Rakyat Skotlandia Tolak Merdeka dari Inggris

(AP/Matt Dunham) GEMBIRA: Pendukung kampanye “NO” (Tidak) untuk referendum kemerdekaan Skotlandia bersorak gembira merayakan hasil penolakan kemerdekaan di sebuah hotel Glasgow, Jumat (19/9).

Edinburgh, Rakyat Skotlandia  ternyata menolak opsi merdeka dan tetap menjadi bagian Kerajaan Inggris, berdasarkan hasil referendum, Jumat (19/9).

Jumlah warga yang tidak mendukung kemerdekaan 55,42 persen, sementara  yang mendukung tercatat 44,58 persen dengan 31 dari 32 daerah telah dihitung suaranya.

“Kami memilih tetap bersatu daripada merdeka,” ujar Alistair Darling, kepala kampanye No (Tidak) pada Jumat pagi di Glasgow.

“Jumat merupakan hari bersejarah bagi Skotlandia dan Kerajaan Inggris secara keseluruhan,” tambahnya.

Para penentang kemerdekaan di seluruh Skotlandia bersukaria ketika hasil itu diumumkan, sementara para aktivis pro-kemerdekaan kecewa dan sedih.

Hasil referendum itu membuyarkan harapan ratusan ribu warga Skotlandia yang memberikan suara mereka mendukung pemisahan Kamis dalam satu pemungutan suara yang memicu perdebatan hangat dalam pemerintah Ingris.

“Kami tahu ada mayoritas bagi kampanye “menolak”, kata Menteri Pertama pro-kemerdeaan Alex Salmond di Edinburgh.

“Rakyat Skotlandia secara mayoritas untuk tahap ini memutuskan tidak ingin menjadi satu negara merdeka,” katanya.

Hasil itu memukul ambisi polisi seumur hidup bagi Salmond, kendatipun hasil kuat bagi dukungan kemerdekaan telah membuka kemungkinan bagi satu usaha lain bagi kemerdekaan pada masa depan.

Ada beberapa kemenangan besar termasuk di kota Glasgow, tetapi keunggulan itu tidak cukup untuk mengatasi banjirnya suara “tidak” di seluruh Skotlandia.

Baca Juga :  Ini Dia Pelaku Penembakan Penonton 'The Dark Knight Rises' yang Ngaku Sebagai Joker!

Menjelang pemungtan suara itu tiga partai politik utama Inggris menjanjikan kekuasaan lebih besar bagi parlemen Skotlandia termasuk pajak dan pendapatan lainnya dan satu usaha saat terakhir untuk meyakinkan para pemilih untuk tetap bergabung dengan Inggris.

Wakil Menteri Utama Nicola Sturgeon mengayakan referendum itu menunjukkan satu “tuntutan kuat bagi perubahan ” dan menegaskan pemerintah Inggris di London kini harus menepati janji-janjinya. (Rtr/AFP/AP/es)/(Analisa).

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 7 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*