Ribuan Hektar Hutan Palas dan Tapsel Dijarah

www.harian-global.com

illegal logging 400 1 6926 Ribuan Hektar Hutan Palas dan Tapsel DijarahRibuan hektar hutan di daerah Padanglawas kembali dirambah. Terutama di sejumlah lokasi seperti Desa Botung dan di Desa Ulu Aer di Kecamatan Sosopan. Anehnya,   Pemkab sepertinya tidak beraksi. Padahal masyarakat mulai resah karena dikhawatirkan bakal mendatangkan banjir bandang.
“Banjir dikhawatirkan makin sering, masyarakat makin resah. Ini bagian ketidakberpihakan Pemkab terhadap masyarakat. Padahal dampak penebangan sangat jelas menyebabkan banjir,” tukas Presidium Gerakan Rakyat Berjuang (GRB), Ansor Harahap di Medan, Sabtu (20/2).
Disebutkan Ansor, data yang diperoleh GRB, beberapa lokasi hutan Padanglawas kini sedang ditebas pengusaha. Yakni, di Desa Botung, Kecamatan Batang Lubu Sutam dan Desa Ulu Aer, Kecamatan Sosopan serta beberapa titik lainnya yang tersebar di Kecamatan Barumun Tengah dan Sosa. Kemudian, di Desa Ulu Aer, sebanyak  320 ha. Di sana  mesin Chain Shou   sebanyak 25 unit beroperasi.
Masyarakat diberikan iming-iming dapat jatah 2 hektar per kepala keluarga. Sedangkan di Kecamatan Batang Lubu Sutam sampai ribuan hektar lahan dibuka. Kayunya digunakan bahan jadi. Selanjutnya di beberapa titik di Kecamatan Barumun Tengah dan Sosa juga ada sampai ribuan hektar lahan yang dibabat habis.
Menurut informasi yang diperoleh pihaknya, ungkap Ansor, penebangan dilakukan hanya untuk mengambil kayu. Untuk itu, pihaknya akan meminta pertanggungjawaban pengusaha dan menuntut Pemkab Padanglawas dan Padanglawas Utara terkait masalah ini. “Kami akan minta pertanggungjawaban Pemkab Padanglawas dan Padanglawas Utara,” tegasnya.

Pemkab Bertanggung Jawab
Sementara itu, Syahrul dan Mornif Hutasuhut dari Aliansi Rakyat Merdeka, Minggu (21/2) mengatakan penjarahan dan perambahan hutan secara liar di Kawasan Hutan Suaka Margasatwa Barumun, Hutan Lindung Register 7 dan 8 (Angkola II), Hutan Produksi Register 35 Siondop Utara, dan Hutan Lindung Register 34 Siondop Selatan (Angkola Selatan) menjadi salah satu penyebab banjir dan longsor.
Sesuai hasil pantauan, terang Syahrul, ditemukan titik longsor di daerah itu. Selain itu, juga ribuan kubik tumpukan limbah hasil pembalakan liar masih menumpuk di tepi sungai. Bahkan di hulu sungai juga terjadi penyumbatan. Khususnya Sungai Batang Bahal terdapat gunungan limbah pembalakan liar yang kemudian membentuk bendungan, danau kecil dan kantung air di sungai yang berhulu di kawasan Hutan Suaka Margasatwa Barumun dan Hutan Lindung Register 7 dan 8 Angkola II.
“Diprediksi apabila curah hujan terus menerus tinggi di kawasan tersebut, maka banjir longsor berikutnya akan terjadi lebih besar lagi untuk menghantam pemukiman di hilirnya,”kata Syahrul.
Karena itu, Pemkab setempat harus bertanggungjawab kepada publik terkait perlindungan, pelestarian, penjagaan, pengawasan (Penggunaan Dana Reboisasi GERHAN) hutan Tapsel yang selama ini telah dilaksanakan, namun tidak transparan. Selain itu, Pemkab harus mereboisasi, penertiban dan pembersihan di beberapa titik tumpukan limbah kayu hasil pembalakan liar yang masih berada di hulu-hulu sungai Batang Bahal yang saat ini telah membentuk danau-danau kecil di hulu Kawasan Hutan Lindung Register 7 dan 8 Angkola II maupun di SM Barumun, Hutan Produksi Register 35 Siondop Utara.

POST ARCHIVE: This content is 8 years old. Please, read this content keeping its age in Mind
google Ribuan Hektar Hutan Palas dan Tapsel Dijarahfacebook Ribuan Hektar Hutan Palas dan Tapsel Dijarahtwitter Ribuan Hektar Hutan Palas dan Tapsel Dijarahlinkedin Ribuan Hektar Hutan Palas dan Tapsel Dijarahemail Ribuan Hektar Hutan Palas dan Tapsel Dijarahprint Ribuan Hektar Hutan Palas dan Tapsel Dijarah

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*