Rumah di Jakarta Diendus – KPK Lacak Aset Syamsul

JAKARTA-METRO; Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus melakukan pelacakan terhadap aset-aset atau harta milik tersangka dugaan korupsi APBD Langkat, Syamsul Arifin. Pelacakan aset dilakukan terkait dengan hasil penghitungan besarnya kerugian negara.

Juru bicara KPK, Johan Budi SP menjelaskan, memang dalam proses penyidikan, tim penyidik sudah menghitung besarnya angka kerugian negara akibat tindakan korupsi yang diduga dilakukan tersangka. Namun, katanya, penghitungan kerugian negara yang dilakukan penyidik sifatnya sementara.

“Mengenai pastinya, yang menentukan nanti ya pengadilan,” ujar Johan Budi kepada koran ini di Jakarta, kemarin (25/11).

Lebih lanjut dijelaskan, setelah yakin ada kerugian negara, maka penyidik melakukan penelusuran aset yang diduga kuat terkait erat dengan uang yang dikorupsi. Bisa saja, data mengenai aset atau data yang terkait dugaan korupsi itu didapatkan penyidik saat melakukan pengembangan penyidikan atau keterangan para saksi.

“Apabila dalam proses penyidikan tiba-tiba didapatkan data mengenai aset atau harta yang diduga didapatkan dari uang korupsi, maka itu akan disita KPK, sampai terbukti di pengadilan,” terang Johan.

Yang dimaksud Johan, jika harta atau aset itu akan dikembalikan lagi jika pengadilan menyatakan harta atau aset tersebut tidak terkait dengan hasil korupsi.

“Jadi status sita itu, artinya harta atau aset dalam pengawasan KPK,” terangnya. Yang dipaparkan Johan ini merupakan mekanisme baku di KPK, tidak secara spesifik kasus dugaan korupsi APBD Langkat 2000-2007.

KPK Endus Rumah di Jakarta

Berdasarkan pelacakan koran ini, tim penyidik KPK saat ini sedang mengendus status sebuah rumah yang terletak di Jalan Siaga Raya No 110 RT/RW 012/004 Pejaten Barat Pasar Minggu Jakarta Selatan.

Baca Juga :  Polda Gelar Kasus Bupati Palas

Keterangan sejumlah sumber di sekitar rumah tersebut, rumah itu ditinggali putri Syamsul, Beby Arbiana dan keluarganya. Hanya saja, saat gencar-gencarnya pemberitaan pengusutan kasus Langkat ini, sekitar September 2010, Beby pindah rumah dan mengontrak di Jalan Warga II No 22 RT 014/003 Pejaten Barat Pasar Minggu Jakarta Selatan.

“Ibu Beby memang sudah pindah, belum lama, sekitar tiga bulan lalu,” kata seorang warga sekitar rumah yang jalan masuk dari pagar ke pintu utamanya mirip lorong itu. Rumah itu sendiri tidak terlihat dari jalan raya karena pintu masuknya berupa lorong yang panjangnya sekitar 10 meter hingga gerbang yang selalu tertutup rapat.

Lorong menuju rumah itu lebarnya cukup untuk dilalui satu mobil dan dihiasi tanaman menjalar. Rumah tersebut berada disebelah kanan rumah nomor 110 A yang digunakan kantor Nokia.

Yang menariknya lagi, berdasarkan data yang diperoleh koran ini, sesuai SHM 2126 dan 815 pada tanggal 28 September 2010, rumah itu dibeli oleh Ali Zainal Abidin dari Ni Ketut Sariasih, selang beberapa hari setelah KPK menyita Jaguar milik Beby. Ni Ketut, berdasarkan penelusuran koran ini, merupakan istri IGM Kartikajaya yang rumahnya di Perumahan Raffles Hills Cibubur disita KPK pada bulan September 2010.

Sementara, Ni Ketut tercatat membeli rumah dari Umar Malahela pada tahun 2006. Namun, sejak itu, rumah tersebut ditinggali Beby dan keluarganya.

Baca Juga :  2 Unit Backhoe Inventaris Pemkab Tapsel Dibakar OTK

Ali Zainal Abidin sendiri pada Rabu (24/11) lalu menjalani pemeriksaan di KPK. Dia diperiksa dari pukul 17.00 sampai 21.00 WIB. Dalam dua kali panggilan sebelumnya, Ali mangkir. Ada dugaan kuat, Ali hanya dipinjam nama untuk menjualkan rumah tersebut senilai Rp8,5 miliar. Karenanya, menurut sejumlah warga setempat, rumah tersebut sempat dipantau langsung sejumlah pria berbadan tegap, yang diduga kuat petugas dari KPK. Hanya saja, rumah belum disita, terlihat dari belum adanya plang bertuliskan ‘Rumah Ini Disita KPK’.

Saat dikonfirmasi mengenai informasi itu, Johan Budi tidak berkomentar. “Saya hanya jelaskan yang normatif saja (mengenai proses penyidikan terkait dengan penyitaan, red),” kata Johan. (metrosiantar.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*