Rakyat Madina Harus Bersatu Melawan Kezaliman dan Borjuis

Hasil pemilihan kepala daerah (pilkada) di Kabupaten Mandailing Natal yang dilaksanakan pada 9 Juni lalu merupakan salah satu bukti masyarakat Mandailing Natal sudah bosan gaya kepemimpinan yang penuh kepalsuan.

“Sudah cukup masyarakat Madina menderita baik lahir dan bathin sejak repubik ini diproklamirkan hingga Mandailing Natal berpisah dari Kabupaten Tapanuli Selatan,” kata Syahriri Nasution SE yang dihubungi wartawan, Minggu (18/7) yang dimintai tanggapannya hasil pilkada  selaku putara daerah Batang Natal yang berada di perantauan.

Menurutnya, masyarakat Mandailing Natal telah bosan gaya-gaya kepemimpinan kapitalis palsu di bumi gordang sambilan. “Rakyat Madina haruslah bersatu untuk melawan kezaliman dan borjuis yang sedang mensetting hasil pilkada yang sudah lama dinanti-nantikan masyarakat Mandailing Natal,” tegas Syahrir yang merupakan Ketua Cabang Ikatan Sarjana Ekonomi- ISEI Binjai Perwakilan Sumatera Utara.

Persoalan politik uang, kata Syahrir, yang dituduhkan kepada pasangan nomor urut 6 dinilai sangat berlebihan karena di dalam pelaksanaan pilkada di seluruh Indonesia persoalan politik uang. ” Padahal dari sejumlah keterangan dari masyarakat, politik uang  juga dilakukan oleh pasangan calon lainnya,” kata Syahrir Nasution yang juga Ketua Dewan Pembinan Lembaga Perberdayaan Petani dan Petanian ( LP3 ) Sumut.

Selaku putara daerah dari  Kecamatan Batang Natal, Syahrir berharap agar masyarakat Mandailing Natal untuk tetap istiqomah dalam pilkada ulang nanti untuk tetap menjatukan pilihan kepada pasangan nomor urut 6. “Masyarakat Batang Natal sangat bangga terhadap Drs Dahlan Hasan Nasution yang selama menjabat sebagai penjabat Bupati Madina 2005 lalu telah mampu membawa perubahan,” kata Syahrir.

Baca Juga :  Liverpool: Torres Memang Minta Dijual

Ia berharap  agar masyarakat Mandailing Natal dalam pilkada ulang nanti untuk mengingat pesan yang telah disampaikan oleh salah seorang pejuang Mandailing Natal yaitu Willem Iskandar yang menyatakan “Ulang Sai ma oto”. “Ini merupakan janjinya pada waktu akan meninggalkan Madina zaman dulu,” katanya seraya menambhakan melihat hasil Pilkada 9 Juni lalu, masyarakat Madina telah memenuhi janji yang dikatakan Wilem Iskandar tersebut dengan memilih pemimpin Madina yang akan membawa perubahan dan kesejahteraan bagi masyarakat.

Sumber: http://batakpos-online.com/content/view/15555/42/

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

6 Komentar

  1. Baru 1 peluru saja utk no 6, dan morat marit, belum lagi peluru ke 2 (Ijazah HB), peluru ke 3 (UU cabup/cawabup pasal 7, tdk pernah dihukum oleh pengadilan yg berkekuatan hkm tetap, wakilnya kan pernah dipenjara selama 2 thn krn penyalahgunaan wewenang), jadi gimana tuh yng mau mengusung perubahan.

  2. Pilih no 6, gak apa2 curang main suap, krn yang lain pun curang, kita harus lebih curang, yang lain bejat kita harus lebih bejat, mari dukung Perubahan di Madina, hidupkan budaya curang, suap, dan materialistik, pilih yang kaya jgn yang miskin, bersyukurlah karena kecurangan akan memimpin

  3. Betul dukung no 6, karena kita sudah dibayar !!! akan ada perubahan, tanah kita akan kita sumbangkan sebagai perubahan nantinya, ingat … ingat … voucher …. voucher … men,Selain no 6 adalah orang Zalim, hidup no. 6 … mari kita jilat bersama …

  4. hidup no 6. seperti lagu, (mawar selatan na ma ngusir belanda sen ….) kita ruba dikit ya. (pasangan no 6 na mangusir penjajah sen negri madina) wkakaka..

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*