Reshuffle Menteri Saur Manuk

Oleh: Djoko Suud Sukahar *)

Jakarta – Hampir pasti bulan ini bakal ada kejutan. Ganti menteri. Itu jika SBY berkeinginan memperbaiki kehidupan bangsa ini. Memaksimalkan sisa jabatan demi mengukir nama. Dan tidak ragu-ragu setelah ‘dikadali’. Ribut soal koalisi atau oposisi jalan untuk memulai langkah itu.

Hari-hari ini, partai politik dan menteri representasinya mulai pating pecothot. Ancaman maupun pujian berbusa-busa dilontarkan. Berbagai pola, gaya dan sikap dipertontonkan. Esensinya hanya satu, agar jabatannya tidak tergantikan.

Kalimat retoris rasanya membuat polusi negeri ini. Rakyat yang dianggap bodoh menyaksikan akting para petinggi negeri itu seraya merekam dalam mimetiknya dengan setumpuk catatan. Catatan itulah yang menentukan pilihan ketika saatnya tiba nanti. Pemilu tahun 2014.

Rakyat juga sedang menunggu langkah SBY. Adakah langkah itu sesuai dengan hati kecilnya yang menginginkan ketegasan sekaligus bijak. Tidak takut namun juga tidak arogan dalam memilih pembantunya. Asas menang tidak merendahkan dan kalah tidak memalukan itu yang sedang dinanti.

Sebab logika rakyat, memerintah sesuai amanah tidak perlu ada yang ditakuti. Kendati politik itu sarat kepentingan, tapi kalau kepentingannya membangun bangsa dan memakmurkan rakyat diutamakan, tidak ada satu pun kekuatan yang mampu menjungkalkan. Tak perduli partai politik sebesar apapun. Mereka akan berhadapan dengan rakyat. Rakyat yang tidak lagi mengenal kotak-kotak partai.

Baca Juga :  Dari Al Capone Hingga John Kei

Itu didasarkan pada realitas politik yang ada. Semua partai tidak lagi ‘berideologi’. Fanatisme sempit  sudah lama hilang dari benak rakyat. Simpati tidak menjadi komoditas yang bisa ‘diperdagangkan’. Kendati soal suara bisa ditransaksikan.

Bagi SBY, kelemahan equivalen kekuatan itu harus disikapi dengan perbuatan. Itu tanda rakyat sudah bosan dengan wacana dan retorika. Rakyat butuh yang riil-riil saja. Lapangan kerja terbuka. Pangan cukup. Papan ada. Pendidikan murah. Dan kesehatan terjaga.

Jika itu yang diharapkan rakyat, maka pilihan pembantunya (menteri) harus fokus pada pemenuhan kebutuhan itu. Daya, upaya dan dana gelontorkan untuk itu. Jika dari tahun ke tahun manfaatnya langsung dirasakan rakyat, dijamin tidak ada caci-maki terhadap pemimpinnya. Rakyat miskin yang masih mayoritas menghuni negeri ini akan simpati.

Simpati itu amat penting. Itu sebagai bentuk rasa hormat dan terima kasih, bahwa hidupnya terjamin dan dijamin negara. Dan bagi pemimpin, respek itu merupakan investasi jangka panjang. Nama harum akan dinikmati bersangkutan termasuk anak-cucunya. Macan mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama.

Jika SBY menginginkan itu, maka ‘ketakutan’ tak layak menjadi ganjalan. Tak perlu ada yang ditakuti dan ditakutkan. Sebab sebobrok apapun setiap manusia tetap punya naluri, hati kecil, yang bisa membedakan antara kebaikan dan keburukan. Lepas terucap atau tidak diungkapkan.

Langkah untuk menuju itu, maka pilihan menteri yang perlu diprioritaskan adalah yang tidak mengesankan neoliberalisme. Mampu menciptakan pemerataan untuk kehidupan rakyat bawah. Bukan menteri yang bernafsu mengejar pertumbuhan dan menjauhkan si miskin dari kemungkinan mendekati si kaya.

Baca Juga :  Mengapa Harus Provinsi Baru?

Jika para pembantu presiden punya visi yang sama, maka tidak akan ada lagi data fiktif yang melahirkan ‘politik saur manuk’. Saling berbantah. Saling mengklaim sukses yang melahirkan ironi-ironi. Beras surplus, impor gila-gilaan. Kemiskinan turun tapi penyaluran raskin meningkat.

Adakah menteri yang diplih SBY nanti mencerminkan itu? (detik.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*