Redupnya Kembali Prestasi Bulu Tangkis Nasional

Oleh: Tahan Manullang, SH *)

2481168 4x3 700x525 2 Redupnya Kembali Prestasi Bulu Tangkis NasionalTerus terang harus kita katakan bahwa sangat menyakitkan melihat kekalahan tim bulu tangkis Indonesia dalam perhelatan Piala Thomas dan Uber baru-baru ini. Tim bulu tangkis nasional gagal total dalam perhelatan Piala Thomas dan Uber 2014 yang digelar di New Delhi, India. Tim Uber Indonesia secara mengejutkan takluk dari tim Uber India yang dianggap lemah.

Secara matematis, tim Uber Indonesia unggul dibandingkan tim India yang hanya bertumpu pada dua pemain tunggal. Oleh karena itu, Indonesia diperkirakan mendapatkan poin dari dua ganda putri dan tunggal ketiga untuk melenggang ke semifinal. Namun, fakta di lapangan sungguh di luar dugaan. Tim Uber India justru menggulung tim Uber Indonesia 3-0, sebelum sampai pada partai yang menurunkan ganda kedua dan tunggal ketiga. Tim Uber India, yakni pemain tunggal Nehwal, Sindhu , dan pemain ganda Jwalla Gutta/Ashiwini Ponappa mengakhiri perjalanan tim Uber Indonesia.

Pemain-pemain tim Uber Indonesia, Linda dan kawan-kawan, bermain tidak stabil dan jauh di bawah harapan. Di tim Piala Thomas, Indonesia pun takluk di semifinal melawan tim Thomas Malaysia. Indonesia tersingkir dalam babak semifinal melawan tim Piala Thomas Malaysia dengan skor 0-3.

Harapan masyarakat supaya tim Indonesia merebut kembali trofi Piala Thomas kandas. Kekalahan itu tentu saja menyakitkan karena secara kemampuan, tim Indonsia dan Malaysia selama ini saling mengalahkan. Artinya, tim Malaysia tidaklah dominan atas tim Indonesia. Karena itu, masyarakat berharap tim Indonesia bisa mengalahkan Malaysia.  Akan tetapi, kejadian di lapangan berkata lain. Kekalahan pemain ganda Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan yang dipasang dalam partai kedua dinilai momen kekalahan, meskipun, Tommy Sugiarto yang menjadi tunggal pertama juga sudah kalah lebih dulu dari Lee Chong Wei.

Kegagalan tim Indonesia untuk membawa kembali Piala Thomas dan Uber ke Tanah Air harus menjadi momentum bagi Pimpinan Pusat Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) untuk segera berbenah. PBSI harus segera membangun tim yang solid dan kuat. Untuk itu, pasti tidak mudah dan membutuhkan waktu. Ada banyak pelajaran menarik yang bisa dipetik PBSI dari hasil Piala Uber dan Thomas di India. Kekalahan tim Uber Indonesia yang mengejutkan dari tim Uber India menunjukkan, persaingan di tim putri ke depan semakin sengit dengan bangkitnya tim India.

Selain itu, kekalahan tim Thomas Tiongkok yang sangat dominan puluhan tahun terakhir dari tim Thomas Jepang juga sangat mengejutkan. Tiongkok yang sangat perkasa dan berstatus juara bertahan harus pulang lebih awal. Ini merupakan kejadian yang di luar dugaan. Di lapangan, memang apa saja bisa terjadi. Ini terbukti dengan munculnya kekuatan baru, yakni ketangguhan tim Thomas Jepang. Berdasarkan fakta itu, sebaiknya Indonesia lebih fokus lagi dalam hal pembinaan pemain secara berkelanjutan, mempersiapkan tim yang terbaik secara berlapis sehingga memiliki banyak pemain yang unggul. Indonesia sesungguhnya memiliki banyak pemain berbakat.

Baca Juga :  Buat Apa Berlapar-lapar Puasa

Tidak Banyak yang Bisa Dijaring

Namun karena kurangnya jaminan masa depan di profesi ini, tidak banyak yang bisa dijaring. Ada pula masalah pembinaan para atlet muda dan senior yang selama ini menjadi kendala, termasuk masalah pendanaan, yang sudah seharusnya dapat dipersiapkan dengan baik. Berbagai kelemahan dan fasilitas yang perlu dipersiapkan di Pelatnas bulu tangkis seharusnya menjadi prioritas pemerintah dan PBSI untuk dicarikan jalan keluar.

Beberapa pemain senior sudah memberikan masukan ke PBSI dan seharusnya menjadi catatan agar Indonesia bisa mengembalikan kejayaan olahraga bulu tangkis seperti masa lalu. Publik Indonesia tetap berharap ada perbaikan prestasi agar pemain-pemain Indonesia kembali disegani dan mampu mengangkat nama bangsa dan negara.

Bulu tangkis merupakan olahraga rakyat dan sempat menjadi kebanggaan Indonesia di forum internasional. Kebanggaan itu perlahan-lahan hilang karena atlet-atlet kita sering gagal dan tak lagi menorehkan prestasi.

Ke depan, Indonesia harus memiliki beberapa bidang olahraga yang bisa menjadi tontonan menarik, yang menjadi kebanggaan masyarakat sekaligus mengharumkan nama bangsa. Dalam kompetisi bulu tangkis negara kita pernah merajai cukup lama. Sejak digelar Piala Thomas misalnya pada 1949, Indonesia 13 kali meraih juara.

Adapun Tiongkok baru sembilan kali menjadi juara.  Prestasi bulu tangkis terpuruk semakin dalam lantaran tim Uber Indonesia juga tak bisa berbuat banyak. Tim ini juga pernah kalah oleh Jepang, negara yang tak pernah meraih gelar Uber. Menghadapi kekalahan ini, Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia perlu mengevaluasi tim. Tapi langkah seperti ini tidaklah cukup. Kita harus melihat secara menyeluruh kenapa bulu tangkis negara ini tertinggal jauh oleh negara lain.

Organisasi yang dipimpin oleh Djoko Santoso itu mesti menjawab pertanyaan kenapa kita semakin miskin pemain muda berbakat. Buktinya, PBSI masih memboyong para pemain tua, seperti Taufik Hidayat, di setiap perhelatan internasional. Bandingkan dengan Tiongkok, yang cepat melakukan regenerasi dan selalu memberi kesempatan kepada pemain-pemain muda untuk belajar bertanding di kompetisi internasional. Fondasi untuk meraih prestasi dalam olahraga adalah pembinaan dan kompetisi sejak level yang paling rendah. Klub-klub sepak bola hebat, seperti Manchester United dan Barcelona, bisa menjadi besar sepanjang sejarah karena mereka melakukan regenerasi secara intensif. Mereka menjaring pemain-pemain muda sejak tingkat sekolah dasar.

Baca Juga :  Kemuakan Rakyat terhadap Kampanye Bergincu

Dalam bulu tangkis pun berlaku resep yang sama untuk mendongkrak dan mempertahankan prestasi. Tiongkok, misalnya, rajin menjaring pemain berbakat dari kampung-kampung. Mereka kemudian digodok di pemusatan latihan nasional. Aspek inilah yang dilupakan PBSI. Apalagi kita juga tidak memiliki kompetisi dan pembinaan secara berjenjang.

Dalam 12 tahun terakhir, pengurus bulu tangkis Indonesia sudah berganti tiga kali. Toh, prestasi tim nasional tak juga bangkit. Tak ada lagi bintang-bintang bulu tangkis sekelas Rudy Hartono, Liem Swie King, atau Joko Suprianto. Di tingkat dunia, saat ini kita hanya punya Simon Santoso, yang masuk peringkat 10 besar pemain putra. Akibatnya, kita pun miskin gelar. Di All England, contohnya, sudah delapan tahun kita tak bisa meraih gelar secuil pun. Jika tak ingin semakin terpuruk, PBSI harus segera melakukan revolusi sistem pembinaan.

Kita harus bangkitkan kembali prestasi bulu tangkis kita agar jangan sampai hanya tinggal kenangan. Pemerintah perlu mencari bibit-bibit baru pemain bulu tangkis sampai ke seluruh pelosok nusantara. Para pemain itu harus segera dipersiapkan untuk menghadapi ajang di hari-hari mendatang.

Dengan demikian, maka prestasi bulu tangkis kita akan dapat diraih kembali agar nama besar bangsa Indonesia tetap bergema dalam dunia olahraga. Semua itu tentu membutuhkan komitmen yang sungguh-sungguh dari pemerintah. *** /

*)  Penulis adalah pecinta olahraga dan Direktur Alpiran Sumut.

Sumber: Analisadaily.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 7 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*