Riau Menabur Asap, Tetangga Terpolusi Pengap

Oleh: Tigor Damanik

hampir  di setiap dan di sepanjang tahun ”polusi” asap (Provinsi) Riau kerap bermasalah dan mengganggu. Permasalahan dan gangguan polusi asap mana  sudah  penulis rasa dan alami ketika berdomisili /berdinas di Rengat dan Air Molek Kabupaten Indragiri Hulu Riau pada  1993-1997.

Semakin meningkat, kuantitas maupun kualitas (keparahan)  asapnya dari tahun ke tahun.

Bukan lagi hanya (sudah sangat) mengganggu masyarakat di wilayah Riau (daratan) sendiri, tapi juga sudah menjalar ke daerah tetangga terdekat seperti ke Provinsi  Kepulauan Riau (Kepri), ibu kota provinsi  Tanjung Pinang , Batam dan  lainnya.

Hingga ke Sumatera Utara (Sumut), Sumatera Barat (Sumbar dan wilayah lainnya di Pulau Sumatera , termasuk  ke negara tetangga   seperti Singapura dan Malaysia.

Pada Mei-Juni 2013 lalu polusi asap nan pengap juga melanda Riau dan kawasan  sekitarnya. Berdasarkan pemantauan satelit pemantau cuaca dan pendeteksi panas bumi  NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration)  milik BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)   Riau , pada 18 Mei 2013  terdeteksi terdapat  148 titik panas  di wilayah Riau.

Di tahun ini, sejak minggu ketiga Januari 2014 hingga memasuki minggu pertama Maret  2014 polusi asap pekat kembali  menyelimuti ibu kota Provinsi Riau Pekanbaru dan sudah sangat mengganggu aktivitas masyarakat terutama penerbangan karena jarak pandang yang sangat pendek (dibawah 700 meter).

Malah polusi asap kali ini tercatat yang  terparah dibanding gangguan asap yang pernah terjadi pada Juni 2013 lalu tersebut hingga akhirnya Pemerintah  menetapkannya ke dalam  status darurat asap.

Sebagaimana penuturan Baiquni, Duty Manager Bandara Sultan Syarif Kasim II  di Pekanbaru  24 Februari 2014, saking parahnya gangguan polusi asap  berakibat terdapat paling tidak 18 maskapai penerbangan terpaksa menunda bahkan membatalkan penerbangannya, bahkan kabar terakhir ( 10 Maret 2014 ) terdapat 60 penerbangan yang dibatalkan karena gangguan asap pekat yang menyelimuti kota Pekanbaru hingga membuat jarak pandang sangat pendek dan tidak memungkinkan untuk terbang.

Sementara Analis BMKG Pekanbaru  Ardhitama menyatakan bahwa satelit Tera dan Aqua mendeteksi terdapat sebanyak 1.234 titik api (hotspot) di sejumlah wilayah di Riau.

Dengan rincian , di Kabupaten Bengkalis  515 titik api,  Siak 208, Meranti 141, Dumai 126 , Pelalawan 118, Indragiri Hilir  74 , Rokan Hilir 48 dan Indragiri Hulu 4 titik api.

Polusi asap  Riau juga (ikut)  merambah  beberapa daerah/kota di Provinsi Sumut, seperti Medan, Deli Serdang, Serdang Bedagai, Mandailing Natal, Pematang Siantar, Asahan, Tanjung Balai, Labuhan Batu dan daerah/kota lainnya.

Meski bukan mutlak berasal dari  wilayah Riau, karena memang ada warga ”nakal” setempat yang  sengaja membakar  lahan hutan lindung, kabut asap juga  melanda Danau Toba dan kawasan sekitarnya hingga sempat  mengganggu aktivitas pelayaran kapal-kapal.

Baca Juga :  Koalisi untuk Kepentingan Siapa?

Sementara sebahagian masyarakat  Medan dan Deli Serdang beberapa waktu lalu itu justru sempat menduga  bahwa cuaca  mendung  sebagai  pertanda hujan akan turun, namun ternyata adalah  kabut asap Riau.

Mengingat  memang sudah cukup lama kota Medan , Deli Serdang dan lainnya  dilanda musim kemarau, meski pada akhirnya memang sempat selama dua-tiga hari Medan dan Deli Serdang diguyur hujan bahkan sempat banjir sesaat.

Di Bandar Udara Internasional Kualanamu Deli Serdang-Medan taburan  polusi kabut asap  Riau sempat mengganggu aktivitas penerbangan. Tercatat tidak kurang 28 jadwal penerbangan tertunda keberangkatannya dan sedikitnya  tujuh jadwal penerbangan dibatalkan.

Dilema dan Dampak Polusi Asap (Riau)

Berbagai imbauan, peringatan bahkan hingga ke berbagai peringatan keras dari  Pemerintah (Pusat maupun Riau) dan Polri kepada para pihak pembakar lahan/hutan yang dinilai sudah keterlaluan  malah terkesan dipandang sebelah mata saja.

Dengan perkataan lain, peringatan keras mana dianggap  biasa-biasa saja. Malah oknum pembakar hutan/lahan seolah tak pernah jera untuk kembali mengulangi perbuatan nakalnya yang sudah berlangsung tahunan itu karena mungkin tidak pernah menerima sanksi tegas dan keras.

Sehingga wajar jika negara tetangga seperti Singapura menjadi sangat emosional  dan marah besar. Lalu membuat RUU bahaya asap dan sanksi tegas bagi negara penyebar/penabur  asap dan  menuntutnya secara hukum  bersanksi internasional.

Karena  siapa sih  yang tidak akan emosi dan marah  jika terus-menerus mengalami gangguan  taburan /polusi asap yang sangat menyesakkan (dada)  dan mengganggu kesehatan ,  fisik maupun  psikis itu (?!).

Kalau ditanya secara jujur, jangankan Singapura, Sumut dan Sumbar serta wilayah lainnya pasti juga emosi akibat deraan asap yang rutin melanda setiap tahunnya itu. Hanya saja  mungkin karena masih sama-sama se-Indonesia dan bertenggang rasa , kemarahan/rasa kesal bisa diredam dan tidak diungkap secara terbuka.

Mengingat bahaya asap, selain menimbulkan berbagai penyakit medik dan psikologik, seperti  sesak nafas, ispa (infeksi saluran pernafasan akut) , mata perih, dan berbagai gangguan psikosomatis/psikologis seperti gelisah dan trauma berkepanjangan, juga (sangat)  mengganggu perjalanan, baik darat, laut terutama perjalanan udara dengan menggunakan pesawat terbang.

Oleh karena itu berharap agar sudah tidak ada alasan lagi, baik dari pihak Pemerintah Pusat, terutama dari  Provinsi Riau, dimana Gubernur dan Wakil Gubernur  barunya  segera mengambil solusi dan langkah-langkah cepat, tepat, cermat dan jitu.

Bilamana perlu menindak tegas dan keras para oknum baik pribadi maupun pengusaha pembakar lahan/hutan yang tak bertanggung jawab itu.

Tidak usah lagi merasa sungkan apalagi sampai merasa takut untuk menegur, melarang dan menindak tegas para pembakar lahan/hutan yang selalu beralasan untuk pembukaan lahan (land clearing) meski mereka ditengarai dibekingi para oknum penguasa/orang kuat,  baik dari Riau  maupun luar Riau.

Baca Juga :  Redupnya Kembali Prestasi Bulu Tangkis Nasional

Juga , agar para oknum pejabat/aparat yang membekingi dan atau melakukan pembiaran hingga terjadinya  pembakaran lahan/hutan  yang menyebabkan bahaya asap tersebut agar segera sadar diri dan lalu menghentikan praktik buruk membekingi tersebut.

Penutup

Berharap Gubernur Riau Annas Maamun dan Wakil Gubernur Riau  Arsyadjuliandi Rahman (periode 2014-2019) baru dan telah  dilantik Menteri Dalam Negeri  Gamawan Fauzi di Pekanbaru pada 19 Februari 2014 lalu dapat sesegeranya melakukan pembenahan manajemen pemerintahan di provinsinya secara lebih profesional, jujur dan  transparan.

Juga mendengarkan, memperhatikan, mencermati kegerahan, kecemasan dan kemarahan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono pada 10 Maret 2014 di Jakarta, yang meminta agar aparat (Pemda Riau dan Polri) untuk menindak tegas para pelaku pembakaran lahan hutan di Propinsi Riau (daratan) karena dinilai Presiden sudah sangat keterlaluan.

Selain sudah sangat membahayakan bagi kesehatan masyarakat, terutama dilingkungan masyarakat Provinsi Riau sendiri, tapi juga sudah merembet ke daerah dan negara tetangganya, hingga mendapat berbagai protes, kritikan tajam dan kecaman.

Juga berharap agar Gubernur Riau dapat memaksimalkan fungsi –fungsi dinas lingkungan hidup, dinas kehutanan, dinas pertanian/perkebunan, BMKG dan dinas-dinas lain yang terkait masalah polusi udara dan  bahaya taburan asap  agar kelak  di 2015 sudah tidak ada lagi.

Mengedukasi dan membina para pembuka lahan agar meninggalkan pola lama pembukaan lahan dengan cara pembakaran karena sangat membahayakan kesehatan masyarakat di Riau maupun luar Riau.

Sekaligus  sebagai pencegah agar negara tetangga tertabur asap ( pencemaran udara ) tidak lalu  mengajukan klaim ganti rugi melalui peradilan internasional karena negaranya terganggu polusi asap.

Terakhir, berharap kepada Pemerintah (Pusat dan  Riau), para pakar kehutanan/pertanian, para akademisi dan intelektual lainnya  agar mencari cara-cara yang  pas dan  jitu untuk  membuka lahan  tanpa harus  melakukan pembakaran.

Sehingga kedepannya sudah tidak akan ada lagi praktik dan judul opini: “Riau Menabur Asap, Tetangga Terpolusi  Pengap ”. ***

Penulis adalah pemerhati Sosial dan Lingkungan, tinggal di Medan.

Sumber: analisadaily.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 6 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*