PT Virgo Ganti Rugi Ikan yang Mati Rp23 Juta untuk 3 Lubuk

PT Virco akhirnya mengganti rugi ikan warga yang mati di Lingkungan 3, 8 dan 9. Matinya ratusan ikan di tiga lubuk larangan tersebut akibat pipa pembuangan limbah perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan karet itu bocor hingga limbahnya mencemari Sungai Batang Ayumi, Rabu (9/3) lalu. Ketua lubuk larangan Lingkungan 9, Luhut Harahap kepada wartawan, Kamis (17/3) membenarkan PT Virco sudah mengganti kerugian masyarakat sebesar Rp23 juta.

“Sudah diganti perusahaan beberapa waktu lalu sebesar Rp23 juta untuk tiga lubuk larangan. Makanya kita berencana akan mengganti ikan yang ada di lubuk larangan dalam beberapa minggu ke depan. Dalam kesepakatan kita warga dengan perusahaan, jika terjadi lagi kejadian serupa, maka perusahaan harus mengganti kerugian masyarakat,” ujarnya.
Diutarakan Harahap, ke depannya mereka tak ingin lagi bocornya limbah itu terjadi kembali. “Mungkin saja efeknya saat ini untuk ikan, tapi bagaimana jika itu terjadi kepada manusia? Tentunya bisa menimbulkan masalah yang lebih serius lagi,” ketusnya.

Untuk itu Harahap mengharapkan kepada perusahaan dan pemerintah untuk menjaga agar limbah PT Virco tidak mencemari Sungai Batang Ayumi yang juga digunakan masyarakat untuk mandi cuci kakus (MCK), selain juga dimanfaatkan untuk membuat lubuk larangan. Sementara itu perwakilan PT Virco, Herman kepada METRO, Selasa (15/3) lalu membenarkan pihaknya sudah memberikan ganti rugi sebesar Rp23 juta untuk tiga lubuk larangan milik warga.
Disebutkan Herman, agar kejadian serupa tidak terulang lagi, dan untuk memastikan apakah limbah PT Virco berbahaya atau mencemari Sungai Batang Ayumi, pihaknya ingin hasil uji laboratorium tersebut dipublikasikan kepada masyarakat dan juga diserahkan kepada pihaknya.

Baca Juga :  Todung Mulya Lubis Sumbang Gedung Sekolah Di Muara Botung Kotanopan

“Jadi kita butuh kepastian secepatnya, karena kami tak ingin ada kesimpangsiuran informasi di masyarakat. Jika memang benar limbah kami berbahaya bagi lingkungan, tentunya kami akan perbaiki,” ucapnya. “Kami juga tak ingin nantinya masyarakat dengan mudahnya mengklaim kerusakan di sungai akibat limbah kami, sebab kami juga tak ingin dirugikan. Artinya jika memang limbah kami berbahaya, kami akan berbenah. Dan jika limbah kami tak berbahaya, kami minta dipublikasikan agar masyarakat tahu. Untuk itu kami minta pemerintah (Kapedalda, red) objektif dan menyampaikan hasil laboratorium sebenar-benarnya, sehingga semuanya jelas,” tambahnya. (phn) (metrosiantar.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 8 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

1 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*