Selamat Tinggal Naga Bonar

TRIBUN-MEDAN.com – MEMOAR babak enam besar Kompetisi Divisi Utama Perserikatan tahun 1992 itu menjadi prestasi tertinggi kedua PSDS Deli Serdang. Sebelumnya, PSDS sempat membuat kejutan di tahun 1964. Memulai kompetisi sebagai tim pendatang baru, anak-anak Lubuk Pakam mampu melesat hingga meraih posisi empat besar.

Dua pencapaian itu sekarang tinggal kenangan. PSDS bukan saja tidak mampu mengulangnya, tapi lebih mengenaskan mereka kian jatuh terperosok ke level bawah sepakbola Indonesia. Ironis lantaran keterperosokan itu lebih banyak disebabkan faktor non teknis.

Seharusnya musim ini PSDS berlaga di kompetisi Divisi Utama. Namun keikutsertaan dibatalkan atas alasan yang sungguh terdengar memiriskan, ketiadaan dana. Kemudian hadir tawaran berlaga di Liga Premier Indonesia (LPI). Sebuah kesempatan emas sebab ikut di liga swasta ini berarti mendapatkan curahan dana sebesar Rp 20 an Milyar.

PSDS tak juga ikut. Kenapa? Alasannya kini ketidaksiapan teknis. Pengurus tim yang juga berjuluk Traktor Kuning ini kesulitan mempersiapkan tim karena tak mampu merekrut pemain dalam waktu singkat. Sedangkan untuk memakai pemain sembarang, pengurus mengaku masih punya harga diri. Dengan kata lain, daripada jadi bulan-bulanan di LPI, lebih baik tak ikut sekalian.

Atas ketidakikutsertaan di Divisi Utama, PSSI menghukum PSDS turun kasta ke Divisi I yang kompetisinya akan segera diputar dalam hitungan pekan.

Kompetisi Divisi Utama berputar lagi. Gelegar LPI menambah seru peta persepakbolaan Indonesia yang dikarutmarutkan politik. Perhatian masyarakat Medan dan sekitar, dalam hal ini termasuk Lubuk Pakam, tersita kepada empat tim yang berlaga di kedua kompetisi itu, yakni PSMS Medan, Pro Titan, Bintang Medan, dan Medan Chiefs. Yang terakhir ini menjadi “tuan rumah” baru di Stadion Baharoeddin Siregar. Medan Chiefs membikin warna stadion itu jadi merah, bukan lagi kuning.

Baca Juga :  Mahasiswa Desak copot jabatan Kepala dinas DKP

Pendek kata PSDS terlupakan oleh semua orang sampai tiba-tiba muncul kabar lain yang nadanya bertambah menyesakkan. PSDS kesulitan memperoleh dana untuk operasional mereka di Divisi I. Jika tak terkumpul, boleh jadi berlaga di liga level bawah ini pun gagal dilakoni.

“Sepak Deli Serdang makin habis. Entah kemana perginya uang-uang pembinaan selama ini,” kata Mikail TP Purba, Ketua PSSI Deli Serdang di Lubuk Pakam, di Lubuk Pakam, Kamis (27/1/2011).

Mikail, biasa disapa Ucok, agak emosional menanggapi kabar ini. Dia mengatakan, para pengurus yang bercokol di PSDS harus diperiksa. Selain itu, dia juga menyoroti peran Amri Tambunan. Menurutnya, sebagai kepala daerah Amri seharusnya memiliki keperdulian terhadap PSDS. “Tim ini menjadi kebanggaan masyarakat Deli Serdang sejak dulu. Tapi sekarang lihatlah. Ada empat tim dari Sumut ini  di liga, baik di liga PSSI maupun LPI. PSDS cuma jadi penonton. Bahkan stadion kita dipakai tim lain,” ujarnya.

Nada prihatin lain datang dari Syahrial Effendi. Syahrial yang bermain di laga monumental di Stadion Gelora Bung Karno pada tahun 1992 itu meminta agar seluruh pihak peduli terhadap PSDS. Tidak saling menyalahkan, tapi bersatu pendapat dan sikap.

Syahrial, mantan stopper era 1985-1994 ini menjelaskan, ada sebanyak 36 klub berada di bawah bonden PSDS. Tapi memang sudah sejak lima tahun terakhir kompetisi tidak berjalan. Kalau pun ada, bentuknya sekadar turnamen antar klub. “Kalau tidak ada kepedulian, baik dari pihak pemerintah dan pemilk klub, maka selamanya PSDS akan vakum,” katanya. (riz/ags)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  Rumah Dilempari, Ratusan Warga Lambou MADINA Mengungsi

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*