Sekretaris MUI Palas: Marpangir Dinilai Perbuatan Bidah

Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Padang Lawas, Khatimul Ansor Siregar meminta agar umat Islam di Palas tidak ikut-ikutan mencontoh perbuatan yang bukan ajaran Islam menjelang masuknya bulan suci Ramadan. Seperti, mandi-mandi dengan memakai bahan ramuan atau kerap disebut warga marpangir, meskipun tujuannya membersihkan diri. Marpangir dinilainya merupakan bidah dolalah atau pekerjaan yang tak ada dasarnya dari Tuhan.

Dijelaskan ustadz Ansor, menyambut bulan Ramadan dengan rasa gembira bukanlah dengan melakukan ritual-ritual yang tidak ada diajarkan dalam Alquran dan hadits. Namun mengisinya dengan amal soleh sesuai hadits Nabi Muhammad SAW, bahwa barang siapa yang menyambut bulan suci Ramadan dengan rasa gembira, maka dirinya akan dimasukkan oleh Allah ke surga.

“Jadi, bukanlah dengan eufhoria yang tidak ada diperintahkan Allah dan Rasulnya. Perbuatan marpangir adalah perbuatan yang mencontoh budaya-budaya di luar Islam,” tegas ustadz Ansor kepada METRO, Selasa (3/8), menyikapi semakin dekatnya bulan Ramadan yang kerap dilakukan warga dengan marpangir.

Lebih lanjut diutarakan ustadz Ansor, sesuai ajaran Nabi Muhammad SAW, menjelang bulan suci Ramadan, umat Islam harus mengisinya dengan memperbanyak sedekah, ziarah ke makam kerabat, sanak, famili dan orangtua, serta menjalin silaturahmi dengan saling memaafkan. Umat Islam agar mengisi Ramadan dengan kedaan suci dan bersih.

“Ramadan jangan sampai ternodai dengan ritual yang tidak ada dasar perintah Allah dan Rasulnya. Sehingga kita mengimbau kepada generasi muda dan masyarakat umat Islam janganlah mengikut-ikuti budaya tersebut apalagi dilakukan dengan berpasang-pasangan yang bukan muhrim,” terang ustadz.

Ketua DPD PKS Palas, ustadz Pulih Parisan Lubis Lc menyebutkan, hendaknya memasuki bulan suci Ramadan, umat Islam mengisinya dengan berbagai pengajian yang sifatnya menambah pengetahuan tentang isi kandungan Ramadan, agar begitu Ramadan tiba umat Islam sudah mengetahui apa ibadah yang harus diisi dalam bulan suci Ramadan.

“Agar kita menjadi hamba Allah yang dosa-dosanya diampuni oleh Allah yang terdahulu, sehingga kita mendapat gelar orang yang bertaqwa di penghujung Ramadan nanti,” tutur Pulih Parisan.

Pimpinan Pondok Pesantren Baiturrahman, Desa Parau Sorat, Kecamatan Batang Onang, Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta), H Abdul Rahman Siregar kepada METRO, Senin (2/8) lalu mengungkapkan, kebiasaan marpangir yang selalu diidentikkan dengan penyambutan datangnya bulan suci Ramadan, merupakan suatu kebiasaan yang perlu dihentikan, karena banyak yang menyalahgunakan dengan maksud dan tujuan rekreasi.

“Pada dasarnya menyambut bulan Ramadan cukup mempersiapkan diri dengan menyucikan hati. Tindakan sekarang memang sudah menjurus pada piknik, dan itu jelas sudah salah,” tuturnya.

Secara terpisah, Sali Simamora anggota MUI Kecamatan Sipirok, dan Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Sipirok Drs Jindar Tamimi mengungkapkan, belakangan ini makna dari marpangir merupakan hal yang sudah dipelesetkan oleh umat terlalu jauh.

Baca Juga :  Melestarikan Adat dan Budaya Lewat Ulos

Pada dasarnya tidak ada larangan bahkan dianjurkan setiap umat membersihkan diri baik secara jasmani maupun secara rohani dalam menyambut bulan suci Ramadan. Namun berbagai tindakan dengan alasan marpangir tersebut sudah banyak mengarah pada kelakuan-kelakuan jahiliyah.

“Makna marpangir jelas disalahgunakan dengan alasan rekreasi. Bahkan melaksanakan mandi ditempat terbuka, berdua-duaan dengan yang bukan muhrim dan lainnya, tentu tindakan semacam ini justru mencemari kesucian Ramadan sendiri. Selaku umat muslim cukup dilakukan dengan membersihkan hati dari berbagai keburukan dan mempersiapkan diri baik mental maupun fisik dan mempersiapkan diri memperbanyak sedekah,” pungkas keduanya.

Budaya Warga Tabagsel

Sementara itu, Sekretaris MUI Paluta HA Fachruddin Harahap mengatakan, kebiasaan warga Tabagsel ketika menyambut bulan Ramadan datang ke pemandian seperti sungai, danau, dan pantai untuk marpangir merupakan hal yang lumrah. Asalkan, sepanjang tidak beranggapan mandi tersebut sebagai syarat melakukan ibadah puasa.

Marpangir adalah budaya masyarakat kita. Di mana, ketika dahulu masyarakat melakukan mandi bersih-bersih diri. Tapi, sepanjang tidak sampai beranggapan mandi tersebut sebagai syarat sebelum melakukan ibadah puasa,” tegas Fahcruddin.

Selain itu, dirinya juga mengimbau masyarakat Paluta tidak mengotori kesucian Ramadan. “Sambutlah bulan Ramadan dengan penuh sukacita, dan tidak mengotori kesuciannya,” harapnya.

Tradisi marpangir atau dalam istilah masyarakat pesisir lebih dikenal dengan balimau, yaitu mandi menggunakan wewangian yang diracik dari tumbuh-tumbuhan, adalah budaya masyarakat sejak dahulu, dan hingga saat ini masih diteruskan. Biasanya marpangir tersebut dilakukan menjelang memasuki bulan Ramadan.

“Sebenarnya budaya marpangir sudah ada sejak dulu kala dan hingga saat ini masih juga diteruskan masyarakat. Dan kalau esensi dari marpangir adalah masih niatannya dalam konteks kebersihan yakni mandi membersihkan diri dan mewangi-wangikan diri dengan menggunakan bahan berupa hasil ramuan dari bermacam-macam jenis tumbuhan rumput, itu dibolehkan. Artinya kebersihan menghadapi bulan suci Ramadan,” ujar Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) H Hasyim Hasibuan kepada METRO, Selasa (3/8).

Namun, Hasyim menuturkan saat ini tradisi marpangir khususnya untuk kalangan kaum muda-mudi justri disalahartikan sebagai tindakan untuk melakukan kegiatan yang tidak pantas atau malah memuaskan diri berpacaran dan lain sebagainya, sehingga intisari dari marpangir itu menjadi tidak tepat lagi.

“Boleh marpangir, kan bulan suci Ramadan. Ini hanya sekali dalam setahun, jadi kita umat muslim menyambutnya dengan penuh suka cita di antaranya dengan mandi berwangi-wangi, membersihkan diri atau tubuh dan lainnya. Hanya saja di kalangan muda belakangan ini marpangir malah disalah artikan, bahkan ada kesannya dijadikan kedok semata. Padahal intinya mereka pergi marpangir hanya untuk berpasangan dengan sejolinya. Ini tidak baik dan sudah melanggar,” jelasnya.

Baca Juga :  Ulu Sosa & Sihapas Barumun Bakal jadi Kecamatan

Bukan Bidah Jika Niatnya Membersihkan Diri

Kemudian diungkapkannya, marpangir tidak ada unsur syirik, bidah dan khurafaat jika niatannya masih dalam konteks membersihkan diri apalagi ramuanya sangat berkhasiat menghilangkan penyakit seperti ketombe dan gatal-gatal.

“Perlu diketahui jika masyarakat dulu marpangir masih menggunakan dengan meramu berbagai jenis tumbuhan dan lainnya kalau sekarang menggunakan shampo, marpangir boleh asal tujuannya adalah dalam rangka membersihkan diri dalam menyambut bulan suci Ramadan,” beber Hasyim.

Senada dikatakan Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Psp, Drs Efri Hamdani Harahap menyebutkan, marpangir atau istilah masyarakat pesisir dikenal dengan balimau, adalah budaya masyarakat sejak dahulu, dan hingga saat ini masih diteruskan. Biasanya marpangir dilaksanakan menjelang memasuki bulan Ramadan.

“Sebenarnya budaya marpangir sudah ada sejak dahulu kala dan hingga saat masih juga diteruskan masyarakat. Dan kalau esensi dari marpangir adalah masih niatannya dalam konteks kebersihan yakni mandi membersihkan diri dan mewangi-wangikan diri dengan menggunakan bahan berupa hasil ramuan dari bermacam-macam jenis tumbuhan rumput, hal tersebut dibolehkan,” ujar Efri kepada METRO, Selasa (3/8).

Lebih lanjut diterangkannya, marpangir dilarang dikarenakan arti seutuhnya dari marpangir sudah lari dan lebih disebabkan akibat penetrasi (pengaruh) dari budaya luar. Sehingga, marpangir malah kumpul-kumpul antara lelaki dan perempuan atau berduaan berpacaran.

“Kalau disalahgunakan atau lari dari tujuannya yakni membersihkan diri maka marpangir dilarang karena jelas dampak lanjutannya akan mengarah ke perbuatan menjurus hal negatif. Contohnya kalau di sini mungkin mereka secara berkelompok, berduaan pergi marpangir ke suatu tempat seperti ke Parsariran, Aek Sijorni dan lainnya,” terangnya.

Ditambahkan Efri, marpangir tidak ada unsur syirik, bidah dan khurafaat jikalau niatannya masih dalam konteks membersihkan diri apalagi ramuannya sangat berkhasiat menghilangkan penyakit seperti ketombe dan gatal-gatal.

“Perlu diketahui jika masyarakat dulu marpangir masih menggunakan dengan meramu berbagai jenis tumbuhan dan lainnya,” pungkasnya.

Sumber: http://metrosiantar.com/MENUJU_PALAS-PALUTA/Sekretaris_MUI_Palas_Marpangir_Dinilai_Perbuatan_Bidah

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 12 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

1 Komentar

  1. Marpangir yang dilakukan oleh anak-anak remaja dewasa ini lebih banyak menjurus ke hal-hal yang negatif.Berdua-duaan mandi yang bukan muhrim bahkan mengarah kepada perbuatan sek bebas.Dimohon kepada orang-orangtua di Tap-sel agar melarang saja pekerjaan marpangir ini

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*