Saya dan Kanker Payudara

Tulisan ini merupakan karya pemenang kompetisi blog dalam micro site Caring by Sharing Kompas.com yang diadakan selama bulan Oktober 2014 dalam rangka bulan Kanker Payudara.

Oleh:ย  Popy Indriana

Menuliskan judul di atas bukanlah hal mudah bagi saya. Dua tahun lalu saya pernah menuliskan pengalaman melakukan deteksi dini pada payudara di Kompasiana.

Mengapa saya ingin ikut berbagi disini? Saya mempunyai benjolan padat (tumor) di kedua bagian payudara. Memang masih jinak, tidak menunjukkan keganasan. Dan selama dua tahun terakhir ini saya masih rutin menjalani USG Mamae setiap enam bulan sekali. Itu berarti, saya punya resiko lebih besar untuk menderita kanker payudara ๐Ÿ™‚

Berbagi di sini lebih karena saya ingin mengajak semua wanita untuk lebih siaga (aware), dan bukan menjadi phobia, ketakutan berlebihan tetapi tidak bergerak sama sekali untuk melakukan pencegahan. Berbagi di sini juga memompa keberanian saya untuk terus mengatakan bahwa saya siap. Saya siap menjadi wanita yang peduli dengan salah satu organ vital saya, dan siap melawan kanker payudara.

Penting sekali untuk mengetahui lebih banyak fakta dengan tidak hanya sekedar membaca. Melakukan pemeriksaan dan berkonsultasi langsung dengan dokter akan lebih membangun pemahaman yang berbeda. Pesan yang diterima menjadi lebih baik.

Banyak teman-teman yang menanyakan, mengapa tiba-tiba saya berinisiatif melakukan USG Mamae? Apakah karena saya merasa ada keluhan sebelumnya. Saya menjawab TIDAK!. Saya memang tidak merasakan keluhan apa-apa. Seperti dugaan banyak orang. Yang merasa nyeri, atau melakukan SADARI dan menemukan benjolan.

Inisiatif yang menggerakkan saya adalah sebuah pertanyaan yang belum bisa saya jawab. Apakah saya ini benar-benar sehat? Ataukah hanya merasa sehat. Untuk memastikan kita sehat, tidak ada jalan lain selain melakukan pengecekan secara akurat bukan sekedar mengandalkan perasaan karena tidak ada keluhan. Hal lain karena saya melihat promo mamografi di sebuah RS Swasta. Jadi tiba-tiba dalam perjalanan menuju kantor, saya menyuruh suami untuk berbelok ke RS tersebut ๐Ÿ™‚

Baca Juga :  Riset: Ternyata, โ€œSmartphoneโ€ Bikin Wanita Karier Jadi Stres

Ternyata, juga tidak sesederhana itu ketika kita berkeinginan untuk melakukan deteksi terhadap payudara, dan langsung memutuskan untuk melakukan mamografi ๐Ÿ™‚

Mamografi adalah pendeteksian kanker payudara dengan proses menekan (pressing) organ payudara dan menggunakan sinar radiasi (sinar X). Jadi tujuan mamografi untuk mengetahui secara langsung jenis tumornya, dan cara ini bisa merusak kelenjar payudara.

Mamografi hanya dilakukan untuk wanita yang sudah berusia diatas 40 tahun dan atau yang mempunyai riwayat kanker payudara di keluarga.

Jadi saran dokter onkologi yang menangani saya waktu itu adalah melakukan USG Mamae. USG Mamae harus dilakukan tidak melebihi tujuh hari dari menstruasi terakhir. Karena untuk keakuratan, pemeriksaan USG harus dilakukan ketika kelenjar payudara masih lunak dan kondisi ini terpenuhi ketika berakhirnya periode menstruasi sampai tujuh hari ke depan.

Pengalaman lain yang tak kalah penting, ketika saya divonis mempunyai benjolan padat (tumor), saya tidak langsung melakukan operasi pengangkatan. Saya melakukan second opinion. Bukan dengan pengobatan herbal atau alternatif yang jamak dilakukan orang. Bagi saya, jika sudah sakit, pengobatan secara medis jauh lebih masuk akal.

Saya berkonsultasi dengan dokter onkologi dr. Soni Panigoro. Bagi saya beliau adalah dokter yang masih menjunjung tinggi profesinya tanpa dikotori oleh komersialisme ๐Ÿ™‚ Beliaulah yang justru tidak menyarankan saya buru-buru melakukan operasi. Ukuran di bawah 20mm dan tidak menunjukkan tanda-tanda keganasan adalah lebih faktor hormonal, selain juga bisa dipicu karena stress dan pola makan yang tidak sehat.

Jika karena faktor hormonal, bukan tidak mungkin setelah melakukan operasi pengangkatan, akan tetap muncul benjolan-benjolan baru. Jadi selama tidak ganas, atau benjolan yang berisi air (kista), tidak diperlukan tindakan yang agresif dengan operasi.

Baca Juga :  Tak Cuma Bikin Langsing, Diet Ini Juga Kurangi Risiko Penyakit Ginjal

Second opinion lain yang saya lakukan adalah merombak pemikiran tentang pola makan. Ya, saya sekarang lebih paham tentang pola makan yang sehat bukan sekedar apa yang kita makan, tetapi mencakup kapan waktu makan, dan kombinasi makanannya.

Food Combining adalah pola makan yang saat ini saya pilih. Berkesempatan hadir di launcing buku mas Erikar Lebang, Food Combining di Bulan Ramadhan, saya bisa menyempatkan bertanya langsung kepada beliau. Dan setelah enam bulan menjalankan food combining, walaupun belum 100% sesuai juklaknya, benjolan di payudara kiri saya (sebesar 10mm), bisa hilang ๐Ÿ™‚

Sejatinya, tubuh kita itu mampu melakukan self healing. Saat ini saya lebih memfokuskan diri pada gaya hidup sehat yang diawali dengan pola makan yang benar, termasuk memulai mengkonsumsi raw food . Anda bisa mengikuti postingan para penggiat di komunitas Indonesia Makan Sayur.

Pilihan sehat atau sakit ada di tangan kita. Termasuk keberanian menanyakan pada diri sendiri? Sudah benar-benar sehatkah kita ini? Jadi tidak perlu ada yang ditakutkan lagi. Jadi sudah siapkah anda?

Editor : Lusia Kus Anna / www.kompas.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 5 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

1 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*