Puluhan OTK Rusak Tempat Pelelangan Ikan, Dermaga Tapian Nauli Tapteng & Aniaya Warga

Sekelompok orang tidak dikenal (OTK) melakukan aksi pengerusakan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan Dermaga Labuan Angin, Tapian Nauli, Tapteng, Senin (4/10). Selain itu, seorang warga yang dituduh penghianat dalam sengketa lahan jalan menuju PLTU Labuan Angin juga dianiaya.

“Setelah dapat laporan dari petugas penjaga TPI, Udin Hutagalung, kita langsung menginformasikan ke pihak Polres Tapteng. Lalu kita buat laporan pengaduan,” terang Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Tapteng, Aliamsyah Sitompul SE kepada METRO, Selasa (5/10) di Sibolga.

Dijelaskannya, dari informasi yang kita dapat, aksi pengerusakan itu diduga dilakukan oknum berinisial S dan kawan-kawan. Sedangkan bagian yang dirusak diantaranya pintu gerbang dan tangga kayu TPI Labuan Angin. “Sekitar jam 21.00 WIB, kita bersama Kapolres dan Wakapolres Tapteng meninjau tempat kejadian untuk melihat langsung kondisi kerusakan,” terangnya.

Setelah meninjau lokasi, lanjut Aliamsyah, petugas jaga, Udin Hutagalung dan istri Teleria Simatupang langsung diambil keterangannya menindaklanjuti Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Selanjutnya, masih Aliamsyah, Kapolres Tapteng menyarankan agar personel dari Polres Tapteng ditempatkan menjaga lokasi. “Polisi juga langsung mengidentifikasi bukti pengerusakan,” katanya.

Informasi dihimpun, usai melakukan pengerusakan di TPI Labuan Angin, kelompok OTK kemudian bergerak menuju Dermaga Labuan Angin. Di dermaga yang masih dalam pengerjaan tersebut, OTK juga merusak papan jalur mengangkat bahan bangunan gedung pabrik es.

Abdul Sani Sihite Dianiaya

Pada hari yang sama, sekelompok OTK juga menganiaya Abdul Sani Sihite (62) alias Pak Nasirun, warga Desa Tapian Nauli II, Tapian Nauli,  Tapteng. Aksi penganiayaan terjadi di Simpang Jalan Hantar Labuan Angin, Desa Tapian Nauli II, Kecamatan Tapian Nauli, Tapteng sekitar pukul 22.00 WIB.

“Waktu saya sedang buang air kecil. Tiba-tiba mereka (OTK-red) menyerang saya membabi buta, ada sekitar sepuluh orang. Wajah saya dihantam pakai batu, saya terjatuh, kemudian mereka lari. Saya tidak jelas melihat wajah mereka,” terang Abdul Sani Sihite yang ditemui METRO, Selasa (5/10).

Baca Juga :  Desa Tipang Objek Wisata Megalitik Batak

Setelah kelompok OTK lari, korban kemudian ditolong oleh dua orang pria yang mengaku petugas Satpol PP dan membawanya ke rumah salahsatu kerabatnya. Kemudian, setelah menghubungi aparat Polres Tapteng, LP korban dibawa mengadu ke Polres Tapteng dengan LP Nomor : LP/93/X/2010/SU/RES TAPTENG sekitar pukul 00.30 WIB.

Dia menyayangkan pernyataan petugas kepolisian yang sempat mengatakan tidak ada saksi yang melihat. “Saya malah disuruh cari saksi, itukan tugas polisi. Jadi bagaimana kalau saya waktu itu sampai mati. Kasusnya bagaimana, apa pelakunya enggak dicari,” tandasnya.

Menurut duda tujuh anak ini, aksi penganiayaan terhadap dirinya itu disinyalir terkait dengan sikapnya dalam sengketa lahan jalan menuju PLTU Labuan Angin. Karena saat dianiaya, kelompok OTK tersebut sempat menyebut dirinya sebagai penghianat. Itu berhubung karena korban tidak lagi sepaham dengan aksi-aksi yang dilakukan warga dalam menuntut ganti rugi lahan.

“Awalnya saya ikut, bahkan saya salahsatu warga dan penggerak aksi demo menuntut ganti rugi. Tapi belakangan ini triknya sudah lain, tidak benar lagi caranya. Ini sudah jadi proyek salahsatu oknum penggerak massa,” katanya.

Perhatikan saja, lanjut dia, setiap warga dan pelajar yang lewat dari jalan yang diblokir dimintai sejumlah uang. Misalnya warga transmigrasi yang tinggal di kawasan jalan menuju PLTU Labuan Angin.

“Seperti ajang pungutan liarlah, jadi tidak benar lagi itu,” kata pria yang mengaku adik iparnya juga termasuk dalam sengketa tersebut yang memiliki tanah seluas 60 x 20 meter.

Baca Juga :  Bayi Kembar Siam asal Bandar Masilam ''Simalungun'' Lahir di Medan

Karena khawatir akan keselamatannya, korban yang mengalami luka pada bagian wajah dan kening sebelah kanan dengan luka 6 jahitan itu kini sementara tinggal di rumah kerabatnya. Dan dua anaknya yang masih usia sekolah juga terpaksa tinggal di rumah kerabat mereka yang lain. “Sekarang rumah kosong, biar di situ, mau dibakar atau mau diapakan terserah mereka,” tandasnya.

Sementara itu, Kapolres Tapteng, AKBP Dicky Patrianegara SH SiK MSi melalui Kasat Reskrim Polres Tapteng, Iptu Ari Setyawan Wibowo SH membenarkan kejadian tersebut.

Namun menurut Kasat Reskrim, pihaknya masih baru menerima LP dan belum dapat menetapkan siapa-siapa pelakunya.

“Belum, belum, kita baru terima LP-nya. Setelah dapat fakta dan bukti  dalam pengusutan selanjutnya, baru bisa kita dapat siapa-siapa pelakunya,” terang Kasat Reskrim yang dihubungi melalui selulernya saat ditanya apakah sudah ada tersangka dalam kasus ini, Selasa (5/10). (mora)

Sumber: http://metrosiantar.com/METRO_TAPANULI/Puluhan_OTK_Rusak_TPI_Dermaga_Aniaya_Warga

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*