Sengketa Pilkada Madina – Penerima Voucher dari Calon ‘Nyanyi’ di MK

Sidang lanjutan perkara sengketa pemilukada Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumut, di gedung Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta, Selasa (29/6) agendanya masih mendengarkan keterangan saksi-saksi. Sejumlah saksi yang dihadirkan pihak pemohon, yakni pasangan H.Indra Porkas Lubis-H.Firdaus Nasution, merupakan warga penerima voucher senilai Rp150 ribu yang disebutkan berasal dari tim sukses pasangan HM Hidayat Batubara-H.Dahlan Hasan Nasution.

Sebagian saksi yang lain merupakan warga yang pernah direkrut sebagai koordinator desa (sekdes) yang bertugas mendata relawan yang bakal mendapat jatah voucher. Pencetak lembaran Surat Keputusan (SK) dan voucher yang perusahaannya ada di Medan, juga ikut ‘nyanyi’. SK berupa selembar kertas, yang bagian bawahnya tertempel tiga voucher, yang nilainya masing-masing Rp20 ribu, Rp50 ribu, dan Rp100 ribu, yang dicairkan secara bertahap dalam tiga bulan.

Zulkarnaen Matondang, pemilik perusahaan percetakan yang mencetak SK dan voucher itu, memberikan kesaksian bahwa benar dia telah mendapat orderan limpahan dari sebuah perusahaan percetakan yang ada di Penyabungan. Proses pencetakan dilakukan dalam tiga tahap. Tahap pertama mencetak 120.000 SK, tahap kedua 30.000 SK untuk Sayap Ivan, dan 150.000 SK revisi.

Saat ketua hakim MK Akil Mochtar bertanya, apakah dirinya sempat bertanya kepada pengorder untuk apa SK-SK itu, dengan enteng pria yang sudah terlihat tua itu menjawab,” Saya hanya cari makan untuk anak istri Pak.” Akil pun berseloroh,” Sama lah, saya sidang di sini juga untuk makan anak istri.”

Baca Juga :  Terkait Putusan MA Nomor 89 dan 58 - Bupati Madina Diminta Taat Hukum

Zulkarnaen juga tak mau memberitahu saat Akil bertanya berapa harga cetak per lembarnya. “Rahasia perusahaan Pak. Datang saja ke Medan,” ujar Zul. Akil pun tersenyum.

Sejumlah saksi yang memberikan keterangan hampir seragam antara lain Syamsir Nasution, Chaerudin, dan Abdul Rahman. Ketiganya merupakan warga biasa yang menerima atau menyaksikan adanya pembagian voucher.  Chaerudin, warga Simangambat, mengaku dirinya sudah dimintai keterangan Panwaslu Kabupaten Madina, karena menyaksikan pria bernama Bustanul Arifin, warga dari Kecamatan Barumun, Palas, yang membagi-bagikan uang pencairan voucher di rumah warga bernama Gusnar.

Lain lagi kesaksian Asri Siregar, warga kecamatan Simangambat. Dia cerita diminta oleh Erwin untuk jadi Kordes Tim relawan bentukan HM Hidayat Batubara-H.Dahlan Hasan Nasution. “Saya sudah mendata 200 lebih,” ujar pria muda yang mengaku sudah menerima honor sebagai timses sebesar Rp263.000 itu.

Sumber: http://www.jpnn.com/index.php?mib=berita.detail&id=66871

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

18 Komentar

  1. memang rakyat madina meilih bukan krn vouchernya, tetapi karena duit yang Rp. 150rb setelah vouchernya ditukarin. Kok bengak amat sih … jilat terusss si orang kaya bodoh itu

  2. jngan menilai orang tu dari voucher za..
    mungkin rakyat madina memilih dia bukan karna vouchernya,,
    tp mungkin dia yakin bawahsannya kandidat no.6 itu lebih efektif dan lebih di percaya membangun madina yang sejatera
    kita jangan menyalakan sepihak karena dia curang dengan membagikan “voucher”
    tp kita lihat diri kita pa udah bersih dan bisa memanjukan madina seperti yang di harap kan masyarakat madina…

    sudah lah apa pun ke putusan MK itu di terima jah ..
    biar pasangan no.6 ikut kembali dalam pilkada ulang lagi,,,,
    dan di situ kita nilai masyarakat apa ka masih memili pasangan no.6 atau tidak…

    jangan menjelek kan orang dengan kesalahanya ,,
    tp lihat diri kita apa kita udh bersih atau belum

  3. Pilkada diulang kalau no.6 tetap ikut hasilnya sama saja, kan sudah ada money politicnya ya tetap no6 yg terpilih, kecuali voucher2 yg dibagikan itu di minta lagi uangnya kepada masyarakat yang menerima … baru no.6 boleh ikut … Itu namanya baru Fair, kalo ngak gitu namanya pilkada akal2an dong cuma molor waktu aja

  4. “Kami siap jihad bela HB ….” kata si bodoh, klo jihad yg kalian maksud BERSUNGGUH2 ya iyalah kalian kan udah dibayar … dah diboking … laksanakan dong … jilat n angkat telor si org kaya itu… ntar dpt voucher lagi men … Tapi klo maksudnya JIHAD ya mestinya ngaca donk … no. 1-7 itu bkn musuh, mrk sesama muslim sm2 anak Madina, klo mau jihad ke sono Palestina … brani gak ? jgn adu domba pk2 agama deh… kayak dajjal aja luh.

  5. Seharusnya ambil saja duitnya tapi jangan pilih mereka. biar kapok!!. mau 500 M pun dibagi sama balon bupati tetap aja gak bisa duduk jadi BB 1. Atau yg lebih bagus lagi jangan trima duitnya (pemilih cerdas), masa’ harga diri anda di beli ,jangan2 harga diri anda lebih murah dari harga seekor monyet (bodat) yang udah bisa manjat kelapa>>> .MARI KITA RENUNGKAN BERSAMA !!!
    SAYA SANGAT SETUJU DENGAN KOMEN PARMALIM.

  6. Buat HARAPAN BERSAMA … membangun Madina itu bukan hrs jadi BB1R, anda punya finansial yg cukup, bangun saja Madina, lakukan investasi, tumbuhkan ekonomi, daripada bagi2 ikan lebih baik kasi pancingnya … Anda akan dikenang sebagai Pahlawan dan Malaikat Madina di hati rakyat, bkn sekedar Bupati

  7. Kabarnya si pemenang yg gak jadi itu masih siap kok satu putaran pilkada lagi, bahkan berputar2 pun sampe pusing … 70M dah disiapkan, moga2 masih dapat voucher lagi

  8. Salut sama MK, say no to money politic …. PILKADA MADINA DIULANG…. yg ketangkap di MK ikut maen juga .. ya.. sama aja ntar dia menag lagi dong karena pengaruh obat (voucher) kemaren masih terasa sampe ke bilik suara, Kenapa gak diskualifikasi aja sich … biar tetap fair mainnya

  9. ha ha punya uang tapi tdk pake strategi (kurang pake otak) gini jadinya siapa yg penasehat nya hrs tgjwb uang dah habis tapi kalah Di MK hasihan deh Loe,, pake voucher dan SK hah ketahuan donk,, kan ada jejaknya.. ini strateginya terlalu pintar jadi pintar-pintaran ketahuan deh

  10. Aduh, kasian kali masyarakat madina seandainya pemimpinnya suka main curang..
    kapan madina bisa maju?? semua yang banyak uang bisa jadi pemimpin..
    seandai nya yang punya uang itu bukan warga madina.., apakah masyarakat madina bisa menerima??

    Yah, semoga saja madina memiliki pemimpin yang tidak curang untuk mendapatkan kursi Madina 1..
    Ayo buka mata buka telinga… Lawan Politik Uang dan Kecurangan di Madina yang di cintai…

  11. JGNKAN TANDA TANGAN DI SPANDUK 1KM, 1500 KM PUN BISA DI BUAT, TINGGAL BAGIKAN VOUCHER TULIS NAMA … EN … TEKEN… TEKEN…. JENDERAL

  12. Ini pembelajaran yg sangat mahal ,,,, klo rumus mrk itu 150.000 x Rp.150.000 = Rp22milyar = Bupati Madina 2010-2015 Gool… Pilkada mendatang David Beckham bisa terpilih dong jd Bupati Madina krn punya ratusan milyar. Dan si Ucok dan si Lian dpt jabatan penonton sepak bola terbaik di warung kopi sambil pasang taruhan

  13. Madina … serambi mekah …. money politic …. Sungguh memalukan … ini membuktikan tdk ada figur calon bupati madina yg berkenan di hati rakyat yg ada hanya voucher …. voucher …. dan voucher …. klo ada MALING TERIAK MALING … jgn pula MALING YG DITERIAKIN DIBERNARKAN karena lbh byk Rpnya. Dua2 mesti di sikat habis … Dengan semangat jihat mengusir penjajah dulu gitu lho …. ” Ingatlah hai manusia … seseorang pemimpin yg naik dari kecurangan akan senatiasa berbuat curang ” …. Kasihan RAKYATKU … bodohnya dirimu tergadaikan

  14. Memang berat dan pahit … kita warga Madina adlah masyarakat yg religius yg memusatkan segalanya kepada pertolongan Allah SWT, jadi … untuk tujuan yg baik siapapun tdk boleh main curang, pembohongan, dan penipuan dlm pilkada termasuk money politik, kalau di Aceh ada tsunami … di Madina akan ada apa, jd tidk ada pembenaran utk kecurangan2 ini

  15. betul juga bunyi spanduk pendukung hidayat – dahlan,padahal hampir semua calon juga main money politik…..arinya ada yang tidak siap menang dan tidak siap kalah.

  16. Maling teriak maling…..!!!
    yg korban rakyat jelata…..!!!
    Ratusan ribu tanda tangan pendukung HM.HIDAYAT BATUBARA terbentang pada spanduk 1 KM mulai dari Pasar Lama sampai Kelurahan Sipolu-polu.
    Ini menandakan masyarakat mendukung perubahan tnpa mengharap imbalan uang.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*