Selamat Jalan Mbah Maridjan!

Oleh : Djoko Suud *)

6843920dbda7d227496c0c095f3cf25ca7841bf Selamat Jalan Mbah Maridjan!Mbah Maridjan meninggal dunia.  Dia yang dikenal perkasa akhirnya luruh dalam takdirNya. Sang mbah tahu kodrat itu. Dia patuh dan sadar sebagai abdi wajib mengabdi. Pengabdian itu yang dijalankan hingga akhir hayat.

Berbulan-bulan bergolak, akhirnya Gunung Merapi meletus. Melepaskan gemuruh perutnya untuk mengurangi lava yang dikandungnya. Gunung teraktif di dunia ini muntah. Muntahan itu yang membawa korban jiwa, termasuk Mbah Maridjan.

Entah kenapa, ketika mendengar kabar Mbah Maridjan meninggal, hati ini seperti tersayat sembilu. Airmata tak tertahan. Suasana melankolis menjebak. Terasa ada yang hilang tak bakal kembali.

Saya cukup akrab dengan Mbah Maridjan seperti banyak orang yang pernah bertandang ke rumahnya. Ditambah saban ke Yogya saya selalu menyempatkan mampir ke Mbah Nono juru kunci Parangtritis dan Mbah Maridjan atau ke teman-teman seniman Tamansari, maka sang mbah telah mengisi di kisi terdalam batin ini.

Mbah Maridjan adalah pribadi yang kukuh sekaligus humoris. Dia gampang bergaul dengan siapa saja dan dari kalangan apa saja. Dia tidak membuat jarak. Padahal banyak yang mengkultuskan karena jabatannya sebagai juru kunci Gunung Merapi yang dimistiskan,  dan ‘menselebritiskan’ sang mbah ketika membintangi iklan produk.

Saat-saat itu tamu sang mbah bukan main banyaknya.  Berdatangan dari segala penjuru tanahair. Malah warga luar Pulau Jawa yang punya anak kuliah di Yogya banyak yang berdatangan mengunjungi Mbah Maridjan.  Berfoto-foto-ria.  “Foto sama bintang pilem,” celoteh Mbah Maridjan sambil terkekeh-kekeh.

Baca Juga :  Memaknai “Hari Pahlawan”

Pernah suatu hari di tiga tahun lalu saya datang dengan mengenakan kaos bertulis “Tahu Tempe Tetap OK”.  Belum sempat bersalaman, sang mbah sudah tertawa terbahak-bahak sambil bilang “sae niku, mas. Sae niku”. (bagus itu, mas).

Keakraban dan humorisnya sang mbah jangan dikira sebagai cerminan dia gampang kompromi. Dia adalah tipe orang yang sulit dipengaruhi, terutama jika untuk tujuan tidak baik. Di balik kalimat-kalimat jenakanya, sang mbah sangat tegas bersikap.

Itu terjadi ketika lumpur Lapindo menggelegak. Ada serombongan orang datang meminta tolong. Mbah Maridjan jujur bilang dia tidak bisa melakukan itu. “Saya ini juru kunci gunung, saya tidak bisa menyumbat keluarnya lumpur,” jawab Mbah Maridjan dalam bahasa Jawa.

Gagal mempengaruhi Mbah Maridjan, rombongan itu datang lagi sebulan kemudian. Kali ini bukan dengan orang yang sama, tetapi melalui perantara yang mempunyai kedekatan khusus dengan sang mbah.  Apa jawabnya? “Pokoke aku emoh metu teko kene. (Pokoknya aku tidak mau meninggalkan lereng Gunung Merapi). ”

Kini orang yang mempunyai keteladanan itu telah tiada. Kepergiannya membawa kemuliaan. Mbah Maridjan memberi penyadaran terhadap kita, terutama orang-orang Jawa yang sudah hilang ‘kejawaannya’.  Macan mati meninggalkan belang. Gajah mati meninggalkan gadingnya. Dan manusia mati meninggalkan namanya. Mbah Maridjan meninggalkan nama itu. Nama harum.

Selamat jalan mbah, semoga Gusti Allah menerima amalan mbah, dan mengampuni dosa-dosa Mbah Maridjan. (deriknews.com)

*) Djoko Suud Sukahar adalah pemerhati budaya, tinggal di Jakarta

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  Khadafy, Revolusi, dan Badai Demokrasi

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*