Retribusi Rambin Aek Sijorni Diduga Masuk Kantung Pribadi

TAPSEL – Retribusi jembatan (rambin) di objek wisata Aek Sijorni, Desa Aek Libung, Kecamatan Sayurmatinggi, Tapanuli Selatan tak jelas ke mana digunakan. Namun ada dugaan, restribusi tersebut masuk ke kantong pribadi oknum-oknum tertentu di lokasi itu dan oknum pejabat di Pemkab Tapsel.

Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, puluhan ribu pengunjung yang melewati jembatan, dan semuanya harus membayar Rp2.000 per orang. Jika diperkirakan 100.000 pengunjung yang masuk dan dikalikanj Rp2.000, maka pendapatan jembatan rambin tersebut mencapai Rp200.000.000 per tahun.

“Puluhan ribu bahkan mencapai ratusan ribu penghunjung setiap tahunnya melewati rambin tersebut. Semuanya membayar Rp2.000 per orang. Kalau diperkirakan 100.000 pengunjung saja, maka dikalikan Rp2.000, maka pendapatan jembatan rambin tersebut mencapai Rp200.000.000 per tahun. Pertanyaannya kemana uang hasil pungutan tersebut,” ungkap Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Muslim (YLKM) Azmin Gea kepada METRO, Sabtu (5/1).

Disampaikan Azmin, pungutan yang dilakukan kepada para pengunjung oleh oknum-oknum tertentu di lokasi ini terindikasi sebagai pungutan liar karena dasar hukumnya tidak ada. Jika ada aturan, misalnya melalui peraturan daerah (perda), berarti kutipan akan memakai karcis sehingga peruntukkannya jelas.

Pantauan kami, katanya, selama ini di objek wisata Aek Sijorni sangat aneh, khususnya pada 20 Desember dan puncaknya pada 1 Januari 2013, jumlah pengunjung mencapai 50.000 orang dan uang yang dipungut dimasukkan dalam tas serta langsung diawasi oknum-oknum  dari desa itu yang berada di lokasi.

Baca Juga :  Terkait Penganiayaan Wartawan - Kapolres didesak surati Gubsu

“Kami akan terus memantau dan berjuang untuk mencari kejelasan tentang arah uang hasil pungutan oleh oknum–oknum ini di jembatan rambin objek wisata Aek Sijorni. Karena uang tersebut dikutip dari para pengunjung yang dalam hal ini merupakan masyarakat atau konsumen pengguna jasa. Upaya ini bisa saja melalui gugatan perwakilan (class action) dan yang menyangkut tindak pidana dan akan kita laporkan kepada aparat penegak hukum,“ ujarnya.

Kadis Pendapatan Tapsel Sulaiman saat dikonfirmasi Metro melalui pesan pendek, yang mempertanyakan apakah retribusi jembatan Aek Sijorni masuk PAD Tapsel, Dia enggan memberikan keterangan. Dia menyebutkan bahwa yang mengelola ini adalah Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata.

“Termasuk objek retribusi pariwisata untuk PAD, yang mengelola Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata,” jawabnya singkat.

Ditanya lebih lanjut, retribusinya sudah mereka terima sebagai PAD Pemkab Tapsel, yang bersangkutan tidak kunjung memberikan balasan hingga berita ini diturunkan.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

11 Komentar

  1. pangan hamu soda i….ulang iba iri pala mangan halak….baen main mu lian….ulang tumpat rasoki ni alak…..baen parmayamanmu sada ho gratis ko…..so job roamu….

  2. asi di keceti hamu au…….siapa yg gk mau uang,,,,,,hah…?????masa bodo dengan rasa kalian…yang pentingf au marhepeng….weksssss

  3. sungguh menyebalkan orang2 di Aek si Jorni itu, masuk bayar Rp. 20 ribu oke tak masalah, eh mau naek ke atas bayar lagi, naik lagi bayar…. naik ? bayar lagi ! mau ambil makanan di bawah terus mau naik lagi eh…. bayar lagi. Itu lokasi siapa punya sih, Pemda/Pemko atau tanah leluhur seseorang ? atur yang baik dong ? kita yang pulang kampung …. terheran-heran dengan model “preman” kampung seperti itu.

  4. Saya juga pernah menyaksikan aksi si kepdes itu,, saya melihat waktu hari raya lebaran yg lalu dan tahun baru itu,, mereka mengutip 2000 per orang,,
    tidak ada orang yg tau brapa bayak ug dapat per hari, tapi yg sering saya perhatikan si kepdes membawa uang tiga tas dalam sehari,,
    jam 11 pagi uang yg meka pungut sudah penuh satu tas, dan si kepdes pergi membawa uangnya entah kemana, dan yg menggantikan memungut di rambin itu si AKLAN, SI ASMAR, SI TOBO, jam 2 siang si kepdes datang lagi dan menjemput uang satu tas lagi, baru jam 4 sore si kepdes datang lagi untuk menjemput uang satu tas lagi dan dia bawa entah kemana..
    Trus jam 6 si kepdes datang lagi dengan wajah pura2 lesu dan dia berkata kita tekor,,
    untuk dinas parawisata di sitor 3.000.000
    untuk polisi d stor 3.000.000
    untuk satol pp 3.000.000 begitu setiap hari waktu hari raya lebaran dan tahun baru yg lalu.. Klo saya kira2 uang pendapatan mereka waktu lebaran itu +-20.000.000 per hari x 10 hari berarti mereka mengantongi uang +-200.000.000 per lebaran

  5. saya pernah membawa keluarga ke aek sijornih,ternyata saya juga mengalami hal yang sama banyak pungutan liar,belum lagi sedekah main patok,oh ternyata sedemekian hina nya cara-cara yang di lakukan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*