Racuni Anak Sekolah – Jaringan Narkotika Kerja Sama dengan Pedagang

Budi Waseso
Budi Waseso (Photo KOMPAS.com)

Kepala Badan Narkotika Nasional ( BNN) Komjen Budi Waseso atau Buwas mengatakan, program pemerintah terhadap pencegahan narkotika masih kalah dengan kegiatan jaringan pengedar narkotika yang beroperasi di Indonesia.

Bahkan, setiap jaringan terus melakukan kegiatan regenerasi pangsa pasar dengan menyisihkan 10 persen dari hasil penjualannya. Padahal, terdapat 71 jaringan yang beroperasi di Indonesia. Jaringan itu berasal dari 11 negara.

Sementara itu, kegiatan regenarasi itu dilakukan terhadap anak-anak yang masih berada di bangku Taman Kanak-kanan (TK), Sekolah Dasar (SD), dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Caranya yaitu dengan mencampuri jajanan yang mereka makan dengan narkotika. Harapannya, ketika mereka sudah menginjak Sekolah Menengah Atas (SMA) bisa menjadi pangsa baru peredaran narkotika.

(Baca juga : Buwas: Indonesia Darurat Narkoba Sejak 1971 Sampai Sekarang)

“Mereka bekerja sama dengan pedagang di lingkungan itu (sekolah) dengan mencampuri makanan apa saja dengan narkotika. Tujuannya adalah anak-anak ini teracuni oleh narkotika sehingga saat SMA nanti menjadi pangsa pasar narkotika,” katanya dalam acara Ikatan Keluarga Alumni Institut Injil Indonesia di Sekolah Alkitab Kota Batu, Jatim, Kamis (2/11/2017).

Di sisi lain, jenis narkotika yang beredar di Indonesia merupakan terbanyak di dunia. Sebanyak 68 dari 800 narkotika jenis baru sudah beredar di Indonesia.

Dalam waktu dekat, jika tidak ada penanganan yang signifikan, seluruh narkotika jenis baru itu akan turut mewarnai pangsa pasar Indonesia. “Dan pasti, cepat atau lambat 800 jenis baru itu akan masuk ke Indonesia,”

Karena banyaknya jenis narkotika yang beredar di Indonesia, Budi Waseso yang akrab disapa Buwas mengatakan Indonesia merupakan negara terbanyak peredaran jenis narkotika.

Ia lalu membandingkannya dengan jenis narkoba yang beredar di negara-negara lain. Seperti di Amerika Serikat yang hanya ada enam jenis narkotika, di Perancis empat jenis, Belanda lima jenis dan di Australia hanya lima jenis narkotika.

“Begitu di Indonesia semua ada. PCC dipakai, obat nyamuk dipakai, lem dipakai. Saya tidak mengerti apa yang terjadi terhadap generasi Indonesia,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, harga narkotika di Indonesia juga tergolong mahal dibanding dengan negara-negara lain. Menurutnya, harga narkotika di Indonesia melebihi harga emas dalam takaran yang sama.

Buwas mengungkapkan, banyak faktor yang menyebabkan jaringan narkotika dengan mudah masuk ke Indonesia. Salah satunya adalah banyaknya akses darat yang bisa dilalui.

Selain itu, sikap masyarakat yang apatis terhadap kasus narkotika dan minimnya pemahaman masyarakat tentang bahaya narkotika. Karena itu, ia meminta semua pihak turut memberikan pemahaman tentang bahaya narkotika.

“Tokoh agama menyuarakan narkotika dari sudut pandang agama. Karena semua agama melarang. Bahwa perintah Tuhan tidak bisa dilanggar karena ini dosa besar. Menteri pendidikan berbicara narkotika dari sisi pendidikan. Menteri Kesehatan berbicara dari sudut pandang kesehatan,” paparnya. /KOMPAS.com

google Racuni Anak Sekolah   Jaringan Narkotika Kerja Sama dengan Pedagangfacebook Racuni Anak Sekolah   Jaringan Narkotika Kerja Sama dengan Pedagangtwitter Racuni Anak Sekolah   Jaringan Narkotika Kerja Sama dengan Pedaganglinkedin Racuni Anak Sekolah   Jaringan Narkotika Kerja Sama dengan Pedagangemail Racuni Anak Sekolah   Jaringan Narkotika Kerja Sama dengan Pedagangprint Racuni Anak Sekolah   Jaringan Narkotika Kerja Sama dengan Pedagang

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*