Ribuan Warga Tapteng Belum Nikmati Listrik

Sedikitnya 6.735 Kepala Keluarga (KK) di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) belum menikmati listrik. Bahkan, program “go grass sejuta sambungan” oleh PT PLN (Persero) dinilai hanya lips service.

Hal ini disampaikan Kepala Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Tapteng, Ir R Panahatan Hutabarat, M.Si pada dengar pendapat Komisi D DPRD Sumut dengan manajemen PT PLN wilayah Sumbagut cabang Sibolga, bersama Pemda setempat di aula Bina Graha kantor Bupati Tapteng di Pandan, Rabu (13/7).

Hadir Ketua Komisi D DPRD Sumut, H Maratua Siregar, anggota komisi diantaranya M Yusuf Siregar, H Marahalim Harahap SAg,MHum, Tones Sianturi, Hj Syafrida Fitrie SP dan M Natsir, Pjs Bupati Tapteng Drs H Usman Batubara, sejumlah anggota DPRD Tapteng, unsur Muspida dan Muspida plus serta para pimpinan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) jajaran Pemkab Tapteng.

Panahatan Hutabarat dalam eksposnya, terkait kondisi pertambangan dan energi di daerah itu, terdapat 2 pembangkit listrik, yakni PLTA Sipan Sihaporas dengan kapasitas 2 x 50 Megawatt (MW) dan PLTU Labuan Angin memiliki kapasitas 2 x 115 MW. Di samping itu, Tapteng juga memiliki puluhan Pembangkit Listrik Tenaga Micro Hydro (PLTMh) dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang tersebar diberbagai wilayah Tapteng.

Kendati banyaknya lokasi berpotensi untuk PLTMh dan PLTS, hingga kini sekira 6.735 KK warga Tapteng belum menikmati aliran listrik.

“Memang di Kabupaten Tapteng banyak potensi pembangkit listrik, baik yang berukuran besar maupun kapasitas kecil. Tapi, masih banyak pula masyarakat yang belum menikmati aliran listrik ini. Hal ini disebabkan pemukiman yang terpisah-pisah dari pemukiman warga lainnya,” terang Panahatan.

Dikatakannya, permasalahan kelistrikan yang saat ini terjadi di Tapteng, khususnya pasca terbakarnya salah satu trafo di Gardu Induk PLN Sibolga menjadikan defisit daya mencapai 1 Mw saat beban normal dan difisit 5 Mw saat beban puncak.

Baca Juga :  Seputar Sebutan Batak dari Musafir Eropa - Keturunan Raja SM Raja Minta Per tanggung jawaban Ichwan Azhari

“Akibat dari terjadinya difisit listrik tersebut, menyebabkan kendala terhadap berbagai usaha kecil, menengah hingga skala besar milik warga juga berpengarh harga es batangan hingga mencapai 100 persen,” tutur Panahatan.

Evaluasi

Ketua Komisi D DPRD Sumut membidangi pembangunan sarana dan prasarana, H Maratua Siregar menyampaikan, tujuan pihaknya melakukan pertemuan dengan manajemen PLN dan Pemkab Tapteng adalah untuk mengevaluasi persoalan kelistrikan di Sumut, khususnya di Tapteng dan Sibolga.

“Apalagi baru-baru ini, trafo di Gardu Induk PLN Sibolga di Aek Tolang terbakar, sehingga Tapteng dan Sibolga hingga Tarutung maupun Padangsidimpuan mengalami difisit daya listrik. Kami ingin mengetahui langsung dari pihak PLN Sibolga tentang kondisi terkini dan antisipasi difisit listrik yang terjadi, sekaligus mempertanyakan dampaknya bagi masyarakat kepada Pemkab Tapteng,” ujar Maratua.

Komisi D DPRD Sumut mengharapkan difisit daya tersebut bisa segera diatasi, agar pemadaman listrik secepatnya tidak terjadi apalagi memasuki Ramadhan. “Perlu disikapi PLN agar pada bulan Ramadhan tidak terjadi pemadaman listrik. Ini menjadi inti dari kunjungan ini, sebab di Tapanuli Tengah sudah terdapat pembangkit listrik, jadi perlu penegasan,” tegas politisi asal Partai Amanat Nasional ini.

Senada dengan itu, anggota Komisi D lainnya, Marahalim Harahap dan Tones Sianturi menyesalkan kondisi Tapteng yang ada masyarakatnya belum menikmati listrik, padahal Tapteng termasuk lumbung energi listrik setelah berdirinya PLTU Labuan Angin.

Trafo Baru

Manager PT PLN Cabang Sibolga, Kriscahyono mewakili 4 manager PLN yang ada di Kabupaten Tapteng dan Sibolga menyampaikan, mengatasi difisit pasokan listrik yang terjadi pasca terbakarnya 1 unit trafo di Gardu Induk Aek Tolang, pihaknya mengirim pasokan listrik dari Tarutung dan Sidimpuan.

Baca Juga :  Pemko-Pelindo Hidupkan Pusat Bisnis Sibolga

padahal selama ini gardu induk Aek Tolang sebagai pemasok listrik ke dua daerah tersebut. Di samping itu, pihaknya berupaya untuk secepat mungkin memperbaiki trafo daya yang terbakar.

“Sekarang pasokan listrik sudah kembali normal. Hanya kita buat kebijakan bagi industri beroperasi mulai pukul 18.00 hingga 22.00 WIB atau dari pukul 22.00 hingga 06.00 WIB. Ini dilakukan untuk mengatasi difisit,” tuturnya.

PLN saat ini, lanjut dia, sedang berusaha perbaikan trafo yang terbakar, pengganti trafonya sudah ada dan tinggal melakukan pemasangan. “Kita rencanakan, 10 hari ke depan trafo daya yang baru sudah dipakai. Mudah-mudahan dengan beroperasinya kembali trafo daya tersebut, difisit listrik bisa teratasi dan kembali normal sehingga pemadaman listrik tidak lagi terjadi,” jelasnya. (yan)

analisadaily.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*