Renungan Natal: “Semakin Beriman, Semakin Berbelarasa”

Oleh: I Suharyo – Uskup Keuskupan Agung Jakarta

Sering terdengar pertanyaan seperti ini: “Banyak tempat ibadah dibangun, ibadah dan kegiatan-kegiatan keagamaan di negeri kita ini pun tampak semakin semarak. Namun, mengapa korupsi tidak semakin surut, kekerasan semakin sering terjadi, masyarakat terkesan semakin mudah terpecah belah?”

Pertanyaannya jelas, tetapi tentu tidaklah mudah memberikan jawaban yang memadai karena di balik pertanyaan itu tersembunyi realitas yang amat kompleks.

Sekurang-kurangnya, salah satu akar dari masalah itu ialah indikatif iman yang tampak dalam ibadah-ibadah belum melahirkan imperatif moral yang seharusnya terwujud dalam pola pikir dan perilaku yang mulia.

Kalau dibaca dengan kacamata Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa belum cukup memajukan kemanusiaan yang adil dan beradab. Belum kokoh mendasari persatuan Indonesia. Belum menjiwai kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Belum menjadi kekuatan yang mendorong orang untuk memperjuangkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Padahal, iman akan Tuhan Yang Maha Esa seharusnya menjadi inspirasi bagi setiap dan semua warga bangsa untuk semakin kreatif menciptakan berbagai mediasi agar terjadi transformasi sosial demi kebaikan dan kesejahteraan bersama.

Pesan Natal

Pada hari ini umat Kristiani merayakan Natal, hari kelahiran Yesus. Di tengah-tengah bahaya komersialisasi Natal yang dapat menjadikan perayaan ini dangkal dan hampa makna, umat Kristiani perlu bertanya, imperatif moral apakah yang mesti disambut agar perayaan Natal menjadi semakin bermakna dan berdaya untuk memperbarui kehidupan.

Makna dan daya ini ditentukan pula oleh pemahaman iman yang memadai mengenai, apakah yang sebenarnya terjadi dengan kelahiran Yesus.

Pesan Natal Bersama Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) mengajak umat Kristiani untuk merayakan Natal dengan keyakinan iman bahwa dalam peristiwa kelahiran Yesus, Allah menyatakan kasih-Nya kepada umat manusia.

Baca Juga :  Kesantunan Masyarakat Tapsel Untuk Pemimpinnya

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16).

Keyakinan iman bahwa Allah adalah kasih merupakan buah dari kontemplasi yang membuat orang menjadi pribadi-pribadi yang utuh dan matang serta siap menyambut imperatif moral dari iman yang dipeluknya.

Imperatif moral

Pentingnya keyakinan iman bahwa Allah adalah kasih ditegaskan oleh Paus Benediktus XVI. Pada 25 Desember 2005, ia mengeluarkan ensikliknya yang pertama, yang berjudul “Deus Caritas Est” atau “Allah adalah Kasih”. Ensiklik ini pertama, bukan hanya dalam arti urutan pada daftar tulisan Paus Benediktus XVI.

Dengan menulis ensiklik ini sebagai yang pertama, Paus ingin memberikan perspektif karya penggembalaannya di dalam gereja. Paus ingin menempatkan semua yang ia pikirkan, lakukan, putuskan—semua karya penggembalaannya—dalam rangka mewartakan bahwa Allah adalah kasih.

Dengan demikian, ia berharap berkembanglah budaya kasih atau budaya hidup di tengah-tengah umat Kristiani pada khususnya dan di tengah-tengah dunia pada umumnya.

Mengapa ini begitu penting bahkan menentukan? Jawabannya ada dalam pengantar ensiklik itu. Di dalamnya, antara lain, dikatakan, “Dalam dunia, di mana nama Allah kadang-kadang dikaitkan dengan balas dendam atau bahkan kewajiban akan kebencian dan kekerasan, pesan ini amat aktual dan mengena” (nomor 1).

Kalau ini yang terjadi, yang akan terbangun bukanlah budaya kasih, melainkan budaya kematian, melemah, atau bahkan hancurnya keadaban publik yang tampak dalam berbagai gejala yang merendahkan martabat dan merusak kehidupan bersama.

Imperatif moral yang diharapkan disambut secara khusus oleh umat Kristiani yang merayakan Natal pada tahun ini, dinyatakan pada akhir Pesan Natal Bersama PGI dan KWI.

Baca Juga :  POLITIK PEMEKARAN (Bag-4 Habis): PROVINSI TAPANULI (UTARA)

Umat Kristiani diajak untuk melibatkan diri dalam berbagai usaha untuk mengatasi persoalan-persoalan kemasyarakatan, seperti konflik kemanusiaan, perilaku intoleran, dan tindakan-tindakan yang menjauhkan semangat persaudaraan sebagai sesama warga bangsa.

Peristiwa Natal mewajibkan seluruh umat Kristiani untuk berperan dalam membangun persaudaraan pada tingkatan yang berbeda-beda.

Selain itu, umat Kristiani juga didorong agar terus berkembang dalam semangat belarasa. Dikatakan, ”melalui jabatan, pekerjaan dan tempat kita masing-masing dalam masyarakat, kita ikut sepenuhnya dalam semua usaha yang bertujuan memerangi kemiskinan jasmani ataupun rohani”.

Belarasa bukan hanya tertuju kepada sesama manusia, melainkan juga terhadap alam ciptaan. Ditegaskan, “… kita dipanggil untuk melestarikan dan menjaga keutuhan ciptaan dari perilaku sewenang-wenang dalam mengelola alam”.

Perilaku tidak bertanggung jawab terhadap alam ciptaan akan menyengsarakan bukan hanya kita yang hidup saat ini, melainkan terlebih generasi yang akan datang. Kita sambut ajakan ini dengan semakin kreatif mencari jalan untuk mewujudkannya.

Semoga dengan merayakan Natal tahun ini, kita menjadi semakin beriman, semakin bersaudara, dan semakin berbelarasa. Selamat hari raya Natal dan selamat menyambut Tahun Baru 2013 dengan penuh harapan.

Sumber: kompas.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

1 Komentar

  1. Natal bukanlah moment yg di kaitkan dgn apa yg harus dinginkan manusia atau situasi manusia itu sendiri namun haruslah demi Tuhan dan keinginnannya

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*