RI Jenderal Bambang Hendarso Danuri, Panglima TNI Agus Suhartono, dan Gubernur Kalimantan Timur Awang Faruk untuk segera memulihkan situasi Tarakan. “Segera tangani. Kalau tidak bisa, fatal akibatnya. Saya ingatkan, dulu kenapa peristiwa Sampit menjadi luas dan besar?” kata Presiden di kompleks Istana Kepresidenan.

Baca Juga :  Tsunami ancam banyak daerah di Indonesia

Menurut Yudhoyono, dalam kerusuhan Sampit, Kalimantan Selatan, aparat tidak langsung melakukan upaya terpadu dan tuntas. Bahkan ada kesan aparat menyepelekan bentrokan antarwarga. “Dipikir itu peristiwa biasa dan ada sikap underestimate,” ujar Presiden soal kerusuhan sepuluh tahun silam itu.

Selasa malam lalu aparat setempat sebenarnya telah mempertemukan para tokoh dari kedua kelompok yang bertikai. Pertemuan di ruang utama Bandara Tarakan itu dihadiri Panglima Kodam Mulawarman Mayor Jenderal Tan Aspan, Gubernur Kalimantan Timur Awang Faruk, Wakil Kepala Polda Kalimantan Timur Brigadir Jenderal Nagdino, dan Asisten Operasi Kepala Polri Inspektur Jenderal Sunarko.

Sekretaris Jenderal Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan Muchlis Patahna mengatakan, pada akhir pertemuan itu perwakilan kedua kelompok sepakat untuk meminta semua warga tidak bergerombol dan membawa senjata tajam.

Untuk mencegah pengerahan massa dari luar, sejak kemarin aparat menutup sementara bandara dan pelabuhan Tarakan. “Kami ingin keluar dari Tarakan, tapi tidak bisa,” kata Koendariyati, warga asal Bojonegoro, Jawa Timur, saat dihubungi Tempo.

Yuliana Lelita, pegawai sebuah bank di Tarakan, mengatakan warga yang tinggal di pusat kota memilih tinggal di pengungsian ketimbang kembali ke rumah mereka. Warga pun membawa perbekalan untuk bertahan hingga kondisi aman. “Semua warung dan toko makanan tutup,” ujar Yuliana.

Sumber: http://www.tempointeraktif.com/hg/fokus/2010/09/30/fks,20100930-1509,id.html

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  Gajah Mengamuk di Bengkalis, Empat Rumah Rusak

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*