Selamatkan Hutan Batang Toru

www.analisadailyc.om

Hutan Di Batang Toru Yang Mulai Gersang

Hutan merupakan bagian penting dalam suatu Daerah Aliran Sungai (DAS), karena hutan secara tidak langsung dapat memperkecil perbedaan debit air sungai pada musim hujan dan kemarau.

Penebangan hutan untuk mengkonversi lahan ke penggunaan lain dengan pengolahan tanah yang intensif dapat meningkatkan debit air karena menigkatnya aliran permukaan.

Jika hutan dieksploitasi dan digunduli, suatu waktu ia akan marah. Sama halnya dengan manusia apabila diusik atau diganggu tentunya akan marah. Untuk itu, manusia sebagai makhluk yang memiliki akal dan pikiran tentunya harus dapat bersikap arif dan bijaksana dalam memanfaatkan alam sehingga alam tidak akan murka kepada manusia.

Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia sangat bergantung pada alam. Manusia memerlukan hewan, tumbuhan, udara, air serta zat-zat yang ada di alam ini. Manusia selalu berupaya agar terpuaskan dengan terpenuhinya kebutuhan hidupnya.

Terkadang manusia lupa bahwa alam dapat dimanfaatkan, namun alam juga perlu dijaga. Untuk itu, dalam hal mengatasi bahaya banjir dan tanah longsor, maka komponen ekosistem DAS seperti desa/pemukiman, tanah pertanian, air (sungai)  dan vegetasi (hutan tidak dapat dipisahkan, karena sub sistem ini sifatnya kait mengait, maka penanganannya perlu dilakukan secara simultan.

Sumatera Utara sebagai salah satu bagian dari pulau Sumaera memiliki kawasan hutan yang sangat luas. Namun sayang, sebagian dari hutan tersebut telah rusak dan gundul oleh ulah oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab. Menindaklanjuti keberadaan hutan di Sumut yang semakin berkurang, Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) merasa sangat care terhadap upaya pelestarian dan penyelamatan hutan di Sumut. Salah satunya adalah menyelamatkan hutan Batang Toru.

Kawasan Hutan Batang Toru terdiri dari Blok Barat dan Blok Timur (Sarulla), secara geografis terletak antara 98° 53′ – 99° 26′ Bujur Timur dan 02° 03′ – 01′ 27′ Lintang Utara. Hutan alami (primer) di Batang Toru yang tersisa saat ini diperhitungkan seluas 136.284 ha dan berada di Blok Barat seluas 81.344 ha dan di Blok Timur seluas 54.940 ha. Secara administratif berada di 3 Kabupaten yaitu Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan.

Kawasan hutan Batang Toru yang termasuk kedalam daerah Tapanuli Utara adalah seluas 89.236 ha atau 65,5% dari luas hutan. Air dari hutan Batang Toru di Tapanuli Utara mengairi persawahan luas di lembah Sarulla dan hulunya dari daerah aliran sungai (DAS) Sipansihaporas dan Aek Raisan berada di Tapanuli Utara. Pegunungan yang paling tinggi di Batang Toru berada di Tapanuli Utara (Dolok Saut 1.802 m dpl).

Baca Juga :  Ratusan Warga Desa Humbang Hadang Mobil PT SorikMas Mining

Penting Bagi Masyarakat

Kemudian, hutan Batang Toru yang termasuk daerah Tapanuli Tengah adalah seluas 15.492 ha atau 11,4% dari luas hutan. Kawasan hutan Batang Toru di Tapanuli Tengah merupakan daerah tangkapan air bagi PL TA Sipansihaporas.

Areal sekitar Sipansihaporas merupakan hutan di tebing kapur yang sangat indah dengan banyak air terjun. Kawasan Bukit Anugerah sedang dibangun di tepi hutan Batang Toru yang akan dijadikan sebagai kawasan ekowisata Tapanuli Tengah.

Sementara kawasan hutan Batang Toru yang termasuk ke dalam daerah Tapanuli Selatan adalah seluas 31.556 ha atau 23,1 % dari luas hutan. Air dari sungai Batang Toru menjadi penting buat perkebunan luas yang berada di daerah hilir. Di daerah Tapanuli Selatan sedang dilakukan eksplorasi tambang di Kecamatan Batang Toru.

Seperti disampaikan Staff YEL Gabriella Fredriksson, air merupakan bagian penting bagi kehidupan manusia. Air dari hutan Batang Toru sangat penting bagi masyarakat di sekitarnya untuk perkebunan, pertanian lahan basah dan untuk keperluan rumah tangga di 3 Kabupaten tersebut.

“Hutan Batang Toru juga merupakan daerah tangkapan air untuk 10 sub-DAS. Kawasan DAS ini masih memiliki tutupan hutan yang utuh di bagian hulunya dan mempunyai fungsi penting sebagai penyangga dan pengatur tata air maupun sebagai pencegah bencana,” tegasnya.

Sepuluh sub-DAS tersebut berasal dari Hutan Batang Toru yaitu, Sipansihaporas, Aek Raisan, Batang Toru Ulu, Sarulla Timur, Aek Situmandi, Batang Toru Ilir (Barat dan Selatan), Aek Garoga, Aek Tapus, Sungai Pandan. Sub-DAS yang paling besar terdapat di blok hutan Batang Toru sebelah timur, yaitu Batang Toru Timur (atau disebut juga dengan Aek Namapar/Aek Puli).

Ada banyak industri yang membutuhkan air dari Hutan Batang Toru. Antara lain PLTP Sarulla (Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumil Geothermal) yang akan dikelola oleh PT Medco Geothermal Indonesia berada antara Blok Hutan Batang Toru Barat dan Timur, tepatnya di lembah Sarulla di Tapanuli Utara.

Proyek Geothermal yang akan dikembangkan di lembah Sarulla ini akan sangat tergantung pada ekosistem stabil sekitar sumber panas bumi, terutama dari segi ketersediaan sumber air bawah tanah yang harus berkelanjutan. Air bawah tanah tergantung dari resapan yang ada di atas permukaan bumi, yaitu hutan.

Sosialisasi

Dari pengamatan di lapangan kata Gabriella, ada beraneka macam tipe vegetasi dijumpai di dalam hutan Batang Toru karena geografi/ topografi hutan ini begitu rumit dan bergelombang.

Baca Juga :  Kemeriahan HUT Kemerdekaan RI Ke-71 Di Kecamatan Aek Nabara Barumun

Jenis hutan yang bisa ditemukan adalah termasuk jenis hutan pegunungan rendah, hutan gambut pada ketinggian 900-1.000 m dpl, hutan batu kapur, hutan berlumut (seperti di pegunungan tinggi) dan juga bisa ditemukan beberapa belang (rawa) di ketinggian 800 m dpl.

Tanah dan air di hutan gambut cukup asam (PH 4-5) dengan air berwarna coklat jernih. Pohon-pohon di hutan Batang Tloru pada berbagai tempat didominasi oleh Ce-mara gunung (Atur mangan, Casuarina sp.), Sampinur tali (Dacrydium spp.), dan jenis-jenis Mayang (Palaquium spp). Pada umumnya kerapatan pohon tinggi tetapi dengan diameter kecil.

Jenis-jenis pohon dominan yang dijumpai di hutan adalah berasal dari famili Theaceae, Sapotaceae dan Lauraceae. Banyak juga ditemukan jenis-jenis epifit, lumut dan tanaman yang punya simbiosis (hidup dengan semut, atau makan serangga seperti kantong semar, Nephentes spp.)

Dalam survei vegetasi yang dilakukan beberapa tahun yang lalu ditemukan langsung 11 jenis tanaman yang merupakan spesies baru di dunia ilmiah. Ada juga beragam jenis yang khas dan unik di pulau Sumatera, seperti bunga bangkai Rafflesia gadutensis dan bermacam anggrek yang luar biasa.

Gabriella Fredriksson menegaskan, bahwa upaya penyelamatan hutan Batang Toru sampai hari ini masih terus dilakukan. Sosialisasi tentang arti pentingnya menjaga kelestarian hutan menjadi agenda yang tak pernah putus-putusnya dilakukan.

Upaya ini dilakukan tidak lain tidak bukan adalah untuk menyelamatkan hutan Batang Toru dan ribuan mahluk hidup yang memiliki ketergantungan terhadap kelestariannya. James P Pardede

PostLink: https://apakabarsidimpuan.com/2009/11/selamatkan-hutan-batang-toru/

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*