Puluhan Tahun Jalan Dusun Sirame-ramean Di Angkola Barat Memprihatinkan

5966249220995300ce7abba3faf8e940a6e77cc Puluhan Tahun Jalan Dusun Sirame ramean Di Angkola Barat MemprihatinkanTanjakan terjal disertai jalan bebatuan dan lumpur menuju Dusun Sirame-ramean, Pangaribuan, Bufet, Aek Martolu, Aek Nauli, sekitar 500 an Kepala Keluarga (KK) dihuni beberapa dusun itu, yang masuk dalam naungan Desa Sisundung, Kecamatan Angkola Barat, Kabupaten Tapanuli Selatan, puluhantahun dusun itu belum tersentuh jalan yang memadai, juga jaringan listrik PLN masih nol besar.

Dusun yang belum dapat dimasuki kendaraan roda empat secara rutin, akibat buruknya jalan, masyarakat desa dan dusun, sebelumnya bergotong royong untuk membatui jalan menuju beberapa dusun, yang jaraknya sekitar tujuh kilometer dari Kantor Kepala Desa Sisundung, yang dikepalai Drs Aswin Dalimunthe.

Kendala utama bagi masyarakat di beberapa dusun di puncak pegunungan itu, sulitnya anak sekolah dasar untuk bersekolah menuju ibukota dusun, setiap harinya.

Seperti Ibu Nur Sitompul, 35, istri dari Girsang 36. Sekira pukul 04:30, sudah menyiapkan makanan untuk Rahman 8, Sofia 12, anak-anaknya yang bersekolah di Desa Sisundung. Akibat jauhnya pekan Sabtu di Sitinjak, terkadang minyak goreng tidak mereka miliki. Alhasil, terpaksalah ‘’ manutung ikkan asin’’ disebut juga ‘’bakar ikan asin’’ sembari senyum di rumah yang ditempatinya masih berdinding papan dan memiliki kolong,ungkapnya kepada Waspada di dusun itu, Sabtu (14/7).

Selain sulitnya bersekolah untuk pendidikan dasar bagi anak-anak warga dusun itu, dalam memasarkan hasil bumi juga mereka rasakan masih sulit, nyatanya kuda beban sebagai alat transportasi alternatif, untuk mengangkut hasil bumi di pegunungan itu, seperti salak, karet, gula aren, kemiri dan lainnya, jika di Pasar Sanggumpal Bonang Padang Sidimpuan, Harga Salak perkilo gramnya, sekitar tujuh hingga sembilan ribuan, namun, di dusun itu, per karung salak dengan berat sekira 30 Kg, dihargai toke sekitar Rp.25 Ribu.

Baca Juga :  Gunungtua Tonga Children Juara Umum Satahi Cup

Wakil Ketua DPRD Tapanuli Selatan, Hasbin Sitompul dari Partai Demokrat daerah pemilihan Angkola Barat, ketika ditemui Waspada di kantornya Jalan Jenderal Sudirman, Kota Padangsidimpuan kemarin, mengatakan, akan memperjuangkan sarana jalan yang memadai ke dusun di Pegunungan Sisundung.

Kenyataan itu memang terwujud, namun hanya sekitar satu kilometer, proyek yang dinaungi Dinas Pekerjaan Umum Tapsel. Pantauan Waspada di lokasi keadaan pembangunan proyek jalan masih dalam pengerjaan, dengan panjang sekitar

satu kilometer, dengan jumlah dana limaratus juta rupiah, dikerjakan oleh CV Cahaya Pelita, dengan volume proyek cor rabat 280 m3, sumber dana DBH (Dana Bantuan Hibah) Tahun Anggaran 2010, pengerjaannya dimulai sesuai papan plang merk proyek, pada bulan Juni-Oktober 2010, ditengarai proyek asal jadi sebut beberapa warga.

Harapan warga itu dicetuskan salah satu penarik kuda beban, Topet Harahap,36. ‘’kalaulah jalan ke dusun ini bagus, harga salak kami semakin baik, masyarakat juga sejahtera, anak-anak sekolah pastinya dapat diantar melalui kendaraan roda dua minimalnya, namun hingga saat ini, anak-anak sekolah masih berjalan kaki setiap harinya, paling sulitnya jika hujan turun, jalan semakin licin, para anak sekolah itu akan meliburkan diri’’, ungkap Topet.

Sulitnya jalan ke beberapa dusun yang ada di Desa Sisundung, yang hanya berjarak sekira enam belas kilometer dari ibukota Tapanuli Selatan saat ini di Kota Padangsidimpuan, sebagai PR bupati pilihan rakyat yang baru. Ratusan warga di pegunungan itu menantikan sarana jalan yang layak, untuk peningkatan sumber daya manusia, dan sumber daya alam, yang begitu melimpah, namun harga tetap tidak stabil.

Baca Juga :  Walikota Padangsidimpuan Jangan Salah Pilih Mengangkat Pimpinan SKPD

Sumber: http://www.waspadamedan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=5452:puluhan-tahun-jalan-dusun-sirame-ramean-di-angkola-barat-memprihatinkan&catid=52:sumut&Itemid=207

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

1 Komentar

  1. Mengutip berita pada kalimat: \…masyarakat beberapa dusun di puncak pegunungan… \, rasanya kok nurani jadi miris? Dalam sejarah demografi di Tabagsel d/h Tapsel, migrasi dan konsentrasi penduduk pribumi lokal mengarah sepanjang Jalan Lintas Sumatra (kini Jalinsum Tengah) seputaran lembah-lembah diapit barisan pegunungan dibelah sungai dan anak-anaknya. Pada awal abad 20 Pemerintah jajahan Hindia Belanda membuka Jalinsum (kini tengah), pemukiman penduduk pribumi berpindah ke lahan di tepi Jalinsum. Contoh gamblang pemukiman Kekuriaan Sayur Matinggi sebelum dibuka Jalinsum, berada di hilir Aek Batang Gadis persisnya di muara Aek Langkumas. Sampai akhir era Orba 1999 yang dikenal hanya nama kelompok perambah liar bermukim di dalam kawasan hutan negara. Dampak pembangunan pemukiman di lereng dan puncak pegunungan sebenarnya sudah bisa dijadikan pelajaran untuk kapok bagi warga dan pemerintahan di Tapsel. Contoh gamblang bandingannya ialah kasus bencana banjir bandang di Desa Goti Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara d/h Kec. Batang Angkola –yang mungkin sudah terlupa dari benak banyak orang– pada tahun 1988. Yang berasal dari puncak dan lereng pegunungan. Kini entah dengan suatu cara atau bagaimana, statusnya secara ketentuan pemerintahan telah jadi dusun. Tetapi secara aturan kehutanan, areal seputaran dusun di lereng dan puncak-puncak pegunungan masih berstatus kawasan hutan negara.
    Gimana dengan future effect dari aspek ekologi?
    Nampak manusia disini memang tidak ngerti kapok. Contoh gamblang ketiga, masyarakat di Goti dan sekitarnya kini melupakan sejarah bencana alam 22 tahun lalu, malah membuat proyek uang negara dari sumber APBN-PNPM membuka jalan baru sepanjang 4 Km naik ke lereng dan puncak pegunungan masuk ke dalam kawasan Hutan Lindung Reg-6 Angkola-II.
    Resiko masa depannya sudah mulai menunjukkan bukti, Februari 2010 lahan masyarakat petani di sepanjang tepi hilir Aek Bt Bahaldi Desa Batang Bahal hancur dilanda-benam lautan pasir penuh limbah pohon kayu, akibat sebagian masyarakat desa membuka mata-pencaharian baru, perambah hutan lindung dan suaka margasatwa Barumun di sekitar hulu dan mata-air Aek Batang Bahal. Idem dito nasib kelompok petani di Desa Labuhan Rasoki, pemukimannya remuk dilanda bah campur limbah.
    Jika kini pemukiman eks perambah di puncak pegunungan telah absah via KTP \tembak\ dan peringkat status dusun telah absah, wajar saja diingatkan pada pemukim pribumi di desa-desa di hilir sungai-sungai dan lembah-lembah Angkola dan Sangkunur untuk waspada setiap sa’at selalu. Bencana banjir longsor melanda hilir dan lembah-lembah di Tapsel yang sumber airnya selama berabad-abad lestari dilindungi kawasan hutan di puncak-puncak dan lereng-lereng pegunungan, kini dan seterusnya akan terancam bahaya bencana banjir longsor rutin kontinu.
    Tapi daya tangan tak sampai, hajat hati melambai. Aku cuma rakyat banyak keluhan, bukan ikut barisan para pengambil keputusan. Paling banter hanya berniat, takut bermukim di kaki-kaki pegunungan yang di puncaknya sudah penuh ummat manusia. Salah-salah nanti Tim SAR cuma bisa tancapkan kayu nisan bertuliskan Telah disemayamkan si anu .. akibat bancana alam, di atas timbunan longsoran.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*