RSUD Tapsel Berhasil Angkat 23 Batu Empedu

Tim medis RSU Tapanuli Selatan (Tapsel) di Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), mulai dari Direktur, dr Ismail Fahmi MKes, dokter Spesialis Penyakit Dalam, dr Anton Barus SpPd, dokter Anastesi, dr Muhammad Dahril Tanhar SPAn, dokter bedah, dr A Miga SpB, dan lainnya, berhasil mengangkat 23 batu empedu dari tubuh pasien, Rosliana Siregar (56), Warga Desa Paranjulu, Kecamatan Sipirok, Selasa (30/11).

Dengan memanfaatkan fasilitas dan kemampuan yang dimiliki, proses pengangkatan dimulai sekira pukul 11.00 WIB, setelah operasi dilakukan sekitar 45 menit, pasien selamat dan batu empedu dapat dikeluarkan dari tubuhnya.

Hal ini merupakan salah satu prestasi luar biasa yang dimiliki manajemen RSUD Tapsel, yang terus berbenah mempersiapkan diri sebagai salah satu Rumah Sakit tujuan utama dengan pelayanan prima di Tabagsel.

Direktur RSUD Tapsel, dr Ismail Fahmi MKes, kepada METRO Selasa (30/11) mengaku, bangga dengan prestasi yang diperlihatkan tim dalam menangani pasien batu empedu yang dengan fasilitas dan kemampuan yang dimiliki saat ini.

Ismail menceritakan, sebelum dilakukan operasi, pasien terlebih dahulu diperiksa dengan menggunakan USG 3 dimensi yang dimiliki untuk mendeteksi jenis penyakit di tubuh pasien. Untuk kasus ini yang menanganinya dokter spesialis penyakit dalam, dr Anton Barus SpPD, setelah si pasien masuk RSUD Sabtu (27/11), dan didiagnosa, ditetapkan mengidap batu empedu dan harus diangkat.

Baca Juga :  Gula Pasir Rp. 13.500 per Kg di Madina

Selanjutnya dokter spesilis anastesi juga memberikan perannya. Si pasien dioperasi dalam kondisi sadar, dan selanjutnya dokter bedah mengangkat batu empedu tersebut.

“Setelah penyakit pasien dideteksi melalui USG 3 dimensi, waktu opersi juga dia dalam kondisi sadar, karena dokter anastesi melakukan pembiusan sebagian tubuh pasien (regional anastesi), dan ini memudahkan kita dalam menangani pasien,” ucap dr Anton Barus usai operasi digelar.

Hal yang sama juga dijelaskan beberapa dokter yang menangani. “Batu empedu tersebut dideteksi menggunakan USG Doppler (3 dimensi),” ujar dokter Anton Barus.

Ditambahkannya, gejala umum yang terjadi di tengah masyarakat terhadap penderita penyakit batu empedu adalah nyeri ulu hati dan nyeri perut sebelah kanan tetapi hal itu harus lebih dulu melalui pemeriksaan (USG) agar dapat dipastikan.

“Itu gejala umum saja untuk memastikan harus di-USG dulu, dan sering di wilayah kita ini semua rasa nyeri diperut diartikan dengan maag. Itu belum tentu maag, harus diperiksa untuk memastikannya melalui USG Doppler yang kita miliki, dan biasanya batu empedu terjadi akibat penumpukan kolesterol dalam kantong empedu, atau akibat cairan empedu yang menggumpal atau infeksi kantong empedu yang berlama-lama,” paparnya.

Julpan Efendi (32) salah seorang anak dari pasien kepada METRO mengatakan, gejala nyeri diperut sudah dialami sejak 36 tahun terakhir, dan terus-menerus ditahankannya. Namun, sekitar sebulan terakhir tak tahan lagi dan selanjutnya dibawa ke RSUD Tapsel Sabtu (27/11) lalu, dan mereka cukup berkesan dengan penanganan yang dilakukan di RSUD Tapsel tersebut.

Baca Juga :  RAPBD 2015 Kab Madina Diajukan Rp1,1 Triliun

“Cukup berkesan terutama sikap dokter yang ramah dan rendah hati. Mulanya berdasarkan jawaban kami merasa tidak mendapatkan harapan ketika kami tanya peluang untuk berhasil, tetapi mereka memberikan bukti,” kata anak ketiga pasien dari 8 bersaudara tersebut. (metrosiantar.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*