Sepanjang 2010 Kekerasan terhadap Anak di Sumut Sangat Memprihatinkan

Kondisi anak di Indonesia khususnya di Sumatera Utara sampai dengan penghujung Desember 2010 masih memprihatikan. Data yang dilansir dari berbagai media dan kasus-kasus ditangani Yayasan Pusaka Indonesia menunjukan, setidaknya ada 202 korban kekerasan terhadap anak sepanjang Januari hingga Desember 2010.

Ironisnya, menurut Ketua Badan Pengurus Yayasan Pusaka Indonesia, Edy Ikhsan dalam siaran persnya kepada Analisa, Selasa (21/12) kasus tindak kekerasan terhadap anak di Indonesia justru lebih banyak dilakukan oleh orang terdekat anak, yakni yang diakukan tetangga sebanyak 32 korban. Tentu hal itu harus dijadikan warning bagi para orang tua agar tidak kecolongan dalam mengawasi anaknya. Sebab, lingkungan keluarga yang selama ini kita harapkan bisa memanusiakan anak.

Dari 202 korban tersebut kasus pencabulan menempati urutan pertama 77 korban, menyusul berikutya penganiayaan (55), pemerkosan (27), incest (16), pembunuhan (13) dan sodomi (10), Jika dirata-ratakan dari bulan Januari – Desember setiap bulan 17 korban terjadi kekerasan terhadap anak.

Usia anak yang menjadi korban tersebut bergerak dari 4 tahun sampai 18 tahun. Namun yang paling dominan menjadi korban adalah mereka-mereka yang berusia 13 s/d 18 tahun (126 korban).

Kota Medan merupakan korban terbesar mencapai 56 Korban, 34 kasus di antaranya merupakan korban pencabulan dan penganiayaan. Disusul Langkat (22) dan Kabupaten Deli Serdang (17).

Edy Ikhsan, MA didampingi Koordinator Divisi Litigasi, Elisabeth Juniarti SH dan Deputi Badan Pengurus, Prawoto menjelaskan, banyak dampak negatif yang ditanggung anak korban kekerasan. Bahkan harus ditanggung seumur hidupnya. “Kekerasan membuat anak tidak percaya diri, juga pemurung. Lebih parahnya, korban kekerasan bisa menjadi pelaku kekerasan,” katanya,

Baca Juga :  Sosialisasi Penyebaran Informasi SMK Sekaligus Foto Bersama Dengan Kabid Dikmenti Propinsi Sumut

Implementasi UU 23/2002

Amanat pasal 20 UU Perlindungan Anak No. 23 Tahun 2002, secara jelas menyebutkan bahwa negara, pemerintah, masyarakat, keluarga dan orang tua berkewajiban dan bertanggungjawab terhadap penyelenggaraan perlindungan anak. Oleh karena itu, guna mewujudkan gerakan peduli terhadap korban kekerasan terhadap anak di tengah-tengah kehidupan masyarakat bangsa dan negara, Yayasan Pusaka Indonesia mengajak seluruh komponen bangsa untuk mengimplementasikan  hal ini  dimulai dari lingkungan terkecil keluarga, orang tua, dan pemerintah sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya, kata Prawoto.

Elysabeth tidak memungkiri kasus-kasus ini diprediksi akan semakin membengkak di masa yang akan datang, mengingat persoalan kemiskinan, penegakan hukum yang masih cukup lemah, lingkungan anak dan tidak adanya kontrol terhadap kebebasan media elektronik.” ujar Ely.

Selain itu Ia juga mengakui faktor teknologi dunia maya (internet) sepertinya ikut memberi andil terjadinya pelbagai kasus pencabulan, terutama pelakunya dari kalangan remaja, Untuk itu ujar Ely, hal yang sangat penting adalah sikap negara atau pemerintah untuk komit terhadap perlindungan hak anak, sesuai yang dimandatkan oleh Konvensi Hak Anak dan UU Perlindungan Anak, ujarnya. (rrs)-analisadaili.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  7 Kecamatan di Karo Diselimuti Abu

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*