Produk China Tak Pengaruhi Hasil Home Industry di Tapsel

Kamis, 28 Januari 2010 – www.metrosiantar.com

%name Produk China Tak Pengaruhi Hasil Home Industry di TapselTAPSEL-METRO; Maraknya barang-barang produksi China yang beredar di Indonesia, tak terkecuali di Kabupaten Tapanuli Selatan. Tampaknya, tak mempengaruhi penjualan hasil home industri atau kerajinan tangan rumah tangga. Misalnya, untuk produk keramik.

Demikian dikatakan Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi (Disperindagkop) dan UKM, Ir Junaim Nasution kepada METRO, Rabu (27/1).

Junaim mengatakan, perdagangan bebas antara Asean termasuk di dalamnya Indonesia dengan Negeri Tirai Bambu, China, tidak membawa dampak negatif untuk perkembangan produk perajin Tapsel. Sebab, hasil kerajinan tangan tersebut sudah mempunyai pangsa pasar tersendiri.

“Saya rasa produk kita tidak terpengaruh, karena kita yakin punya pangsa pasar tersendiri. Dan ini sudah kita antisipasi sebelumnya, bahkan sebelum perdagangan bebas ini dilaksanakan,” katanya.

Hasil keramik buatan perajin Tapsel, misalnya, bukan terbuat dari porselen tetapi dari gerabah jadi pangsa pasarnya adalah konsumen yang menyukai keramik yang terbuat dari gerabah. Sehingga dapat bersaing dengan keramik porselen buatan China.

“Keramik kan ada dua yang terbuat dari porselen dan gerabah jadi karena keramik hasil buatan China sudah diakui dunia dan sangat digemari konsumen. Maka kita membuat yang terbuat dari gerabah dan pangsa pasarnya juga sangat banyak. Jadi meskipun dengan adanya perdagangan bebas ini, saya pikir sama sekali tidak terpengaruh,” terangnya.

Selain itu, ada satu lagi produk kerajinan Tapsel yang memiliki kesamaan dengan produk China yakni tekstil. Namun jika produk China sudah berbentuk jadi baik itu pakaian dan lainnya maka hasil tekstil kerajinan Tapsel berbentuk kain tenun ini sangat berbeda dengan hasil tekstil buatan China.

Baca Juga :  Karena Alas Hak Tanahnya Tidak Berdasar - PN. Padangsidimpuan Kalahkan Gugatan Ahmad Khoir Hasibuan

“Kita kan jelas konsepnya, untuk pelestarian adat yang menunjukkan ciri khas Tapsel itulah hasil tenun di Sipirok, lain dengan hasil produk china yang sudah berbentuk pakaian biasa,” katanya.

Dalam hal ini meskipun saat ini sentra-sentra industri yang ada di Tapsel masih dalam pembangunan fisik. Namun ke depannya akan dilanjutkan dengan pembinaan dan pelatihan. Meski masih dalam produksi yang sedikit, dirinya optimis hasil kerajinan Tapsel tidak akan dan sama sekali terpengaruh dengan produk buatan China.

“Produk China kan lebih cendrung makanan dan barang elektronik, jadi kita sama sekali tidak ada kekhawatiran dalam hal perdagangan bebas ini. Lagipula kita akan terus persiapkan agar produk kita dapat bersaing dengan produk buatan dalam negeri lainnya bahkan dengan produk China sekalipun,” pungkasnya. (phn)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 12 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*