Samosir Diterjang Banjir 1 Warga Tewas, 4 Hilang

www.metrosiantar.com

5378719c8da4fa34d8be467e95804dd2af9a037 Samosir Diterjang Banjir 1 Warga Tewas, 4 Hilang

10 Rumah Rusak, 2 Tersapu
SAMOSIR-METRO; Banjir bandang melanda Desa Sabulan dan Desa Buntu Mauli Kecamatan Sitiotio Kabupaten Samosir, Kamis (29/4) sekitar pukul 22.00 WIB. Akibat bencana alam ini, satu warga tewas dan empat belum ditemukan. Sementara sembilan warga lainnya mengalami luka-luka, dan 10 rumah di kedua desa rusak berat, bahkan dua di antaranya lenyap tersapu banjir, serta 2 unit jembatan hancur.

Salah satu korban tewas yang berhasil ditemukan yakni Marsaulina br Situmorang, warga Desa Sabulan, siswi kelas 3 SMP Negeri 2 Palipi, anak dari Manalsal Situmorang dan istrinya br Tamba. Ironisnya. Dan keempat warga yang belum ditemukan tersebut merupakan anggota keluarga Manalsal. Bahkan, rumah Manalsal yang berada di daerah aliran sungai Sosorgalung tersebut lenyap tersapu banjir.

Karena rumah korban sudah lenyap tersapu banjir, jasad Marsaulina yang ditemukan tertimbun di bawah bebatuan dan lumpur yang dibawa banjir terpaksa disemayamkan di Puskesmas Pembantu Desa Sabulan. Korban tewas terseret banjir, dengan luka parah di bagian kepala dan dadanya.

Tampak kesedihan menyelimuti para kerabat dan keluarga dekat korban. Rencananya, korban akan dikebumikan hari ini, Sabtu (1/5) di pemakaman setempat.

Sementara di Desa Buntu Mauli, sembilan rumah rusak berat dan ambruk diterjang banjir yang membawa lumpur dan bebatuan. Bahkan satu rumah di antaranya lenyap tersapu banjir.

Di desa ini, sembilan warga mengalami luka-luka, di antaranya Saut Sinaga, Dermanius Sinaga, Sarael Sinaga, Ringan Sinaga, Asta Sinaga, Pinar Sinaga, Mion Sinaga, Lamsan Situmorang, dan Anita Sinaga. Korban luka-luka di Desa Buntu Mauli di antaranya Saut Sinaga, Wendy Sinaga, Gresia Sinaga, Deo Sinaga, Ria Sinaga, dan Yosafat Sinaga.

“Sebelum banjir datang, hujan deras mengguyur sejak pukul 20.00 WIB. Kemudian tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang sangat kencang dari atas bukit. Rumah para korban berada di tepi sungai. Karena kejadiannya sangat cepat dan tidak diduga sebelumnya, mereka tidak sempat menyelamatkan diri,” terang Sekretaris Desa Sabulan, J Sinaga, di lokasi kejadian, Jumat (30/4).

Baca Juga :  Evakuasi Casa 212 - Inilah Nama Korban CASA 212-200

Kapolsek Palipi, AKP Warlin Aritonang yang dihubungi METRO melalui selulernya menerangkan, puluhan warga sempat melarikan diri hingga mengungsi ke kapal-kapal yang sedang berada di dermaga tradisional warga setempat. Tidak ada tempat pengungsian lain, kecuali lari ke dalam kapal, untuk menyelamatkan diri diiringi dengan teriakan-teriakan, agar warga yang lain juga dapat sama-sama saling menyelamatkan diri.

Pantauan METRO, banjir membawa batu-batu besar berdiameter 1 meter, dan batang-batang pohon besar, yang bercampur lumpur. Desa Sabulan dan Desa Buntu Mauli sendiri berada tepat di lereng bukit Banua Raja, kawasan hutan Haranggaol dan hutan di kawasan Huta Parsingguran Kecamatan Pollung Kabupaten Humbahas.

Hingga berita ini diturunkan, tim evakuasi yang terdiri dari satuan Koramil Sitiotio, petugas Polsek Sitiotio dan Polres Samosir, beserta warga masih terus melakukan pencarian korban di sepanjang aliran sungai. Sedangkan upaya pencarian korban masih dilakukan secara manual, hanya menggunakan alat seadanya, seperti gergaji mesin (singso) dan cangkul, hingga Jumat sore (30/4).

Sebab alat berat tidak dapat didatangkan ke lokasi, berhubung akses menuju ke kedua desa tersebut hanya melalui jalur air, kawasan Danau Toba, atau sekitar 30 menit menggunakan kapal motor dari Pelabuhan Mogang Kabupaten Samosir.

Menurut Kabag Humas Pemkab Samosir, Gomgom Naibaho, bantuan logistik berupa beras, mi instan dan air mineral serta peralatan dapur telah disalurkan.

“Begitu mendapat informasi, kita langsung ke lokasi bencana untuk melihat kondisi. Secara teknis, kita kesulitan dalam pencarian korban, sebab peralatan kurang mamadai. Namun tim evakuasi SAR Basarnas akan segera turun ke lokasi,” kata Kabag Humas, Jumat (30/4) di posko bantuan yang didirikan di lokasi.

Baca Juga :  Rabu Lusa, KPK Periksa Gubernur Sumatera Utara

Hingga berita ini diturunkan, upaya pencarian korban oleh tim evakuasi dihentikan sementara mengingat kondisi malam hari, namun akan dilanjutkan hari ini dan beberapa hari ke depan. Para korban sendiri untuk sementara di tampung di tenda dan posko bencana yang didirikan Pemkab Samosir di kedua desa.

Artis Bunthora Situmorang Prihatin

Artis kawakan DR Bunthora Situmorang, yang tanah kelahirannya di Desa Sabulan saat dihubungi METRO melalui selulernya dari Jakarta, memberikan tanggapan dengan nada sedih. “Pertama-tama, saya mengucapkan turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas musibah yang menimpa para korban. Saya juga berharap, agar pemerintah Kabupaten Samosir dapat membantu upaya pencarian sekaligus memberikan perhatian serius kepada aparat kita yang turut serta dalam tahapan pencarian sekaligus membantu warga,” harapnya.

Menurutnya, bukan hanya karena Sabulan kampungnya, namun di mana-manapun yang namanya bencana alam hingga mereggut korban jiwa, wajib diberi perhatian serius. “Barulah kita akan mencari tahu, apa penyebab bencana ini terjadi. Dan itu semuanya akan kembali ke benak para sang penguasa dan pengusaha yang mungkin memanfaatkan sesuatu di sana,” pungkasnya. (mora/jes)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*