PSSI, Belajarlah pada Timnas Malaysia

Ilustrasi. Pemain Timnas Indonesia Andik Vermansyah menutup wajahnya sesaat setelah wasit meniup peluit akhir pertandingan melawan Timnas Malaysia dalam laga penyisihan Piala AFF 2012 di Stadion Nasional Bukit Jalil, Malaysia (1/12/2012). Indonesia gagal melaju ke babak semifinal setelah dikalahkan Malaysia dengan skor 2-0. (Kompas/Wawan H Prabowo)

Oleh : Oleh : Djarwopapua

Seperti tak ada habisnya bagi penulis-penulis di kanal Bola Kompasiana untuk terus mengkritisi kegagalan timnas Indonesia di ajang Piala AFF 2014. Baik itu tentang ketidakbecusan PSSI dalam menggembleng pembinaan usia dini dan kebijakan-kebijakan PSSI yang asal jadi terkait kompetisi hingga proses naturalisasi pemain asing. Sama halnya dengan tulisan saya berikut ini, yang masih akan mengungkapkan kegerahan saya terhadap prestasi sepak bola Indonesia.

Kemenangan telak dengan skor 5-1 atas laos di pertandingan terakhir grup A, Jumat kemarin. Bisa sedikit mengobati kekecewaan pecinta timnas Indonesia yang memang sudah dipastikan sulit untuk lolos ke babak semifinal. Tapi, saat rasa sakit itu sudah terobati dengan laga hebat Zulkifli Syukur dkk di pertandingan terakhir yang membuat timnas Indonesia akhirnya mampu meraih poin sempurna sebelum pulang, justru timbul lagi rasa sakit itu setelah dalam laga lainnya sabtu kemarin di grup B si musuh bebuyutan Indonesia, Malaysia memastikan lolos ke babak semifinal.

Si Harimau Malaya itu, lolos sebagai runner up dan menemani Thailand ke babak semifinal, setelah dalam laga terakhirnya sukses mengalahkan tuan rumah Singapura dengan skor 3-1 dan akan bertemu dengan juara grup A, Vietnam. Torehan tersebut membuat Malaysia bersama Filipina sebagai tim yang sukses lolos ke semifinal 3 kali berturut-turut, yakni di tahun 2010,2012 dan 2014. Bahkan dalam 3 tahun terakhir Malaysia berhasil menjadi juara di Piala AFF 2010, ketika Indonesia yang bertindak selaku tuan rumah.

Baca Juga :  MotoGP - Stoner Sangsikan Kehebatan Rossi

Berbanding terbalik dengan prestasi timnas Indonesia yang justru harus tersingkir lebih awal di penyisihan grup 2 kali berturut-turut. Padahal, timnas Indonesia telah memberlakukan pemain-pemain naturalisasi untuk turut bermain di Piala AFF sejak 2010 lalu. Dengan kehadiran Christian Gonzales dan Irfan Bachdim yang menjalani debut pertama kalinya kala itu, sempat akan mewujudkan mimpi bagi persepakbolaan Indonesia setelah melaju hingga babak final. Namun sayang, proses menaturalisasi pemain yang digadang-gadang bisa membawa prestasi bagi timnas Indonesia, malah dengan mudah ditaklukkan oleh Malaysia di laga final. Dan pada akhirnya, Malaysia yang mengharamkan naturalisasi itu, justru berhasil meraih juara AFF dengan pemain-pemain asli tanah airnya.

Di Piala AFF kali ini, sebelumnya Malaysia sempat diragukan untuk bisa sampai ke semifinal. Semenjak ditinggalkan oleh Dattok Rajagopal (pelatih yang mengantarkan juara AFF 2010) tahun 2013 lalu, dan berganti ke era Dollah Saleh bulan Juni 2014. Malaysia melakukan rangkaian partai uji coba sebanyak lima kali, dan hasilnya begitu buruk dengan empat kali kekalahan dan sekali seri. Di penyisihan grup B pun, Malaysia tidak tampil dalam performa terbaik, setelah ditahan imbang Myanmar dan kalah dari Thailand. Namun akhirnya, Malaysia menjawab keraguan itu dengan kemenangan atas tuan rumah Singapura yang hasil tersebut otomatis meloloskan Malaysia ke semifinal.

Jika melihat prestasi Malaysia selama 3 kali Piala AFF terakhir digelar, PSSI, BTN, dan Timnas sendiri harusnya merasa malu. Kalau berbicara tentang kompetisi sepak bola, Indonesia lebih unggul ketimbang Malaysia. Apalagi, Malaysia sama sekali tak menggunakan jasa pemain-pemain naturalisasi dalam timnasnya, berbeda dengan Indonesia yang seharusnya lebih kuat dan berkembang setelah diperkuat warga-warga negara asing itu. Kelebihan Malaysia yang tidak dimiliki oleh pemain-pemain Indonesia adalah perasaan bangga membela tanah airnya, semangat nasionalisme, dan mental juara. Tentu kita masih ingat saat Piala AFF 2010, di mana timnas kita sempat menganggap enteng Malaysia setelah di fase grup mengalahkan Malaysia dengan skor mencolok 5-1. Tapi karena Malaysia lebih punya mental juara, maka timnas Indonesia pun akhirnya dipaksa gigit jari karena kalah dengan kesombongan di laga final.

Baca Juga :  Inter Rebut Tahta

So, hanya sekedar saran. PSSI dan BTN sebaiknya tak perlu malu mencontohi timnas Malaysia. Jika sudah menemukan rahasia kesuksesan timnas Malaysia tersebut, dan di kemudian hari jika Indonesia mampu mengungguli torehan timnas Malaysia, di saat itulah timnas Indonesia bisa kembali menjadi raksasa sepak bola Asia Tenggara, mungkin?

Oleh : Djarwopapua
Sumber : www.kompasiana.com/djarwopapua

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 6 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*