Samosir Tempat Budaya Batak yang Menakjubkan

(Analisa/franszul sianturi). Pemandangan alam di Pulau Samosir yang masih asri menambah daya tarik tersendiri. Kawasan ini juga menjadi tujuan wisata baik lokal maupun asing.

Oleh: Franzul Sianturi *)

SAMOSIR, pulau sejuta pesona diyakini sebagai asal muasal etnis Batak. Tidak salah jika dulunya si Raja Batak, memilih tempat ini sebagai tempat untuk bermukim dan memulai peradaban hingga lahirnya generasi-generasi Batak yang tersebar ke seluruh dunia sampai saat ini.

Panorama alam di Pulau Samosir yang dikelilingi oleh Danau Toba dari setiap sisi memberikan sensasi keindahan tersendiri dan menciptakan kekaguman luar biasa bagi setiap orang yang berkunjung. “Takjub”, begitulah ungkapan hati setiap pengunjung maupun asing dan domestik yang berkunjung ke pulau ini.

Jelajah Samosir, bagi yang pertama kali berkunjung, ibarat petualangan mencari harta karun. Semua ada di pulau unik seluas sekitar 650 km2 ini. Selain panoramanya yang indah dan menyejukkan mata, hembusan angin yang segar juga menyegarkan paru-paru. Bahkan, tidak bisa dipungkiri, kekayaan budaya dan sejarah Pulau Samosir juga seakan membawa hati dan pikiran pada sebuah era dimana identitas diri dan karakter suatu bangsa ditempah pada zaman dulunya.

Diawali dengan menginjakkan kaki disebuah kawah bernama Sianjur Mula-mula yang berada di lembah Pusuk Buhit, sejarah orang Batak dimulai dengan kehidupan si Raja Batak ditempat ini.

Konon, karena kehidupan si Raja Batak yang berkembang pesat dan beranak cucu dari lembah ini, berbagai peninggalannya hingga hamparan sawah dan perumahan yang tertata rapi bisa dilihat hingga saat ini.

Dari Sianjur Mula-mula, tempat yang tidak kalah indahnya juga bisa dikunjungi, yakni Sopo (rumah) Guru Tatea Bulan di Desa Sigulanti. Di tempat ini terdapat patung-patung si Raja Batak bersama istri dan anak-anaknya. Sehingga saat memasuki sopo yang diresmikan tahun 1995 ini oleh pomparan Guru Tatea Bulan ini, pengunjung seakan dibawa kepada cerita kehidupan masa lalu si Raja Batak.

Baca Juga :  Sinabung Terus Semburkan Abu - Pengungsi Belum Boleh Pulang

Tidak jauh dari sana, tepatnya satu tingkat di bawahnya, juga terlihat bangunan yang di depannya selalu berkibar bendera merah-putih-batak, warna ketiganya merupakan warna khas etnis Batak. Di dalam bangunan tersebut terdapat Batu Hobon. Batu Hobon dipercaya sebagai tempat penyimpanan berbagai benda pusaka milik Si Raja Batak.

Batu besar ini memiliki 7 lapisan batu yang mengapit sebuah lubang penyimpanan harta dan benda milik anak Si Raja Batak. Menurut cerita, tidak ada yang sanggup membuka batu yang besar ini. Dulu pernah ada yang mau membongkar isi lubang di bawah batu Hobon, tapi tak pernah berhasil.

Beranjak dari Batu Hobon, perjalanan wisata budaya tidak akan lengkap jika belum menginjakkan kaki ke Batu Cawan (Batu Sawan). Menuju Batu Sawan, dibutuhkan tenaga ekstra, karena harus berjalan kaki menapaki anak tangga berlapis semen.

Kiri kanan jalan setapak tersebut ditumbuhi pepohonan dan tanaman kopi. Di beberapa titik juga tersedia tempat berteduh bagi yang ingin melepas lelah sejenak.

Di tempat ini, curahan air yang segar bisa memulihkan kepenatan dan kelelahan, bahkan sebagian orang meyakini air Batu Sawan ini bersumber dari Aek Malum (Air Sembuh) yang berada di atas Batu Sawan. Aek Malum dipercaya sebagai tempat mandi Raja Namartua Pusuk Buhit (Raja Uti). Itulah sebabnya tempat ini menjadi salah satu situs sejarah yang sakral.

Baca Juga :  Bulog Sumut Perkuat Stok Beras

Dari Batu Sawan, sebelum ke luar dari Kecamatan Sianjur Mula-mula, situs sejarah yang tidak kalah pentingnya untuk dikunjungi adalah Aek Sipitu Dai (Air Tujuh Rasa).

Aek Sipitu Dai yang memiliki tujuh rasa yang berbeda dari setiap pancurannya ini memiliki kekuatan magis. Sumber airnya berada persis di bawah sebuah pohon beringin besar yang diperkirakan sudah berumur ratusan tahun.

Bagi suku Batak, Aek Sipitu Dai merupakan situs sejarah peradaban dan perkembangan Suku Batak di Toba. Menurut cerita dimasyarakat Batak Aek Sipitu Dai adalah tempat bertemu dan berjodohnya anak-anak dari si Raja Batak. Bahkan sampai saat ini, masyarakat masih meyakini, air dengan 7 rasa tersebut mampu memberikan perubahan bagi siapapun yang percaya dengan kekuatannya.* (analisadaily.com)

*) Sumber dari perjalanan KSPPM (Kelompok Studi dan Pengembangan Prakarsa Masyarakat) Kabupaten Samosir.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 7 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*