Puasa, Ajang Introspeksi Nasional

Oleh: Ali Rif’an

Bangsa Indonesia kini sedang dirundung banyak masalah. Tingginya eskalasi politik, makin maraknya korupsi dan suap, runtuhnya etika berbangsa, santernya radikalisme agama, kemiskinan, dan semakin mahalnya tingkat kejujuran di masyarakat adalah kenyataan yang menghiasi wajah Negeri Pertiwi saat ini.

Terhadap fenomena itu, kita mesti bersyukur bahwa bulan suci Ramadhan segera tiba. Bulan Ramadan merupakan bulan yang mulia dan penuh kemuliaan. Di bulan ini, Allah SWT menurunkan Al-Quran bagi umat manusia sebagai petunjuk untuk membedakan antara yang haq dan yang bathil (QS Al-Baqarah: 185).

Ibadah puasa merupakan ibadah yang disyariatkan oleh Allah SWT dengan kaifiyah atau tatacara tertentu, yaitu dengan mengendalikan diri atau mencegah dari segala sesuatu yang membatalkan, seperti makan, minum serta bersetubuh. Selain itu, juga menjauhkan diri dari segala sesuatu yang diikuti nafsu.

Terdapat dua aspek yang tidak bisa ditinggalkan dari puasa. Pertama, aspek mengendalikan diri yang bersifat ritual formal. Kedua, aspek spiritualitas yang bersifat rohaniah.

Tentu kehadiran bulan puasa kali ini penting sebagai ajang introspeksi diri secara bersama-sama. Kita perlu merekap dan merekam pelajaran apa saja yang dapat kita rasakan dan terima selama menjalani ibadah puasa. Ibarat penelitian, ini merupakan penelitian terlibat. Ibarat survei, ini merupakan survei yang sekaligus mempraktikkannya dalam pengalaman. Bukan atas dasar pengamatan, tetapi atas dasar semua hal yang dialami dengan semua pancaindera. Dalam praktik ibadah puasa, esensi penting di dalamnya adalah kita dianjurkan untuk introspeksi. Bukan sekadar merenung, tetapi merenungkan apa yang telah dan sedang dilakukan setahun ini.

Karena itu, terdapat beberapa dimensi penting untuk kita renungkan pada esensi bulan puasa. Pertama, kejujuran. Tentu kejujuran yang kita praktikkan dalam menjalankan ibadah puasa adalah kejujuran yang agung dan hakiki. Bagaimana tidak? Kita sangat mudah berbohong kepada orang lain, kepada keluarga, negara, dan siapa saja, tetapi tidak mungkin bisa kepada Allah SWT.

Puasa sangat erat kaitannya dengan kejujuran. Puasa adalah perkara batin dan hati, bukan fisik dan yang tampak saja. Siapa yang tahu kalau, misalnya, kita bilang puasa kepada orang lain, tetapi di dalam kamar makan dan minum. Di sini, puasa memerlukan kejujuran hakiki, karena langsung berkelindan dengan Tuhan.

Baca Juga :  Ramadhan Penuh Harapan

Dalam dunia kenyataan, kejujuran adalah modal untuk bisa dipercaya oleh orang lain atau trust. Kejujuran adalah modal yang sangat berharga bagi profesional dalam menjalankan tugas profesionalismenya. Kejujuran juga amat penting posisinya dalam kehidupan bernegara. Sebab, salah satu penyebab terpuruknya bangsa ini adalah karena minimnya kejujuran para elite politik.

Kedua, kesetiakawanan sosial. Ketika kita lapar, kita akan merasakan betul apa yang dirasakan oleh orang lain yang lapar. Demikian pula ketika kita merasakan dahaga dan kekurangan-kekurangan yang lain. Ini tentu dapat mengetuk hati kita untuk tidak menyia-nyiakan mereka yang memang berkekurangan, termasuk terhadap anak yatim. Artinya, dengan berpuasa, kita akan semakin tahu terhadap diri kita sendiri. Sebuah momen untuk melakukan perenungan, berdzikir, dan instrospeksi. “Wafi anfusikum afala tubshirun (dan pada dirimu sendiri, apakah kamu tidak melihatnya dengan mendalam.” (QS Al-Dzariyat: 21)

Dengan berpuasa, kita semakin merasakan betapa besar nikmat Tuhan yang telah kita peroleh. Puasa menggiring kita untuk semakin bersyukur kepada-Nya. Pelajaran bersyukur akan membawa kepada rasa simpati dan empati terhadap orang lain. Puasa kemudian mampu mendidik kita mendefinisikan kebahagiaan yang mencakup ketika sudah mampu ikut membantu dan membahagiakan orang lain. Dalam konteks kehidupan bernegara, tentu puasa dapat menginterupsi kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak pro-rakyat.

Ketiga, kesabaran. Tentu kesabaran ini menjadi kunci dari keberhasilan puasa. Betapa tidak, kita harus menahan lapar dan dahaga dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari, menjaga nafsu dan syahwat. Jika kita kaitkan dengan kehidupan bernegara, puasa dapat mengingatkan para elite politik kita yang ingin meraih kedudukan dan materi secara kilat dan instan, tidak mau berproses, supaya berintrospeksi dan membenahi tradisi berpolitiknya.

Keempat, perubahan. Perubahan ini berangkat dari sebuah komitmen yang diwujudkan dengan niat. Ketika seseorang sudah berniat untuk puasa, dengan sendirinya ia konsisten untuk mempraktikkan niat itu. Inti dalam praktik perubahan tersebut adalah komitmen diri. Tentu perubahan di sini adalah dalam pengertian positif. Change is growth; change is opportunity; change increases potential (perubahan adalah pertumbuhan; perubahan adalah kesempatan; perubahan meningkatkan potensi). Semua kita dapatkan dari makna Ramadhan ini.

Baca Juga :  Janda Pejuang Ini, Bertahun-tahun Hidup di Kandang

Orang yang berpuasa mampu mengubah diri dari kebiasaan sehari-hari. Yang biasanya makan dan minum, tetapi selama puasa kita tidak melakukannya. Ini perubahan yang sangat mendasar, perubahan sangat bermakna dan sekaligus perubahan mindset. Dalam kaitannya dengan kehidupan bernegara, hal ini dapat menjadi inspirasi bagi para pejabat negara dan seluruh elemen bangsa untuk melakukan perubahan ke arah lebih baik ke depan. Dari kotor dan tidak jujur, menjadi bersih dan jujur. Dulunya pemalas, menjadi rajin dan penuh prestasi.

Akhir kata, semoga kehadiran Ramadhan ini dapat menjadi “oase” di tengah persoalan bangsa. Mari kita jadikan Ramadhan ini sebagai bulan introspeksi dari segala borok yang ada dalam diri pribadi dan bangsa. Mari kita menyucikan diri dan membersihkan hati. Selamat berpuasa!

*Penulis adalah kader muda Nahdlatul Ulama (NU) tinggal di Jakarta.

Sumber : www.suarakarya-online.com | Selasa, 2 Agustus 2011

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 7 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*