Prestasi Bulu Tangkis Indonesia – Susi Susanti Prihatin, Tapi Masih Optimistis

Kompas.com– Mantan ratu bulu tangkis Indonesia, Susi Susanti, sangat prihatin dengan hasil yang diraih para duta bulu tangkis Tanah Air di ajang Kejuaraan Dunia. Dalam event bergengsi yang berlangsung di Wembley tersebut pada 8-14 Agustus, Indonesia pulang dengan tangan hampa setelah dua wakilnya tersingkir di semifinal (ganda putra Mohammad Ahsan/Bona Septano dan ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir).

Meskipun demikian, Susi, yang mengibarkan bendera Indonesia di arena Olimpiade Barcelona 1992 setelah menjuarai nomor tunggal putri, masih menaruh harapan prestasi bulu tangkis Tanah Air bisa bangkit. Tetapi, wanita kelahiran 11 Februari 1971 ini meminta semua pihak harus segera membenahi diri sehingga target di Olimpiade 2012 bisa terwujud.

“Saya sangat prihatin dengan hasil yang diraih para pemain Indonesia akhir-akhir ini, termasuk di Kejuaraan Dunia, karena selalu gagal. Tetapi kita jangan larut dalam kekecewaan ini. Yang penting, sekarang kita harus memilikirkan tindakan nyata untuk bangkit dari keterpurukan, bukan hanya sekadar evaluasi,” ujar Susi, Kamis (18/8/11).

Menurut Susi, yang pada Mei 2004 mendapat penghargaan Hall of Fame dari BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia), kini saatnya harus ada evaluasi yang detail, di samping rencana yang matang untuk membawa prestasi seorang pemain bisa naik lagi. Karena itu, pemain, pelatih dan pengurus, harus duduk bersama membicarakan hal tersebut.

Baca Juga :  Stoner Kalahkan Pedrosa, Rossi Ketiga

“Saya heran kenapa prestasi pemain Indonesia jalan di tempat, sehingga negara-negara yang tidak punya nama di ajang bulu tangkis bisa menang. Ini pasti ada yang salah, sehingga perlu evaluasi yang detail,” jelas Susi, merujuk kekalahan tunggal putri Indonesia, Adriyanti Firdasari, dari pemain Irlandia, Chloe Magee, pada babak pertama Kejuaraan Dunia.

“Di sini, peran pelatih yang sangat penting sehingga bisa melakukan pendekatan secara pribadi kepada pemain. Karena, setiap pemain itu memiliki keunikan, jadi tidak bisa diperlakukan secara sama. Harus dibedah satu per satu di mana letak persoalan setiap pemain.

“Di samping itu, sudah harus ada rencana untuk mengirim seorang pemain ke sebuah turnamen, dengan target harus bisa jadi juara. Ini semua dilakukan untuk membangkitkan kembali motivasi dan rasa percaya diri pemain. Semuanya itu merupakan bagian dari persiapan Indonesia untuk meraih prestasi di Olimpiade 2012 nanti.”

Bona/Ahsan dan Tontowi/Liliyana bisa jadi harapan

Melihat performa Mohammad Ahsan/Bona Septano dan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir di Kejuaraan Dunia, Susi merasa optimistis Indonesia masih punya peluang besar untuk mempertahankan tradisi emas Olimpiade. Tetapi, dua pasangan itu harus bisa belajar dari kegagalan tersebut dan terus menempa diri.

“Saya bangga karena Tontowi/Liliyana dan Bona/Ahsan bisa lolos sampai ke semifinal. Mereka bisa menjadi harapan kita di masa mendatang, karena pasangan-pasangan itu masih terbilang muda,” jelas Susi, yang pada Olimpiade Atlanta 1996 menyabet medali perunggu.

Baca Juga :  IDI Tapsel Bagi-bagi Mawar dan Brosur Bahaya HIV AIDS

Mengenai sektor lain, Susi melihat belum ada yang bisa diandalkan. Tetapi ada sedikit peluang di sektor tunggal putra, karena Indonesia punya Simon Santoso yang sebenarnya punya potensi membuat kejutan karena pernah mengalahkan pemain-pemain top.

“Saya tetap punya keyakinan para pemain Indonesia mampu memberikan prestasi. Di tunggal putra, Simon Santoso bisa mengalahkan pemain-pemain top seperti Lin Dan, Lee Chong Wei dan Peter Gade. Artinya, Simon punya harapan melakukan itu di Olimpiade,” pungkas Susi.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*