Rumah Dilempari, Ratusan Warga Lambou MADINA Mengungsi

Sekitar 85 kepala keluarga (KK) warga Desa Lambou Darul Ihksan, Kecamatan Bukit Malintang, Kabupaten Mandailing Natal (Madina) mengungsi ke desa tetangga dan desa lainnya, akibat rumah mereka diduga dilempari warga desa tetangganya, Sidojadi, Rabu (26/5) dini hari sekira pukul 00.30 WIB. Akibat lemparan batu itu, 10 rumah rusak ringan, sementara korban luka belum diketahui.

54794600c0d95532ccd77ed6a76641a613580c5 Rumah Dilempari, Ratusan Warga Lambou MADINA Mengungsi
Warga Desa Lambou yang berjaga-jaga sekaligus menunjukkan rumah warga yang kacanya pecah akibat dilempar dengan batu, Rabu (26/5).

Keterangan yang diperoleh METRO dari mantan Kaur Pemerintahan Desa Lambou Darul Ikhsan, Amron Dalimunthe (50) menyebutkan, serangan tersebut terjadi di luar pengetahuan mereka. Di mana saat lemparan batu ke rumah, warga dalam kondisi tidur lelap. Seluruh warga saat itu tidak melakukan perlawanan karena serangan dalam bentuk lemparan batu itu sempat membuat sebagian warga desa pingsan.

“Serangan itu secara tiba-tiba dan tanpa sepengetahuan kami. Mereka datang dari berbagai sudut desa seperti mengepung. Dan saat itu juga kami memutuskan untuk tetap berada di dalam rumah, dan tidak ada satupun yang berani keluar hingga kami mendengar sirene polisi baru kami bisa keluar. Sebab besar kemungkinan orang itu juga membawa benda tajam,” ungkap Amron di lokasi kejadian.

Senada juga disampaikan Edi Sihombing (36), yang ditemui METRO saat sedang berjaga-jaga. Diutarakan Edi, mereka berjumlah sekitar 20-an orang untuk berjaga-jaga guna mengantisipasi terjadinya serangan kedua. Seba, ucap Edi, warga yang diduga berasal dari Desa Sidojadi, melakukan serangan dengan membawa benda tajam seperti parang. “Mereka membawa parang Pak. Makanya warga mengungsi untuk mengantisipasi terjadinya serangan kedua,” katanya.

Edi yang didampingi beberapa warga desa yang berjaga-jaga, mengaku tidak mengetahui pasti apa penyebab mereka diserang. Mereka mengaku tidak memiliki sengketa dengan warga Desa Sidojadi secara komunitas atau bersamaan. Dan yang mereka ketahui hanyalah permasalahan tapal batas yang selama ini belum ada penyelesaian.

“Kami seperti sudah dizolimi Pak. Di mana tapal batas yang selama ini kami ketahui, mereka mengklaim bahwa itu adalah wilayah mereka. Tapi kami tak pernah menjadikan itu sebagai suatu konflik. Mereka terus yang menzolimi kami, bukan kali ini saja tapi sudah sering terjadi mereka seperti memancing warga Desa Lambou,” sebut Edi yang diamini warga lain.

Baca Juga :  Berawal Dari Hal Sepele, Berujung Kematian

Seorang warga Desa Lambou yang mengaku bermarga Dalimunthe menambahkan, konflik tersebut diduga akibat kesalahpahaman. Di mana sekitar 4 hari lalu ada warga Desa Lambou yang sempat dipukuli warga Desa Sidojadi akibat mengintip rumah salah satu warga Sidojadi yang bertetangga. “Mungkin serangan ini terjadi akibat peristiwa itu,” ucapnya.

Amatan METRO di Desa Lambou Darul Ikhsan, Rabu (26/5) siang sekira pukul 14.00 WIB, desa yang baru dimekarkan dari Desa Janji Matogu beberapa tahun lalu tersebut, terlihat sepi dan hanya beberapa orang saja yang terlihat. Itupun kaum pria. Mayoritas warga Lambou tak lagi berada di desa mereka dan sudah mengungsi ke desa lain seperti Janji Matogu yang dianggap lebih aman dari serangan yang terjadi pada Rabu dini hari.

Akibat lemparan batu itu, sebanyak 10 rumah rusak ringan dengan dibuktikan pecahan kaca rumah, dan beberapa batu yang terlihat di sekitar rumah warga yang dilempari. Kerusakan juga terjadi pada atap rumah warga yang berlubang akibat lemparan batu, serta dinding rumah yang terbuat dari papan juga retak akibat terkena lemparan batu.

Masih pantauan METRO, warga yang terdiri dari perempuan dan anak-anak tidak ada lagi di desa tersebut dan sudah mengungsi ke desa lain. Sementara yang tinggal hanya sekitar 20-an orang saja dari jumlah penduduk yang berkisar 360-an jiwa.

Sebagian berjaga-jaga di pinggir Jalinsum, dan sebagian lagi ada yang berjaga di sudut desa untuk mengantisipasi terjadinya serangan kedua. Sedangkan dari penelusuran yang dilakukan METRO di Desa Sidojadi, tidak ada satupun warga yang mau memberikan keterangan, dan kepala desanya juga tidak berada di tempat.

Kepala Desa Lambou Darul Ikhsan Rasyid Gultom ketika ditemui METRO di Mapolres Madina saat melakukan pelaporan atas kejadian tersebut mengatakan, dirinya belum tahu pasti apa penyebab terjadinya serangan terhadap warganya. Sebab yang diketahuinya, mereka tidak ada sengketa dengan warga Desa Sidojadi. Serangan itu diduga dilakukan ratusan warga. “Saya juga belum tahu secara pasti apa penyebab terjadinya serangan ini Pak,” sebutnya.

Baca Juga :  Robinho Bawa Milan ke Delapan Besar

Kapolres Madina AKBP Hirbak Wahyu Setiawan SIk saat dihubungi METRO melalui telepon selulernya, membenarkan adanya penyerangan atas warga Desa Lambou Darul Ihksan yang diduga akibat masalah pribadi. Diutarakan Kapolres, awalnya seorang warga Desa Lambou pernah mengintip warga Desa Sidojadi dan sempat tertangkap.

“Serangan ini terjadi bukan karena tapal batas, tapi ini disebabkan persoalan pribadi. Di mana seorang warga Lambou mengintip warga Desa Sidojadi malam hari dan sempat tertangkap. Setelah itu pelaku atau yang mengintip tersebut memagar halaman rumahnya, sehingga salah satu yang menangkapnya saat kejadian itu sulit untuk ke rumahnya karena jalan ke rumahnya sudah dipagar pemilik rumah tersebut atau pelaku pengintipan,” ujar Kapolres sembari menyebutkan kalau saat ini Polres Madina masih melakukan olah TKP untuk memastikan penyebab sebenarnya, dan belum ada pelaku pelemparan yang diamankan.

Sumber: http://metrosiantar.com/Metro_Tabagsel/Rumah_Dilempari_Ratusan_Warga_Lambou_Mengungsi

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

1 Komentar

  1. mestikah semua persoalan diselesaikan dengan jalan buntu seperti itu ? apa yang kau dapat wahai koum-koum ?

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*