Refly Harun: Rakyat Sudah Sudah Terlalu Lelah Menyaksikan Bahwa Tidak Ada Satupun Institusi Di Negeri Ini Yang Layak Dipercaya

Oleh: Shohibul Anshor Siregar *)

Refly Harun (waspada.co.id)

Salah satu buntut dari perseteruannya dengan Mahkamah Konsyitusi (MK), Refly Harun pernah menulis opini berjudul MK MASIH BERSIH?  Opini  yang dimuat pada harian Kompas tanggal 25 Oktober 2010 itu bukan cuma melayangkan tuduhan, tetapi sekaligus pesimis kasus suap dapat dituntaskan alias akan berlalu seperti angin belaka (gone with the wind).

Artikel itu menyebabkan MK terusik.  Lalu dibentuklah Tim Investigasi yang langsung dipimpin Refly Harun.  Dalam tim ini ada Adnan Buyung Nasution, Bambang Harimurti (wartawan senior) Saldi Isra, dan Bambang Widjajanto. Kedua nama terakhir ini terkenal getol berbicara tentang korupsi.

Meski dalam artikelnya  Refly Harun menegaskan tuduhannya soal suap di MK itu bukan isapan jempol, melainkan berdasarkan apa yang dilihatnya sendiri dan dapat dipertanggungjawabkan, namun tim yang dipimpinnya sama sekali tidak berhasil membuktikannya.  Tetapi Kamis 9 Desember lalu Tim investigasi  hanya merekomendasikan pembentukan Majelis Kehormatan hakim untuk memeriksa kemungkinan adanya pelanggaran kode etik oleh hakim konstitusi. Juga dimerekomendasikan agar temuan tim investigasi ditindaklanjuti ke KPK melalui proses hukum.

Menurut salah seorang anggota Tim, Bambang Widjajanto, mereka telah mendalami kasus  dugaan suap  dan upaya pemerasan atau penyuapan oleh seorang panitera pengganti di MK. Tetapi tak berhasil menuntaskan kasus yang mana pun karena kesulitan teknis antara lain karena tidak memiliki kewenangan memaksa seseorang memberikan keterangan.

Itulah ringkasan cerita yang menyebabkan akhirnya Refly Harun yang dilaporkan (oleh MK) ke KPK.

Berbagai reaksi muncul setelah pelaporan MK kepada KPK. Ada pihak yang menuduh MK  tidak serius membersihkan diri. Reaksi ini terlontar dari Direktur Nasional Lingkar Madani  (LIMA) Ray Rangkuti. Di pihak lain orang berharap Refly Harun bisa tak cuma sekadar menjadi suspected tetapi sekaligus wistle blower, karena merupakan bagian dari kasus. Ini dituturkan Sekjen Transpeency Internasional Indonesia (TII) Teten Masduki.

Adnan Buyung Nasution mengakui pekerjaan tim selama sebulan terbilang berhasil karena tim menemukan petunjuk dugaan suap yang sayangnya, masih belum menjadi bukti kuat untuk dibawa ke meja hijau.

Baca Juga :  Muara Pungkut Terima 11 Unit Sarana Air Bersih

Memanggapi hal ini Ketua MK Mahfud MD bereaksi demikian:

Kasus ini bernuansa sengketa pemilukada. Dan kasus itu adalah kasus yang Saudara Refly tangani. Yaitu Bupati Simalungun. Ketika Refly minta success-fee, bupati bilang minta diskon karena sekitar Rp 1 miliar akan diserahkan untuk hakim MK. Sesudah diselidiki, si bupati mengatakan bahwa dia mengeluarkan uang, dan si supir yang namanya Purwanto ini yang delivery (kirim). Purwanto ini, saat ditemui mengaku tidak tahu menahu. Itu berarti tidak ada bukti yang ditemukan hubungan ke hakim,” jelas mantan Menteri Pertahanan ini. Ada percobaan penyuapan. Hakim itu akan memberi konfirmasi dan akan mengadu ke KPK. Saya (juga) akan minta KPK panggil paksa Bupati Simalungun itu, cari tahu diserahkan ke siapa.

Siapakah yang akan masuk penjara, sebagaimana ditegaskan Akil Mochtar secara jelas kepada media, apakah dirinya atau Refly Harun? Marilah kita tunggu ucapannya ini yang secara terang-terangan juga menuduh laporan tim tak ubahnya sampah.

Seserius apa MK?

Tetapi, sebagaimana dikemukakan Ray Rangkuti, keseriusan mulai menjadi persoalan. Mengapa? Saat ini bukan cuma Refly Harun yang yakin bahwa terjadi dugaan suap di MK, terbukti dengan rekomendasi tim yang dipimpinnya yang merekomendasikan tindak-lanjut dari KPK. Apakah dengan melaporkan Refly Harun ke KPK itu tidak sama artinya menganggap tim itu sudah ikut-ikutan berbohong mengikuti jalan pikiran Refly Harun? Secara moral sebenarnya bukan cuma Refly Harun yang dilaporkan ke KPK.

Todung Mulia Lubis juga merasa aneh. Menurutnya, MK tidak perlu terburu-buru melaporkan Refly, bahkan sebaiknya terlebih dahulu melaksanakan rekomendasi tim.

Kemudian, Refly Harun, Tim dan masyarakat Indonesia, dan juga MK mestinya bukan cuma fokus pada  kasus yang menjadi highlight dalam perseteruan ini. Tempatkanlah itu sebagai entry point belaka. Itu jika ada keseriusan seperti diminta oleh Ray Rangkuti. Apalagi jika mengikuti alur cerita yang dipaparkan oleh Refly Harun:

Ada juga yang bercerita tentang negosiasi yang gagal untuk memenangi perkara. Hakim, kata orang itu, meminta uang Rp 1 miliar. Pemohon, calon gubernur, hanya sanggup memberikan garansi bank senilai itu. Karena ditunggu sampai sore tidak juga cair, negosiasi gagal dan permohonan pun dicabut”.

Juga ungkapan Refly Harun yang secara jelas mencurigai praktik buruk yang sudah berlangsung:

Ada asap tentu ada api. Selentingan tentang MK yang mulai masuk angin kerap saya dengar. Ketika berkunjung ke Papua beberapa waktu lalu, saya mendengar keluhan dari peserta pertemuan bahwa pilkada tidak perlu lagi. Biayanya terlalu besar, baik bagi penyelenggara maupun kandidat. ”Setelah habis banyak dalam pilkada, nanti habis juga untuk bersengketa di MK. Ada yang habis Rp 10 miliar-Rp 12 miliar untuk MK”.

Siapa Refly Harun?

Baca Juga :  Wow!! Acara Perpisahan Murid SD Negeri 0808 Aek Sorik Meriah

Refly Harun yang lahir di Palembang ini adalah sarjana hukum lulusan UGM (1995), Magister Hukum (MH) UI (2002), dan gelar LL.M  diperolehnya dari University of Notre Dame, US (2007). Sewaktu MK dipimpin oleh Jimly Ashshiddigie ia pernah menjadi staf ahli pada Mahkamah Konstitusi.

—————————————–

*)Penulis: dosen sosiologi politik FISIP UMSU, Koordinator Umum ‘nBASIS
sohibul Refly Harun: Rakyat Sudah Sudah Terlalu Lelah Menyaksikan Bahwa Tidak Ada Satupun Institusi Di Negeri Ini Yang Layak Dipercayan’BASIS adalah sebuah Yayasan yang didirikan tahun 1999 oleh sejumlah akademisi dan praktisi dalam berbagai disiplin (ilmu dan keahlian). ‘nBASIS adalah singkatan dari Pengembangan Basis Sosial Inisiatif dan Swadaya dan memusatkan perhatiannya pada gerakan intelektual dengan strategi pemberdayaan masyarakat, pendidikan, perkuatan basis ekonomi dan kemandirian individu serta kelompok.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

2 Komentar

  1. ada beberapa catatan tentang kasus MK ini :
    1. Yang jelas SBY lagi gak betah dengan KEtua MK “Mahfud MD”. karena dari beberapa lembaga negara hanya dia pimpinan lembaga satu-satunya yang kelihatan jelas kurang sepaham dengan SBY, karena bagi pak mahfud kalau benar ya benar kalau salah ya salah “harus bisa membedakan antara mana yang hak dan yang bathil”.
    2. MK sebagai salah satu lembaga yang muali diobok2, setelah KPK (nulai dari mantan ketuanya Azhari, serta 2 pimpinan lainnya Bibit dan Chandra yang sampai sekarang kasusnya masih seperti digantung, karena setelah Kejagung mendeeponering kasusnya, malah ketika bertemu dengan DPR RI dia malah mewacanakan akan mencabut deeponering tsbt dan akan dibawa kemeja hijau), KPK juga masih belum bisa sembuh dari kejantanannya karena ketua yang baru dilantik Busyro Muqoddas hanya memimpin KPK selama 1 tahun (malah kurang dari itu, lihat saja pelantikannya dengan waktu pemilihan hampir 1 bulan penuh selisih waktunya).
    3. Di Indonesia raya ini memang tidak boleh jujur dan harus manut sama yang memgang kekuasaan, lihat saja KAPOLRI, KEJAGUNG, MA dll yang manut padahal banyak kasus yang terjadi diinstitusi/ lembaga tersebut tapi sampai detik inipun tidak pernah diobok-obok. Suap di MK yang katanya 1 Milyar, trus keluarga Pak Arsyad yang menrtima cuma 50an jt (itupun kalau terbukti, karena yang bsngktn telah membantahnya) seolah-olah kasus yang luar biasa besar. kasus suap milyaran dan dugaan markup di bebagai kementrian (keuangan dll) itu dibiarkan saja. mana Century…………..
    4. Menurut hemat saya kasus Gayuspun hanay bagian kecil kasus korupsi di Indonesia, bandingkan antara puluhan milyar (kasus Gayus) dibandingkan Century yang 6,7 tryliun

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*