Romantisme Refly Harun

Oleh: Taufik Wijaya *)

Nama Refly Harun dalam beberapa pekan terakhir ini banyak dikutip media massa. Wajahnya sering muncul, baik di media cetak, online, maupun televisi. Ini bermula ketika mantan wartawan ini, menulis sebuah artikel di harian Kompas, dengan judul “MK Masih Bersih?”.

Kritik Refly ini cukup menyentak banyak pihak di Indonesia. Mahkamah Konstitusi (MK) merupakan lembaga tinggi (konstitusi) di negara ini, yang tentu saja sangat sensitif terhadap berbagai isu yang dinilai tidak bermoral atau tidak profesional.

Sebab bila MK sudah tidak dapat dipercaya, ke mana lagi bangsa ini akan mendapatkan jaminan konstitusi yang paling adil?

Kritik Refly ini mendapat reaksi dari ketua MK Mahfud MD. Mahfud pun meminta Refly ‘menunjuk hidung’ hakim yang diduga menerima sesuatu yang dapat mengganggu sikap profesionalitasnya.

Kini, semua pihak menunggu sikap Refly selanjutnya. Hasil kerja tim investigasi internal MK yang mana Refly Harun berada di dalamnya, belum memuaskan atau dinilai tidak setara dengan apa yang disampaikan Refly dalam artikelnya di harian Kompas.

Terlepas soal itu, ada baiknya kita mengenal sisi lain dari Refly Harun. Refly Harun merupakan salah satu generasi terakhir dari kekuasaan Orde Baru. Sebagai mahasiswa Universitas Gajahmada, dia tumbuh di lingkungan intelektual Yogyakarta, yang sebagian besar merupakan oposisi dari kekuasaan Soeharto.

Meskipun tidak sering turun ke jalan selama proses reformasi —1995-1998— Refly merupakan aktifis mahasiswa dari kelompok kritis yang banyak menyoroti persoalan hukum dan politik di Indonesia melalui berbagai diskusi. Sikap kritisnya dia tunjukkan dalam berbagai tulisan atau artikel.

Seperti umumnya para intelektual muda di Yogyakarta, Refly pun merantau ke Jakarta. Dia sempat magang atau belajar dengan pengacara Adnan Buyung Nasution. Tak lama kemudian dia memutuskan menjadi wartawan di Media Indonesia. Selanjutnya dia pernah menjadi staf ahli
MK.

Baca Juga :  Rekomendasi Ombudsman tentang Sertifikasi Guru

Terakhir, setelah peneliti di Centre for Electoral Reform (Cetro) dia beberapa kali tampil sebagai pengamat hukum, yang sering dikutip atau tampil di sejumlah media massa.

Saya mengenal Refly saat sekolah di SMA Negeri 5 Palembang. Kami membentuk kelompok belajar atau diskusi. Kami juga menjadi pengelola majalah Dimensi, majalah sekolah di SMA Negeri 5 Palembang.

Refly satu dari beberapa anggota kelompok kami yang kuliah di Universitas Gajah Mada. Misalnya Sopril Amir, yang kini menjadi aktifis LSM untuk isu-isu persoalan anak dan pemberdayaan masyarakat desa.

Salah satu hal yang membuat Refly bergabung dengan kami yakni dia menyukai sejumlah buku yang sering kami diskusikan, yakni buku yang terkait dengan Bung Karno, filsafat kritis, dan novel-novel yang dilarang di negara-negara Eropa Timur.

Sama seperti anggota kelompok belajar kami, Refly pun sering mengkritik pemerintahan Soeharto.

“Aku yakin Soeharto akan turun. Negara ini banyak persoalan hukum yang sudah dilanggar Soeharto, ke depan pasti akan banyak muncul persoalan hukum,” kata Refly, suatu hari di tahun 1988.

Ternyata pernyataan itu memang dia buktikan. Dia pun belajar hukum di Universitas Gajah Mada Yogyakarta.

Namun dalam perjalanan selanjutnya, selama menjadi mahasiswa, Refly memilih menjadi pemikir kritis dibandingkan aktifis mahasiswa yang turun ke jalan. Misalnya dia menolak dengan keras, ketika saya mengajaknya mengikuti pertemuan Aldera (Aliansi Demokrasi Rakyat) di Bogor. Alasannya, dia tidak begitu tertarik dengan gerakan politik.

Baca Juga :  Ramalan Intelijen dan Ramalan Jayabaya Presiden 2014

Dan dalam sebuah pertemuan, dia sempat menasehati saya ketika banyak bergaul dengan teman-teman Pijar di Jakarta. “Kamu itu seniman, lebih baik kamu mengekspresikan diri dengan karya seni dibandingkan ikut aksi ke jalan,” katanya.

Cerita romantis ini, sebenarnya ingin menunjukkan bahwa Refly sebenarnya tidak suka dengan persoalan politik. Dia kritis, tapi tidak tertarik dengan politik. Tapi, entah kalau hari ini.

Selama di sekolah, Refly yang tidak pernah lupa salat lima waktu, ini juga sering protes dengan guru. Protes itu disampaikan secara terbuka di kelas. Akibatnya ada sejumlah guru yang ‘memotong’ nilainya, sehingga Refly yang cerdas itu tidak mendapatkan posisi terhormat setiap pembagian rapor.

Meskipun begitu, Refly tetap rajin masuk sekolah. Dia tetap bertahan dengan sistem pendidikan yang dijalankan pemerintah Soeharto, yang sering dikritiknya. Sikap ini yang membedakan saya dan beberapa kawan lainnya yang terkagum dengan konsep pendidikan pembebasan yang ditawarkan Paulo Freire dan Ivan Illich. (detik.com)

*) Taufik Wijaya, wartawan detikcom dan pekerja seni. Tulisan ini tidak mewakili kebijakan redaksi.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*