Ratusan Warga Hentikan Aktivitas PT VAL

Ratusan warga Desa Aek Tinga menghentikan aktivitas karyawan PT VAL di atas lahan konflik seluas 300 hektare di Desa Aliaga, Kecamatan Huragi, Senin (10/11). (Parningotan Aritonang/Metro Tabagsel)

PALAS – Ratusan warga Desa Aek Tinga, Kecamatan Sosa, Palas, kembali melakukan penghentian aktivitas pemanenan buah sawit oleh karyawan PT Victorindo Alam Lestari (PT VAL) di Desa Aliaga, Kecamatan Hutaraja Tinggi (Huragi), Senin (10/11).

Lokasi pemanenan ini masih lahan konflik dengan masyarakat desa itu. Aksi masyarakat ini pun mendapat pengawalan dari belasan security perusahaan dan pengawasan seorang personel Polsek Sosa.

Penghentian aktivitas panen buah kelapa sawit oleh masyarakat ini merujuk kepada hasil kesepakatan bersama antara masyarakat Desa Aek Tinga dengan managemen PT VAL yang dilaksanakan di lahan konflik itu pada Jumat (7/11) lalu.

“Karyawan PT VAL kembali melakukan panen di lokasi konflik, padahal sesuai hasil kesepakatan pada tiga hari yang lalu, Jumat (7/11), antara masyarakat dengan pimpinan perusahaan dihadiri oleh Mandor Satu, Asisten, Askep, Papam, Humas dan Manager PT VAL, perusahaan tidak akan melakukan aktivitas di lahan konflik seluas 300 hektare, sampai dicapai solusi penyelesaian dari persoalan ini.

Namun hari ini perusahaan jelas telah mengingkari perjanjian lisan tersebut,” ungkap Koordinator Masyarakat Desa Aek Tinga Basirun kepada METRO, Senin (10/11) di lokasi lahan konflik didampingi ratusan warga Desa Aek Tinga.

Dikatakannya, perjanjian yang dicapai tersebut memang dalam bentuk lisan dan tidak tertulis, akan tetapi perjanjian tersebut sudah menjadi acuan bagi masyarakat dengan harapan pihak perusahaan mau mentaati perjanjian tersebut.

Makanya, sesuai perjanjian yang telah disampaikan oleh perusahaan, dan ternyata pada hari ini perusahaan kembali melakukan aktivitas di lahan konflik, sehingga masyarakat kembali menghentikan aktivitas karyawan tersebut dan melarang TBS sawit yang telah dipanen diangkat dari lokasi lahan konflik.

Baca Juga :  Kurangi Angka Lakalantas dengan Disiplin Berlalu-lintas

“Masyarakat akan meminta pertanggungjawaban perusahaan atas perjanjian yang mereka utarakan kemarin yang disaksikan oleh pihak kepolisian. Demikian pula dengan kerusakan ratusan batang tanaman karet milik masyarakat yang dicabut dan tertimpa pelepah sawit maupun dilindas truk, dan masyarakat tetap akan menghentikan aktivitas karyawan perusahaan di lahan konflik, hingga persoalan ini diselesaikan sesuai aturan perundang-undangan,” ujarnya.

Alim Ulama Desa Aek Tinga Syawal yang turut dalam aksi itu mengatakan, sebelum melakukan aksi di lahan konflik 300 hektare itu, masyarakat telah melayangkan surat pemberitahuan tertanggal 4 November 2014 ditujukan kepada Pimpinan PT VAL, isinya meminta pimpinan perusahaan agar memberitahukan kepada seluruh karyawan/karyawati yang bekerja di areal lahan tersebut, agar tidak merusak, mencabut dan mengganggu tanaman karet yang telah ditanam oleh masyarakat.

“Dalam surat tersebut, kami juga menyampaikan dalam rangka pengawasan dan penjagaan di lahan konflik, masyarakat Aek Tinga akan mendirikan posko perjuangan, mengingat banyaknya tanaman karet yang telah ditanam oleh masyarakat di atas lahan itu dicabut dan dirusak oleh orang yang tidak bertanggung jawab, sementara tanaman karet itu yang diharapkan dapat memberikan hasil kepada masyarakat,” ungkapnya.

Sementara itu Kapolres Tapsel AKBP Parluatan Siregar melalui Kapolsek Sosa AKP Heri Syofyan menugaskan Brigadir Yunan untuk memantau kondisi di lahan konflik. Brigadir Yunan mengatakan, dalam hal ini pihak kepolisian melakukan penjagaan di lahan konflik untuk memantau perkembangan dan terus mengawasi agar kondisi di lahan konflik tetap kondusif.

Baca Juga :  Ratusan simpatisan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) merusak Kantor Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Hanura Mandailing Natal

“Jangan sampai terjadi tindak kriminal atau pelanggaran hukum,” ujarnya.

Komandan Regu (Danru) Security PT VAL Yaaso Hulu mengatakan, untuk mengamankan kegiatan pemanen karyawan di lahan, jumlah security yang diturunkan sebanyak 15 personel. “Ini sesuai perintah pimpinan untuk melakukan pengamanan karyawan yang bakerja di lahan ini,” ucapnya.

Sedangkan Asisten Afdeling III PT VAL Sultoni membenarkan bahwa pada sekitar tiga hari yang lalu masyarakat meminta kepada pimpinan perusahaan agar aktifitas karyawan di lahan konflik tidak dilakukan, namun dirinya tidak mendapatkan bukti tertulis dari pimpinan perusahaan terkait hal itu.

“Hari ini karyawan kembali bekerja di lahan namun dihentikan oleh masyarakat, akibat aksi masyarakat ini tentunya penghasilan karyawan berkurang. Selaku karyawan, kami sangat berharap agar persoalan ini dapat segera diselesaikan, baik antara pimpinan perusahaan dengan pimpinan masyarakat, agar karyawan dapat nyaman dan aman dalam melakukan aktifitas pekerjaannya sesuai tuntutan perusahaan ini,” tuturnya. (tan)

/METROSIANTAR.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 7 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*