‘Revolusi PSSI Belum Selesai’

Djohar Arifin Husin (detiksport/Meylan)

Jakarta – Terpilihnya Djohar Arifin Husin sebagai ketua umum baru PSSI dinilai merupakan sebuah awal yang baik untuk mengubah persepakbolaan di tanah air. Namun, revolusi yang dituntut suporter belum selesai.

Demikian hasil diskusi SOS (Save Our Soccer), ASI (Aliansi Suporter Indonesia), CORNEL (Community Relation Netter Liga Indonesia), dan ASSBI (Asosiasi Sekolah Sepak Bola Indonesia), menyikapi selesainya Kongres Luar Biasa PSSI di Solo hari Sabtu (9/7) lalu, yang menghasilkan duet Djohar dan Farid Rahman sebagai ketua dan wakil ketua umum PSSI.

Meski Djohar dianggap figur yang reformis dan anti status quo, namun ia memiliki setumpuk pekerjaan rumah yang harus bisa diselesaikan, dalam misi mengembalikan kebaikan sepakbola Indonesia dan yang lebih berprestasi, termasuk mengusut kasus-kasus buruk yang terjadi di masa lalu.

“Djohar harus seperti Busyro Muqoddas, berani menangkap dan memenjarakan koruptor dan penjahat di sepakbola. Sepakbola kita rentan korupsi dana APBD dan pengaturan skor. Oleh sebab itu, selain membuat sistem, Djohar harus berani menangkap aktor-aktor perusak sepakbola Indonesia,” papar Apung Widadi dari SOS.

Terkait APBD, Djohar juga diminta segera mematuhi Permendagri No. 22 tahun 2911, yang intinya adalah melarang klub-klub sepakbola menggunakan dana APBD. Hal ini menjadi penting dan prioritas karena peraturan tersebut berlaku mulai 1 Januari 2012.

Sementara itu Helmi Atmaja dari ASI berpendapat, kompetisi sepakbola Indonesia harus segera diperbaiki. Otoritas liga harus diisu orang-orang yang bersih, sehingga tidak ada pengaturan skor dan suap yang akan meyulut berbagai masalah. Di sisi lain, fasilitas stadion juga harus diperbaiki oleh PSSI, klub dan pemerintah.

Baca Juga :  Puluhan Honorer K2 Gelar Aksi ke Kantor Bupati

“Sudah saatnya sepakbola kita memasuki era industri, suporter merasa nyaman, berprestasi dan tim nasional juga yahud.”

Nanang Ariadi dari CORNEL menyatakan, Djohar adalah satu-satunya calon ketua umum yang pertama menandatangani “pakta integritas” di depan suporter, dan ia harus mematuhinya. Jika ada poin pakta integritas yang dilanggar oleh pengurus PSSI selama empat tahun ke depan, CORNEL menyatakan akan mengawasi dan menegur.

Sementara itu Taufik Jursal Effendi dari ASSBI berpendapat, PSSI harus serius mengedepankan pendidikan pemain usia dini. Kompetisi reguler untuk SSB di seluruh Indonesia harus diciptakan, salah satunya bisa melalui sekolah-sekolah (formal).

Hal lain, kompetisi Piala Soeratin diusulkan supaya dihidupkan kembali secara lebih profesional dan fair. Kejuaraan ini pernah menjadi titik tolak pemain muda untuk menjajaki kemampuannya bermain di level profesional, serta untuk menghormati perjuangan almarhum Soeratin, yang telah menjadikan sepakbola sebagai alat perjuangan bangsa.

Untuk melaksanaan setumpuk pekerjaan rumah itu Djohar dituntut untuk menyusun kepengurusan PSSI yang bersih, serta segera membuat “program 100 hari”.

“Hal ini penting supaya kepengurusan PSSI menjadi lebih progresif dan visioner. Tidak hanya menuntut, kami pun siap memberikan masukan jika diminta oleh Djohar Arifin, karena kami mempunyai kajian dan riset di sektor-sektor prioritas seperti yang kami sampaikan di atas,” demikian kesimpulan diskusi keempat organisasi tersebut, yang rilisnya diterima redaksi detiksport, Senin (11/7/2011) pagi.

Baca Juga :  Pangdam I/BB Tinjau Lokasi TMMD

detik.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 8 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*