Sementara Banyak Rakyat \’Gelap-gelapan\’ – Indonesia Malah Jual Listrik ke Malaysia

Jakarta, (Analisa). PT PLN (Persero) akan menjual listrik dari Sumatera kepada Malaysia. Hal ini sangat ironis mengingat masih ada 66 juta lebih penduduk Indonesia belum tersambung listrik.

Demikian disampaikan oleh Direktur Pengkajian Energi, Universitas Indonesia, Iwa Garniwa di kantor Ditjen Listrik, Jalan Rasuna Said, Jakarta, Jumat (20/4)”Ironis kalau kita sampai jual listrik, walaupun terkesan Indonesia hebat sekali bisa menjual listrik. Kenapa? Karena elektrifikasi kita sampai saat ini masih 70% atau 72% versi Ditjen Kelistrikan,” kata Iwa.

Menurut Iwa, dari hitung-hitungan tersebut berarti masih ada sekitar 66 juta penduduk lebih yang rumahnya belum teraliri listrik.

“Sangat naif sekali kalau ada puluhan juta penduduk Indonesia belum mendapatkan listrik sementara kita begitu sombong ekspor listrik ke negara lain,” ujar Iwa.

Menurutnya, meskipun nantinya listrik di Sumatera bakal berlebihan, lebih baik listrik tersebut ditransfer ke daerah lain, ketimbang dijual ke negara lain.

Iwa juga agak menyentik soal rencana PLN yang mengimpor listrik dari Malaysia untuk keperluan pelanggan di Kalimantan. Meskipun Iwa tak keberatan jika harga belinya murah.

“Tidak masalah (impor listrik), memang terlihat kok rendahnya kita. Kok listrik aja kita harus impor, namun selama harganya jauh lebih murah, tidak masalah, cadangan listrik kita simpan sebanyak-banyaknya. Seperti China dan Amerika mereka beli listrik dari negara lain sementara mereka menumpuk cadangan energi sebanyak-banyaknya,” tutur Iwa.

Baca Juga :  Ini 50 Orang Terkaya di Indonesia Tahun 2015

“Apalagi jika dapat listrik murah, kita bisa menghasilkan produk yang jauh lebih murah artinya ada nilai tambah. Asal tahu saja, setiap kita produksi satu produk itu biayanya 3 kali lipat dibandingkan kalau Jepang buat barang yang sama.

Intinya kita beli listrik itu gunanya sebagai infrastruktur yang akan membangkitkan perekonomian kita bukan merendahkan,” ucapnya.

Seperti diketahui dengan keluarnya Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2012 Tentang jual beli Tenaga Listrik Lintas Negara, PLN sudah merencanakan pembangunan jaringan tenaga listrik lintas negara Sumatera-Peninsular Interconnection Project yang direncanakan pada Oktober 2017.

Proyek tersebut diproyeksikan untuk menjual listrik ke Malaysia dengan beberapa persyaratan salah satunya di daerah tersebut tidak kekurangan lagi pasokan listrik.

Listrik M’sia Rp.810/Kwh, PLN Rp.3.000

Mulai 2015, PT PLN (Persero) berencana untuk mengimpor listrik dari Malaysia untuk kebutuhan pelanggan PLN di Kalimantan. Ternyata listrik asal Malaysia jauh lebih murah.

Direktur Perencanaan dan Manajemen Risiko PLN, Murtaqi Syamsuddin mengatakan listrik yang bakal dibeli PLN dari Malaysia jauh lebih murah. Listrik Malaysia harganya 9 sen (Rp 810) per Kwh.

PLN berencana untuk membeli listrik dari Malaysia selama 5 tahun pada kontrak awalnya. Pembelian listrik dari Malaysia ini dilakukan untuk kebutuhan pelanggan di Kalimantan dan bisa memperkuat cadangan listrik PLN.

“Pembelian listrik juga berguna untuk memperkuat cadangan kami, sehingga pada saat peak bisa sangat membantu. kalau bisa hari ini beli, harganya mungkin sekitar 9 sen per kwh sementara kalau kita produksi saat ini Rp 3.000 per kwh, jauh perbedaannya,” jelas Murtaqi di kantor Ditjen Listrik, Jalan Rasuna Said, Jakarta, Jumat (20/4).

Baca Juga :  Resmi ambil alih Inalum, pemerintah masih utang ke Jepang

Sebelumnya, Dirjen Listrik Kementerian ESDM Djarman menjelaskan saat ini kebutuhan listrik di daerah perbatasan cukup besar. Jadi PLN boleh mengimpor listrik asalkan sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 42 Tahun 2012 soal jual-beli listrik.

Rencananya PLN akan mulai mengimpor listrik dari Malaysia pada 2015. Saat ini jaringan untuk mengimpor listrik dari Sarawak sedang disiapkan.

PLN mengimpor listrik dari Sarawak karena selain lokasi dekat, harga listrik dari daerah tersebut juga lebih murah. Pemerintah yakin, bila proses pembelian ini terealisasi, bisa menghemat biaya operasional.

“Harganya lebih murah. Di daerah Kalimantan dan perbatasan sekitarnya yang dekat Malaysia butuh suplai listrik karena rata-rata masih menggunakan BBM fosil,” ujar Jarman.

Jarman menambahkan, saat ini pasca terbitnya PP Nomor 42/2012, baru daerah Kalimantan Barat yang melakukan proses pembelian listrik. Namun, pemerintah masih tetap mengupayakan daerah perbatasan lain bila kekurangan pasokan listrik. (dtc)

analisadaily.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 7 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*