Sejarawan Ichwan Azhari Diminta Belajar ke Bonapasogit – Penelitian tentang Batak Dinilai Dangkal

Sejarawan dari Universitas Negeri Medan (Unimed) diminta belajar ke Bonapasogit. Alasannya, penelitiannya tentang sejarah Batak dinilai masih dangkal dan tidak dilengkapi data atau fakta sejarah yang ada di tanah Batak.

“Semua pendapat atau ungkapannya bertentangan dengan sejarah dan data yang masih melekat bagi orang Batak,” ujar Bonar Siahaan, salah seorang budayawan Batak di Balige, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa), kepada METRO baru-baru ini.

Diterangkannya, pendapat Ichwan Azhari tentang tulisan Batak atau dalam aksara Batak tidak pernah menyebutkan diri sebagai orang Batak, kata Bonaran, membuktikan Ichwan tidak mengerti membaca dan menulis menggunakan aksara Batak. Sebab dalam aksara bisa ditemui kata ‘Batak’. Seperti kata ‘batahan’, songon hoda nadi ‘Batak’, dan masih banyak lagi istilah dan tulisan dalam aksara Batak yang menerangkan mereka suku Batak.

“Perlu saya terangkan, huruf ‘k’ memang tidak didapati dalam aksara Batak, tetapi penulisan huruf ‘k’ menggunakan dua huruf yaitu ‘ha’,” sebutnya sembari menyarankan agar Ichwan Azhari datang ke Bonapasogit untuk belajar membaca dan menulis menggunakan aksara Batak.

Bonar yang sudah mendalami kebudayaan Batak selama 20 tahun lebih itu membantah kebudayaan atau adat orang Batak diperoleh dari musafir barat yang kemudian diperkuat oleh para misionaris Jerman.

“Sangat tidak beralasan adat orang Batak diperoleh dari musafir barat dan dikukuhkan misionaris Jerman. Sebab kehadiran musafir barat ke tanah Batak itu di atas tahun 1500-an, sementara sesuai sejarah orang Batak, 1.000 tahun sebelumnya, orang Batak sudah berada di tanah Batak,” terangnya.

Baca Juga :  Jumlah Pemilih Pilgubsu di Sumut 10,2 Juta

Hal senada dikatakan masyarakat Balige seperti Toni Napitupulu, Harry Hutagaol, Marimbun Marpaung, dan Sopan Panjaitan. Mereka kecewa atas hasil penelitian Ichwan Azhari. Mereka menilai hasil penelitian itu tidak sesuai dengan sejarah Batak yang mereka ketahui selama ini. Oleh sebab itu mereka menyarankan agar sejarawan tersebut turun ke lapangan untuk mencari kebenaran sejarah Batak.

Sebelumnya, Sabaruddin Tambunan, tokoh masyarakat Balige juga mengatakan hal yang sama. Disebutkannya, kata Batak dan adat Batak bukan diadaptasi dari musafir barat atau misionaris Jerman. Hal ini dapat dibuktikan dari sejarah masuknya musafir barat ke Indonesia atau Sumatera Utara (Sumut).

“Saat penjajahan Belanda ke Indonesia, saat itu jugalah musafir barat mulai datang ke Sumatera Utara. Padahal dalam sejarah Batak, saat penjajahan, raja Batak atau orang Batak sudah menjadi bagian dari penjajahan. Atau orang Batak sudah ikut membela tanah air,” pungkasnya.

Sumber; http://metrosiantar.com/METRO_TANJUNG_BALAI/Sejarawan_Ichwan_Azhari_Diminta_Belajar_ke_Bonapasogit

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

2 Komentar

  1. Kita orang batak harus berbangga hati atas penelitian Ichwan Azhari ini,tetapi dia salah sampai jauh-jauh ke jerman untuk mencari apa arti kata Batak. Arti kata batak itu berbeda dengan kata Me-layu atau Malai,melayu itu adalah sebuah sebutan atau gelar sementara kata batak adalah sebuah nama yaitu nama sebuah pohon kayu yaitu kayu batak yang menurut sejarahnya kayu batak tersebut hanya ada tumbuh di tanah batak yang dubuat oleh nenek moyang orang batak menjadi tongkat bahasa bataknya tuk-hot kayu batak yang dibuat menjadi tukkot Sisia lagundi.

    Menurut sejarah tongkat inilah tuk-hot kebesaran para Mangaraja batak dulu Ciri-ciri kayu batak kurang lebih sebagai berikut:

    1.Pohonnya paling besar berdiameter 20 cm.
    2.Setinggi 2 s/d 2.5 meter tidak bercabang pangkalnya kebawah lebih besar.
    3.Daunnya kecil seperti daun JIOR.
    4.Kulit pohonny tipis.
    5.Bagian tenngah dlm kayu warna hitam,bagian luar putih getahnya merah

    Menurut legenda ke saktian dari pada tongkat Sisia lagundi ini hampir menyerupai tongkat nabi musa.Maka arti Batak adalah tuk-hot yang maksudnya tuk itu sampai dan hot itu adalah tetap.Maka ada umpasa Batak mengenai tukhot ini.Tuat na dolok martukkot si sia lagundi pinukka di parjolo diulahon na di pudi.

    Menurut adat batak dulu hanya ada dua Tuho parngoluan orang batak secara garis besar yaitu:
    1.Poda ni agama Mulajadi Nabolon.
    2.Poda ni tuk-hot si sia Lagundi.

    Menurut sejarah nenek moyang orang batak ada terjadi masa kegelapan pertama dan kedua di tanah batak.Masa kegelapan pertama yaitu masa meletusnya gunung Toba atau rentetan letusan kesekian kali setelah letusan gunung toba yang maha dasyat yg terjadi 70.000 thn yg lalu setelah ada peradapan manusia di kaki bukit tuba itu.Mengakibatkan peradapan bangsa batakpun punah termasuk tukhot SI Sia Lagundi tersebut.Masa kegelapan kedua orang batak yaitu masa datangnya kepercayaan parmalim.Dimana saat itu sesama bangsa batak tidak dapat lagi duduk bersama melaksanakan pegelaran adat batak dalihan natolu.Karena kepercayaan malim yang datang dari mesir mengharamkan daging babi sementara adat batak dalihan na tolu tidak dapat di laksanakan tanpa daging babai atau lomok-lomok.

    Sementara kata Malai menurut bahasa batak Ma dan kata dasar Lai yang artinya sbb: Lai artinya dauk-dauk meleleh atau lebur,hilang tak berguna.Lailai terdapat pada ekor ayam yang selalu mengarah kebawah,tidak ada gunanya malah menjadi gangguan utk berjalan dan berkelahi.Kata melai dalam bahasa indonesia MELAYU atau MA-LA-YU atau jadi Layu.Jadi kata-kata melayu itu dalam bahasa batak adalah sebuah sebutan bahwa yang bersangkutan sudah meninggalkan marganya dan adatnya sehingga tidak lagi orang batak.

    Orang batak yang meninggalkan tanah batak atau kampung halamannya dpt di bagi tiga golongan:
    1.Borhat tu tano parserahan(atau membuat perkampungan bar mangombang.
    2.Borhat mangaratto.
    3.Borhat gabe malai.

  2. saya berpendapat bahwa apa yang diteliti istilah “batak” oleh ichwan zahari merupakan temuan baru yang harus direspon secara postif dan dikaji secara akademis.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*