Puluhan Massa AMPBB Demo Kantor Walikota dan DPRD

P. Sidimpuan, (Analisa)

Puluhan massa yang menamakan diri Aliansi Mahasiswa Peduli Birokrasi Bersih ( AMPBB) menggelar aksi demo di kantor Walikota dan DPRD Kota Padangsidimpuan, Selasa (1/12).

Mereka menuntut agar Walikota Padangsidimpuan dan DPRD segera mencopot Sekretaris Daerah Kota (Sekdakot) H.Sarmadhan Hasibuan SH karena telah menyalahgunakan jabatannya.

Pantauan Analisa, aksi unjuk rasa puluhan massa AMPBB ini diawali di kantor DPRD P. Sidimpuan sekitar pukul 11.00 WIB, namun karena tidak satupun anggota dewan yang berada ditempat, akhirnya mereka memutuskan bergerak menuju kantor walikota.

Sekitar 100 meter dari kantor walikota, tepatnya didepan tugu air mancur massa AMPBB berhenti guna bergabung dengan masyarakat yang sudah menunggu lebih dulu.

Dari tugu air mancur massa AMPBB yang merupakan gabungan mahasiswa dan masayarkat itu melakukan aksi longmarch menuju kantor Walikota sembari mengusung spanduk panjang yang bertuliskan ‘Copot Sarmadhan’.

Dalam pernyataan sikap yang dibacakan kordinator aksi Andi Lumalo bersama Amir Hamzah dan Adi Syahputra disebutkan, proses tahapan seleksi CPNS telah selesai namun banyak hal yang menimbulkan tanda tanya besar terutama tentang keputusan Pemko Padangsidimpuan yang pada akhirnya bertentangan dengan himbauan Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) terkait kerjasama seleksi CPNS dengan USU.

Indikasi kecurangan lain saat seleksi CPNS lalu yaitu tidak diikutsertakannya Polresta Padangsidimpuan dalam pengawalan berkas ujian dari Solo ke Medan serta sebaliknya. ” Fakta-fakta tersebut menandakan jika seleksi CPNS di Pemko Padangsidimpuan jauh dari unsur KKN,” ujarnya.

Baca Juga :  Kebijakan Pj Bupati Madina Ditentang

Hal yang paling aneh lagi terlihat dari MoU antara Pemko Padangsidimpuan dan Universitas Sebelas Maret ternyata baru diterima dan diketahui DPRD pada Senin 30 November 2009 padahal penyelengaraan seleksi pada 27 November.

“Apakah DPRD tidak peduli dengan nasib masyarakat yang telah memilihnya atau sekdakot selaku ketua panitia tidak mau berkordinasi, “katanya.

Singgung

Dalam pernyatan sikapnya mereka juga kembali menyinggung ucapan Sekdakot beberapa waktu lalu yang merendahkan dan mencoreng nama baik USU terkait alasan kenapa tidak menjalin kersama dengan USU.

Akibat pernyataan Sekdakot yang mengatakan USU kurang profesional dalam merekrut CPNS berimbas pasa rencana pihak USU yang tidak akan menerima calon mahasiswa asal Padangsidimpuan dari jalur PMP.

Hak Angket

Selain itu, AMPBB meminta DPRD Kota Padangsidimpuan untuk mengeluarkan hak angket pemberhentian Sekda Sarmadhan Hasibuan karena tidak mau memihak rakyat terlihat dari kordinasi MoU yang baru diketahui dewan tiga hari setelah ujian seleksi CPNS.

Mendesak DPRD mengeluarkan hak angket pemberhentian Sarmadhan selaku Sekdakot karena bertanggung jawab atas adanya dugaan mark up dan korupsi disekretariat.

Dalam aksi itu massa AMPBB juga mendesak Sekdakot sebagai ketua panitia seleksi CPNS agar membubuhkan tandatangan dikertas bermaterai 6000 yang berisikan pernyataan jika hasil CPNS ini nantinya terjadi kecurangan maka Sarmadhan mengundurkan diri dari jabatannya.

“Kami menantang Sekadakot Sarmadhan Hasibuan membubuhkan tanda tangan dalam surat perjanjian bermaterai ini, jika memang seleksi ini bakal bersih dari KKN, “katanya.

Baca Juga :  Di Psp dan Tapsel 280 Siswa Tak Lulus UN

Atas peran negosiator Polres Kota P.Sidimpuan Bripka Iskandar, massa akhirnya bersedia memasuki aula kantor walikota guna berdiskusi dengan Sekdakot yang didampingi sejumlah pejabat Pemko.

Namun dalam dialog tersebut tidak tercapai kesepakatan sebagaimana tuntutan massa AMPBB karena Sekdakot tidak mau hadir dan menolak membubuhkan tanda tangan diatas kertas bermaterai yang menuntut dirinya mundur jika seleksi CPNS tidak bersih.

Pertemuan akhirnya deadlock dan massa membubarkan diri dengan tertib sembari mengancam akan kembali menggelar aksi yang lebih besar.

Massa AMPBB ini terdiri dari AMMPKP, KAM Pembaharuan USU, DPP Komtabagsel dan Geserma. (hih)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*