Pungli di Jalinsum Meresahkan

Tapsel, Para pengendara roda empat atau lebih mengaku resah akibat maraknya pungutan liar di sepanjang Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) kawasan Keca­matan Angkola Timur dan Sipirok.

“Pungli ini sudah sangat meres­ah­kan dan harus segera ditertibkan,” ujar Kodir Pohan (48) salah seorang pengen­dara kepada Analisa saat melintas di Jalinsum Sipirok, Rabu (26/11).

Diungkapkannya, beberapa titik yang menjadi lokasi pungli antara lain, jalinsum dan jalan alternatif Parga­rutan Jae, Desa Situmba dan sekitar Aek Latong Baru Kecamatan Sipirok.

“Kemacetan akibat proyek peleba­ran Jalinsum Sipirok-Pargarutan menjadi ajang warga untuk memungli kendaraan yang melintas,” katanya.

Kodir mengaku heran, tidak adanya upaya dari pihak ke­polisian maupun Pemkab Tapsel untuk menertibkan sikap tidak terpuji warga sekitar Jalinsum tersebut.

“Hampir setiap jarak 100-200 me­ter pungli terlihat di Jalinsum maupun ja­lan alternatif di kawasan itu. Aneh­nya meski sudah berlangsung lama, tetap saja tidak ada sikap tegas dari aparat terkait,” katanya.

Dikhawatirkannya, jika pung­li terus berlanjut akan dapat mencip­takan bentrokan antara pengendara dan warga setempat. “Sikap warga yang memungli pengendara itu sudah di luar batas kewajaran karena sudah men­jurus pemaksaan dan intimidasi, maka jika terus dibiarkan, bisa memicu bentrokan dan merusak nama baik Pemkab Tapsel,” tuturnya.

Hal senada dikatakan Faisal (42) pengendara angkutan umum jenis taksi, yang mengaku, pernah dikejar warga aki­bat tidak mau menyetor uang. “War­ga mengejar dan me­maki-maki saya karena tidak mau bayar,” ungkapnya.

Baca Juga :  Bupati Tapsel Resmikan Sanimas Masjid Taqwa Batu Godang

Faisal mengaku sempat ber­balas kata dengan warga namun karena sudah menjurus bentrok fisik akhirnya ia mengalah. “Kalau saya tetap ngotot, mungkin warga akan memukuli saya dengan pentongan yang mereka bawa,” ujarnya.

Diharapkannya, aparat Polres dan Pemkab Tapsel untuk tidak tinggal diam dengan kondisi tersebut. “Kepo­li­si­an dan Pemkab Tapsel harus ber­tindak jika tidak ingin disebut melakukan pem­biaran Pungli di daerahnya,” imbuhnya.

Pantauan Analisa, pungli itu biasa dilakukan warga mulai pukul 19.00 hingga 00.00 WIB untuk kawasan jalinsum dan alternatif Pargarutan Jae. Se­dang untuk kawasan Jalan Aek Latong Baru sekitar pukul 20.00 hingga 04.00 WIB.

Mo­dusnya beragam di an­taranya, pu­ra-pura menimbun badan jalan, me­ngatur kelan­caran lalu lintas hingga me­­ngarahkan kejalur alternatif. Se­­lan­jut­nya, warga menyo­dorkan kotak ke­pada pengendara dengan maksud me­minta upah (uang) atas usahanya. (hih)

/(Analisa)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 5 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*