Sampai Kapan Begu Ganjang Menghantui Tanah Batak?

Oleh : Dr. Albiner Siagian

Desa Sitanggor mendadak terkenal. Desa kecil di Kecamatan Muara Kabupaten Tapanuli Utara ini menjadi berita hangat di surat kabar dan televisi.

Beritanya bukan berita yang menggembirakan, tetapi berita yang menyayat dan memilukan hati. Betapa tidak, pengadilan barbar baru saja berlaku di desa ini.

Tiga orang warga, yang terdiri atas ayah, ibu dan anak harus meregang nyawa dihakimi secara biadab melalui tindakan yang sulit diterima akal sehat di jaman sekarang ini. Ketiga orang tersebut dibantai dan dibakar hidup-hidup oleh sekelompok massa yang merupakan tetangganya sendiri.

Tuduhan yang menjadi pembenaran bagi penghakiman jalanan ini adalah begu ganjang. Para korban dituduh memelihara begu ganjang, suatu tuduhan yang tidak akan pernah bisa dibuktikan kebenarannya. Para korban pun tidak diberi kesempatan menyangkal tuduhan ini.

Kasus begu ganjang di Desa Sitanggor ini mengingatkan kita kepada kasus serupa di tempat lain. Belum lama berlalu, kasus begu ganjang juga terjadi di Desa Sipultak Kecamatan Pagaran Tapanuli Utara. Di Tapanuli Tengah, dua orang tewas (nenek dan anaknya) juga karena isu begu ganjang. Banyak keluarga yang terpaksa meninggalkan rumah dan kampung halamannya. Alasannya juga sama, yaitu mereka dituduh memelihara begu ganjang.

Pemerintah seakan tidak berdaya menghadapi hal ini. Korban isu begu ganjang terus berjatuhan. Bukan mustahil cerita dari Desa Sitanggor muncul lagi tempat-tempat lain di Tanah Batak. Entah kapan ini berakhir?

Pertanyaannya sekarang adalah “Sampai kapan begu ganjang terus menghantui Tanah Batak? Pertanyaan berikutnya, “Bagaimana caranya menghentikan kesesatan ini?” Lalu, siapa yang peduli akan hal ini?

Begu Ganjang

Masyarakat Batak kuno mempercayai adanya begu. Menurut kepercayaan mereka, ketika orang meninggal, rohnya berubah menjadi begu. Jenis begu ini pun bermacam-macam. Dasar pengelompokannya juga bermacam-macam. Ada begu yang baik. Ada juga begu yang jahat.

Sifat-sifat begu itu juga dikaitkan dengan sifat pemilik roh itu semasa hidup. Cara mati seseorang juga berkaitan dengan perilaku begunya kelak. Contohnya adalah begu siharhar. Begu ini berasal dari orang yang hingga meninggal belum memiliki keturunan. Orang Batak menyebutnya mate makkar.

Ada juga begu yang dihormati, ada pula yang ditakuti. Begu yang berasal dari roh orang yang meninggal pada umur yang panjang dan memiliki keturunan, hingga beranak cucu sangat dihormati. Begu ini disebut sumangot. Biasanya begu ini tidak ditakuti. Barangkali, inilah salah satu alasan mengapa orang Batak menguburkan orang yang sudah berumur panjang (sari matua atau saur matua) di tempat yang tidak jauh dari rumah tempat kediaman keturunannya. Bandingkan kalau orang yang meninggal masih muda atau anak-anak, mereka dikuburkan jauh dari perkampungan.

Baca Juga :  DPRD Sumut Temukan Banyak Proyek Fiktif Sarana Jalan

Ukuran ‘penampakannya’ pun menjadi dasar bagi julukan begu. Begu nurnur dipercaya memiliki ukuran yang besar, bahkan bisa setinggi pohon. Begu ganjang katanya berukuran panjang, walaupun belum ada ukuran pasti seberapa panjang begu ini.

Begu yang terakhir inilah yang sekarang hangat dibicarakan. Konon, selain panjang, begu ini bisa dipelihara. Tentulah pemeliharanya bukan sembarangan. Sebagai balas jasa memelihara, pemelihara dapat menyuruh begu ini untuk melakukan yang diinginkannya. Sayangnya, lagi-lagi katanya, begu ganjang merupakan spesialis untuk mencederai orang lain. Begu ini dapat disuruh untuk mendatangkan penyakit bagi orang lain, bahkan membuatnya meninggal. Begu ini kira-kira mirip dengan santet.

Perlu Pencerahan

Masih tumbuh suburnya kepercayaan akan begu ganjang di kalangan masyarakat tidak terlepas dari tingkat pemahaman masyarakat tentang dunia mistik yang keliru. Masyarakat masih sulit diajak berpikir secara logis dan realistis. Orang yang seperti ini tentulah mudah dipengaruhi dan dihasut.

Ketidaktahuan ini menyebabkan mereka mau melakukan tindakan di luar batas kemanusiaan, di luar perilaku manusia yang beradab dan beragama. Mereka benar-benar terjerumus ke dalam lumpur kesesatan. Oleh karena itu, mereka harus segera ditolong. Mereka perlu pencerahan.

Sulit bagi saya menerima kenyataan ini terjadi di daerah yang dicap sudah terbebas dari kesesatan (hasipelebeguon), sama sulitnya dengan upaya membuktikan begu ganjang ini. Lagi pula, kasus begu ganjang ini umumnya terjadi di daerah yang mayoritas penduduknya menganut agama Kristen, salah satu agama yang tidak mengakui keberadaan begu ini.

Seperti kita ketahui bersama, salah satu misi penginjilan di Tanah Batak yang dipelopori antara lain oleh Lyman dan Munson (yang kemudian terbunuh di Lobu Pining Tapanuli Utara) dan ‘dituntaskan’ oleh Ompu i Nommensen, adalah membebaskan Tanah Batak dari hasipelebeguon (okultisme). Akan tetapi, apa lacur, begu ganjang masih merajalela bahkan setelah lebih satu setengah abad kekristenan mencerahkan Tanah Batak.

Saya jadi bertanya-tanya di dalam hati “Di manakah peran gereja?” Benarkah Tanah Batak sudah terbebas dari kesesatan?

Baca Juga :  Ingin Kuasai Warisan, Oknum Polisi Ancam Ibu

Menurut pengamatan saya, dalam kasus-kasus begu ganjang yang selama ini terjadi, gereja kurang menunjukkan perannya. Terkesan bahwa kasus ini bukan domain pelayanan dan penggembalaan (parmahanion) gereja. Gereja tidak bersuara lantang dan tegas.

Oleh karena itu, saya menghimbau kepada para pemimpin gereja agar mengeluarkan sikap dan pernyataan yang jelas untuk masalah begu ganjang ini. Keluarkan pernyataan resmi! Itu bisa dilakukan melalui surat terbuka kepada setiap jemaat. Atau, bisa juga dilakukan dengan mengadakan penyuluhan dan pencerahan (panorangion) ke daerah-daerah yang masyarakatnya masih mempercayai takhyul laknat ini. Ini perlu tindakan segera!

Di pihak lain, pemerintah daerah harus segera turun ke lapangan. Karena kasus begu ganjang selalu diawali oleh adanya warga yang sakit atau meninggal dan itu diyakini disebabkan oleh begu ganjang, dinas kesehatan harus berusaha keras menyadarkan masyarakat bahwa itu bukan penyakit atau kematian yang disebabkan begu ganjang. Tokoh masyarakat juga harus terlibat, kalau perlu masyarakat Batak yang di perantauan harus segera turun kampung. Sekali lagi, jangan biarkan masyarakat sesat!.

Kasus begu ganjang tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Jangan ada lagi korban! Jangan ada lagi kasus sitanggor-sitanggor lain. Cukuplah keluarga Simaremare yang menjadi korban terakhir.

Gereja, pemerintah, dan masyarakat harus berusaha keras mengakhiri tragedi ini. Kalau tidak, sampai kapan begu ganjang masih menghantui Tanah Batak? ***

Penulis adalah Pengajar di Universitas Sumatera Utara, seseorang yang prihatin atas kasus begu ganjang

Sumber: http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=55896:sampai-kapan-begu-ganjang-menghantui-tanah-batak&catid=78:umum&Itemid=139

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

2 Komentar

  1. Begu ganjang sebenarnya TIDAK ADA. Isu begu ganjang hanya “Teror Psikologis”

    Kalau ada yang ngaku punya begu ganjang, saya berani menantangnya, bahkan seribu begu ganjang saya siap tantang, wong hanya BOHONG BESAR, kenapa takut ?

  2. terlalu kampungan….!!!
    inilah negara kita apa2 hrs diselesaikan secara brutal pdhl belum tentu benar kepastiannya, coba kl pd pake otak pasti akan baik2 aja tuh, tp percuma emang pd ga punya otak kale ya..

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*