Program Bupati Mewujudkan Tapsel sebagai Penghasil Sutra

09 November 2009 – www.metrosiantar.com

ulat Sutra

Dapat Ditanam Tumpang Sari, Murbei Cocok Dikembangkan di 6 Kecamatan
Menjadikan Kabupaten Tapanuli Selatan sebagai penghasil sutra ke-4 di Indonesia merupakan cita-cita Bupati, Ongku P Hasibuan. Sekitar 3 tahun lalu, program mulai digulirkan, diawali di Tor Sibual-Buali, Desa Padang Bujur, Kecamatan Sipirok. Bagaimana program komoditi bernilai mahal dan ekspor ini berjalan? Berikut gambarannya

BORNEO DONGORAN-TAPSEL

Kamis (4/11) lalu sekira pukul 10.30 WIB, METRO bersama sejumlah rekan-rekan wartawan lainnya dipandu langsung pejabat pelaksana teknis kegiatan, Dinas Kehutanan dan Pertanahan Kabupaten Tapsel, Ir Hj Linda L Hutasuhut, Kasi Penyuluh, Sumino Usbiantoro SP dan Camat Sipirok, Amir Syam S Sos, menumpang mobil BB 162 G yang langsung dikendarai Kasubbag Humas Pemkab Tapsel, Isnut Siregar, menapaki jalan mulus dan menaiki kaki bukit Sibual-Buali arah SMAN 2 Plus Sipirok.

Sebelum sampai gerbang SMAN 2 Plus, mobil memasuki simpang kanan jalan bebatuan. Mobil rombongan terus berjalan di bawah rintik-rintik hujan yang berjarak sekitar 1,5 kilometer menuju perkebunan murbei dan penangkaran ulat sutra sebagai bahan baku benang sutra.

Usai melihat langsung kebun murbei yang merupakan makanan ulat sutra, penangkaran ulat sutra yang masuk masa istar 5, proses pemintalan kokon tersebut, Kadis Kehutanan dan Pertanahan Tapsel, Ir Sahgiman Siregar melalui Sumino Usbiantoro kepada METRO Kamis (5/11) dan Jumat (6/11) lalu menuturkan, setelah lahan dibersihkan, tepatnya tanggal 12 Oktober 2008 lalu, Bupati Tapsel dan istri beserta jajaran langsung melakukan penanaman pohon murbei perdana di atas areal 5 hektar yang dikelola Kelompok Tani (Koptan) Aek Nabara Desa Padang Bujur. Dan beranggotakan 20 orang yang merupakan binaan Dishut dan Pertanahan. Murbei cocok ditanam di atas lahan dengan DPL 400-1200 meter di atas permukaan laut, dan saat ini luas kebun murbei sudah 10 hektar di 5 tempat di sekitaran Tor Sibual-Buali itu juga.

“Kalau di bawah 400 meter permukaan laut, murbei akan mudah diserang hama dan penyakit jenis white plai atau kutu putih, dan kalau murbei yang kena penyakit ini dimakan ulat sutra, maka akan mencret dan dalam 2 x 24 jam, ulat sutra akan mati,” ujar Usbiantoro.

Awalnya, bibit murbei ini didapatkan di Padang Panjang dan Solok Provinsi Sumbar dan di Medan . Kata Sumino, daun dan pucuk murbei bisa dipanen usai tanam perdana setelah berumur 6-8 bulan. Kemudian, tiga bulan selanjutnya baru bisa di panen lagi. Untuk mendapatkan produksi murbei yang banyak, sebaiknya ditanam dengan jarak tanam 40×40 centimeter.

“Kalau jaraknya demikian, untuk 1 hektare, bisa menutupi kebutuhan makan 2 box ( ada berisi 25 ribu butir terlur ulat sutra, ada berisi 30 ribu butir ulat sutra) ulat sutra yang menetas,” pungkasnya.

Tapi bisa juga ditanam jarak 50 centimeter x 1 meter, dengan sasaran, murbei di tanam tumpang sari sebagai tambahan pendapatan bagi penangkar sebelum memproduksi kokon dalam jumlah besar baik jenis kacang merah, terong, cabe, tomat dan lainnya. “Meskipun di buat tumpang sari, bagi murbei asal pemupukannya cukup tidak akan terganggu,” sebutnya.

Di areal sekitar 10 hektare saat ini, ada 4 jenis dari 11 jenis murbei yang di budidayakan yaitu mocus cathayana, mocus multicaulis, mocus nigras dan mocus makrora. “7 jenis lainnya akan kita datangkan secara bertahap untuk dibudidayakan. Tujuannya, untuk melihat jenis murbei mana yang pas dan tumbuh baik serta berproduksi baik di daerah kita ini,” pungkasnya.

Pembibitan murbei tidaklah sulit, terangnya, karena bibitnya dalam bentuk stek, namun untuk mendapatkan bibit yang baik, minimal murbei sudah berumur 1 tahun, dan murbei bisa tumbuh hingga 15 tahun lamanya, baru dilakukan peremajaan.

“Dari hasil pembinaan yang dilakukan kepada Koptan Aek Nabara secara kontinue, Koptan Aek Nabara berhasil meraih juara 1 koptan binaan dalam lomba penghijauan dan konservasi alam tahun 2009 yang penilaian Juli-Agustus lalu, dan Koptan sudah diundang Menhut MS Kaban dalam sarasehan sebelum mengikuti upacara 17 Agustusan di Istana Negara beberapa bulan lalu,” terangnya.

Untuk wilayah Tapsel, murbei sangat cocok di tanam di wilayah Kecamatan Sipirok, Arse, Saipar Dolok Hole, Batang Toru, Marancar dan Kecamatan Angkola Barat.

“Di kecamatan-kecamatan inilah murbei sangat bagus sekali tumbuhnya termasuk menghindari dari serangan kutu putih,” ungkapnya

Tahap Pengenalan, Pemkab Budidayakan 3 Jenis Ulat
Tanaman murbei sebagai makanan ulat sutra terus gencar dibudidayakan di Tor Sibual-buali, Desa Padang Bujur, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapsel. Di areal ini juga penangkaran ulat sutra dilakukan. Bagaimana butiran-butiran kecil telur sutra yang harus dilihat pakai kaca pembesar ini, hingga mampu menghasilkan rupiah dalam bentuk kokon dan benang sutra nantinya? Berikut proses telur menjadi ulat sutra.

Baca Juga :  KORUPTOR ITU PINTAR MATEMATIKA

BORNEO DONGORAN-TAPSEL

Tidak jauh beda dengan murbei, penangkaran ulat sutra juga sangat cocok di wilayah Kecamatan Sipirok, Arse, Saipar Dolok Hole (SDH), Batang Toru, Marancar dan Kecamatan Angkola Barat.

Di Indonesia, untuk mendapatkan telur sutra yang akan ditetaskan hanya ada di 3 tempat, terang Kadis Kehutanan dan Pertanahan Tapsel, Ir Sahgiman Siregar, melalui Sumino Usbiantoro, kepada METRO beberapa waktu lalu.

Pertama, kata Sumino, di Candiroto, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, di Litbang Bogor, Jawa Barat dan di Sopeng, Maros, Sulawesi Selatan. Hingga saat ini, juga ada 3 jenis ulat sutra yang dikembangkan dan digunakan di Indonesia ini, yaitu C301, PS07 dan PS09.

“Harga hingga sampai di tempat kita untuk C310 sebesar Rp135 ribu per box (berisi 25 ribu telur ulat sutra, red), PS07 dan PS 09 sebesar Rp160 ribu per box (masing-masing berisi 30 ribu telur ulat sutra),” terang Sumino.

Sumino memaparkan, telur ulat sutra yang akan menetas diletakkan di mesin tetas berukuran 1×1,5 meter, tiap box bibit ulat sutra. Usai menetas, ulat sutra kecil yang hanya bisa dilihat pakai kaca pembesar memasuki masa instar I (1-4 hari), ulat sutra kecil akan diberi makan murbei yang dicincang halus dan 1 hari satu malam ulat akan tidur sebelum masuk instar II. Masa istar II (1-4 hari) juga, ulat diberi murbei yang dicincang agak kasar, dan sebelum masuk masa instar III (1-4) juga, ulat akan tidur lagi 1×24 jam.

Sama halnya dengan instar III. Namun, diinstar IV dan V murbei yang diberikan tidak di cincang lagi, waktu makan murbei jadi 1 sampai 5 hari dengan waktu tidur juga 1×24 jam. Namun, setelah hampir melewati masa instar V, khususnya di hari ke lima , nafsu makan ulat akan menurun dan ulat mulai ngokon atau mengeluarkan air liur dan membungkus diri.

“Kokon maksimal 8 hari harus dipanen, karena kalau lebih 8 hari, kokon akan rusak karena ulat jadi kupu-kupu. Bukan berarti hasilnya tidak bisa dijual, tapi nilainya lebih murah, karena kokon yang rusak nantinya akan dibuat jadi bahan jok mobil, kursi dan baju panas,” terangnya.

Selama memasuki tiap masa instar tepatnya di waktu tidur, ulat harus ditaburi kapur khusus ulat sutra dengan tujuan agar kulit ulat tebal, tidak mudah terserang penyakit dan bisa menghasilkan kokon yang baik.

Ulat bisa berkembang baik di suhu 22-27 derajat celsius dengan kelembaban udara 70-90 persen. Suhu di bawah 20 derajat celsius, ulat harus diberi pemanas. “Tapi di Sipirok, jika musim hujan masa instar ulat dari instar I sampai V yaitu 4,4,4,5 dan 5 sedangkan di musim kemarau karena lebih dingin dan suhu rendah akibat hembusan angin bukit masa istarnya 5,5,5,6 dan 6, akibat ulat banyak makan,” pungkasnya.

Setelah kokon dipanen, sebaiknya hari itu juga langsung masuk ke perebusan selama 5-7 menit, agar vuva mati dan mudah menguraikan benang sutra saat dipintal di raling 1, agar kokon tidak rusak. Setelah kokon panen, kandang dibersihkan dan 3 hari berturut-turut diberi formalin, 2-3 hari ditutup rapat dan diberi karbol agar tidak ada bibit penyakit sebelum dimasukkan bibit baru.

Sesuai jenis ulat, kalau jenis C301, 1 kokon menghasilkan 1.000-1.200 benang sutra, PS07 sepanjang 1.400-1.600 meter dan PS09 sepanjang 1.600-2.000 meter. Untuk nilai, jual, jika masih benang putih, untuk great C bisa dijual sekitar Rp600 ribu-Rp800 ribu per kilogram, great B di atas Rp800 ribu per kilogram dan great A di atas Rp 1 juta per kilogramnya.

Setelah panen perdana kokon dari ulat jenis C301 beberapa waktu lalu dengan keberhasilan 95 persen, dihasilkan sekitar 11,4 kilogram benang yang sudah dipintal, dan saat ini, ulat jenis PS07 sudah masuk istar 5 (sekitar 7 hari lagi kokon bisa panen).

Dijelaskan Bupati Tapsel, Ongku P Hasibuan kepada wartawan di ruang kerjanya, Kamis (5/11) lalu, saat ini pemerintah masih melakukan tahap introduction atau masa percobaan atau pengenalan, sekaligus untuk belajar menguasai teknologinya, budidayanya, untuk mengetahui jenis murbei apa yang berpoduksi tinggi yang cocok di Tapsel ini dan jenis ulat sutra apa yang berproduksi tinggi juga yang bisa berkembang baik di Tapsel ini.

“Pemerintah masih tahap pengenalan tapi harus terus berproduksi,” terang Bupati Ongku. (bersambung)

Pemkab Siap Bantu Permodalan Para Penangkar Ulat
Sebanyak 6 kecamatan di Kabupaten Tapanuli Selatan dinyatakan sebagai daerah yang bagus untuk penanaman murbei dan penangkaran ulat sutra penghasil kokon. Meski masih dalam tahap pengenalan dan percobaan untuk mengetahui jenis murbei dan ulat sutra mana yang memiliki produksi tinggi dan bisa berkembang di wilayah yang dipimpin Bupati, Ongku P Hasibuan ini. Apa-apa saja program pendukung untuk menyukseskan cita-cita Tapsel menjadi penghasil sutra ke- 4 di Indonesia?

Baca Juga :  Kasus Dugaan Korupsi DAK Padangsidimpuan TA 2009 - Kejari Masih Tunggu Dakwaan dari Kejatisu

BORNEO DONGORAN-TAPSEL

Bupati Kabupaten Tapsel, Ongku P Hasibuan didampingi Kepala Dinas Kehutanan dan Pertanahan, Ir Sahgiman Siregar, Kasi Penyuluh, Sumino Usbiantoro SP dan Kasubbag Humas, Isnut Siregar, beberapa waktu lalu mengungkapkan, program menjadikan Tapsel sebagai penghasil sutra ke-4 di Indonesia merupakan program baru, sehingga tidak semudah membalikkan telapak tangan. Latar belakang masyarakat Tapsel yang mayoritas petani menjadi salah satu alasan mengapa perlu dikembangkan suatu komoditi unggulan yang bisa mengangkat perekonomian dan pendapatan petani agar ketergantungan panen padi sekali setahun tidak terjadi lagi.

“Ilustrasinya, jeruk Garut dulu terkenal, tapi saat ini digantikan murbei. Kalau di Tapsel cocok ditanam jeruk, berarti murbei dan ulat sutra juga cocok,” ucap Bupati Ongku P Hasibuan. Bukan berarti, terang Bupati, petani diajak untuk mengubah lahan sawahnya jadi lahan murbei, tapi lahan sawah tetap harus berproduksi, lahan yang belum dikelola dimanfaatkan untuk bertanam murbei.

Saat ini, lanjut Bupati, pemerintah masih melakukan tahap introduction atau percobaan atau pengenalan, setelah tahap introduction selesai dilakukan, baru diambil satu kesimpulan, jenis murbei dan ulat sutra mana yang berproduksi tinggi dan baik di Tapsel ini. “Sehingga ketika masyarakat mulai menanamkan investasinya, sudah ada panduan, dan tidak mencoba-coba lagi,” terang Bupati.

Namun, yang pasti dalam tahap introduction ini, sebut Bupati, perlu terlebih dahulu dikuasai teknologinya, cara budidaya, dan mengerti rantai bisnisnya.”Kalau ketiadaan modal, itu persoalan lain, nanti kita cari permodalannya apakah melalui bank, atau investor. Tapi yang pasti, pemerintah dalam hal ini hanya sebagai fasilitator,” sebut Bupati.

Digambarkan Bupati, dalam satu siklus produksi kokon, ada waktu 2 bulan, berarti minimal ke depan, ada 60 kelompok tani (koptan) yang serius membudidayakan ulat sutra ini, dengan harapan, sesuai interval atau jarak tanam dan jarak waktu penangkaran ulat sutra, setiap hari ada kokon yang diproduksi di Tapsel.

“Minimal demikian hitungannya, dalam 2 bulan kan ada 60 hari, asalkan diatur, diharapkan sekali sehari ada 1 koptan yang memproduksi kokon sehingga kokon bisa dihasilkan setiap harinya tanpa pernah berhenti,” terang Bupati.

Khusus untuk penenun, beberapa tahun lalu jumlahnya hanya sedikit dan saat ini jumlahnya sudah lebih dari 250 penenun yang siap pakai termasuk mesin tenunnya. Meski demikian, untuk memproduksi kokon dalam jumlah besar, tenaga tenunnya juga jumlahnya harus ribuan.

Dari sektor peningkatan skill penenun daerah, khususnya generasi muda, SMKN 1 Sipirok sudah dibuka jurusan tenun, sebagai langkah persiapan mencetak generasi muda yang handal dalam bertenun, sehingga nantinya ketika produksi kokon tinggi sejalan dengan jumlah penenun yang sudah tersedia.

Ditambahkan Sumino Usbiantoro, hingga saat ini, pemerintah melalui Dishut dan pertanahan selalu aktif melakukan pembinaan-pembinaan koptan, sehingga ketika lokasi anggaran pembinaan koptan ini terealisasi dalam jumlah besar dalam APBD, koptan sudah siap bekerja. Saat ini, sedikitnya ada 8 koptan yang ‘antri’ dan berebut untuk ikut dalam program pembangunan perekonomian masyarakat ini, namun masih ‘tertahan’ karena minimnya dana.

Dijelaskan Bupati, tentu selain kemauan pemerintah, kemauan yang kuat dari masyarakatlah yang juga ikut menyukseskan program ini. “Cita-cita saya, bagaimana masyarakat Sipirok dan kecamatan lainnya berbagi rezeki, di Sipirok menghasilkan kokon, benang sutra dan kain sutra, di Batang Angkola konveksinya,” pungkas Bupati mengakhiri. (***)

link : https://apakabarsidimpuan.com/2009/11/program-bupati-mewujudkan-tapsel-sebagai-penghasil-sutra/

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

2 Komentar

  1. Kami sebagai yang pertama di Indonesia, yang membuat mesin pengolah sutera, kalau tidak salah pernah memasok mesin produksi kami ke tapanuli selatan. Tapi waktu itu hanya beberapa jenis, tidak lengkap. Untuk itu kami dapat membantu lebih lanjut pengadaan mesin. Kami bersedia juga dalam konsultasi masalah sutera.

  2. kami yang pertama sebagai pembuat mesin pengolah sutera alam rasanya sudah memasok mesin-mesin buatan kami untuk kabupaten tapanuli selatan, kalau tidak salah sekitar tahun 2007. Tetapi tidak seluruh rangkaian, masih banyak meisn-mesin pengolah sutera yang belum. UNtuk itu kami dapat membantu apabila bapak memerlukannya baik masalah mesin maupun konsultasi masalah sutera.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*